Tradisi Kungkum di Tugu Suharto Menurut Islam

Tradisi Kungkum di Tugu Suharto Menurut Islam
SEMARANG, Islamcendekia.com - Tiap malam 1 Suro atau 1 Muharram, kawasan jembatan Tugu Suharto, Kelurahan Bendan Dhuwur, Gajahmungkur, Kota Semarang selalu ramai orang “kungkum” merayakan Suronan. Ada sebagian kalangan budayawan memaknai hal itu merupakan ritual sakral menyambut tahun baru. Sebagian pecinta mistisme, hal itu mengandung nilai mitos yang sangat tinggi. lalu, bagaimana tradisi kungkum di Tugu Suharto menurut Islam?

Tradisi kungkum Suronan di sepanjang jembatan Sungai Tugu Suharto sudah menjadi tradisi warga setempat.  Menurut Nyamin, warga Bendan Dhuwur, tradisi tersebut sudah dilakukan warga Semarang sejak ia masih muda. “Sejak dulu tradisi ini sudah dikerjakan warga sebagai sarana membersihkan diri,” ujarnya pada Islamcendeka.com, (24/10/2014).

Saya memaknai kungkum di Tugu Suharto ini, lanjut Nyamin, sebagai sarana masyarakat Jawa untuk membersihkan diri dari beberapa kotoran rohani dan jasmani. “Jadi, hukumnya sah-sah saja”, tutur Nyamin yang sehari-hari bekerja menjadi sopir tersebut.

Senada dengan itu, Farid, warga Sampangan mengatakan budaya kungkun di Tugu Suharto sudah dilakukan warga Semarang sejak ia kecil. “Menurut Saya budaya kungkum ini bukan sirik ya, karena ini budaya untuk menyucikan badan dari kotoran. Jadi tidak ada hubungannya dengan sirik,” tutur bapak yang memiliki satu anak tersebut.

Farid, selaku warga Sampangan menyatakan biasanya kungkum dilakukan pada malam hari saat malam 1 Suro. “Kungkum di area Tugu Suharto tidak seramai dulu. Karena saat Saya masih kecil, hampir semua kalangan melakukan kungkum. Tapi saat ini hanya dilakukan orang-orang tertentu,” tutur bapak yang tinggal di jalan Sampangan Utara itu.

Lalu, bagaimana Tradisi Kungkum di Tugu Suharto Menurut Islam?

Secara sederhana, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menyatakan sebagai orang Jawa yang beragama Islam, kita tidak boleh kehilangan Jawa kita. Menurut Cak Nun, sebagai orang Jawa kita harus melestarikan budaya Jawa, dengan tetap menjalankan ajaran Islam dan mengoleh budaya Barat. “Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat”. Demikian yang dikatakan Cak Nun untuk menjaga kelestarian budaya Jawa.

Sebagai pemerhati psikologi, Nailul Mukorobin, staf pengajar psikologi agama FIP Unnes mengatakan tradisi kungkum merupakana budaya Jawa yang harus dilestarikan. “Ini kan fenomena tradisi, budaya, kebiasaan, jadi tidak ada urusannya dengan Islam,” ujarnya pada Islamcendekia.com.

Budaya kungkum di Tugu Suharto, kata Nailul, bukan masalah agama melainkan masalah budaya. “Mau mandi dengan cara apa pun, kalau diniatkan ibadah, membersihkan diri, justru kungkum menjadi sarana ibadah. Tapi kalau diniatkan untuk hal-hal selain tidak karena Allah, maka kungkum menjadi tidak boleh,” ujarnya.

Semua amal, kata Nailul, kan bergantung pada niat. “Kalau niat kungkum untuk membersihkan diri dari dosa ya bagus. Wong air, sungai itu juga ciptaan Allah. Jadi, hal itu sah-sah saja dan boleh asal tujuan dan niatnya baik dan dilakukan karena Allah,” papar Dia.

Senada dengan hal itu, Abdillah Munir, sarjana hukum Islam lulusan IAN Walisongo Semarang mengatakan mau kungkum atau tidak itu boleh dan sah-sah saja. “Yang tidak boleh itu melakukan kungkum untuk tujuan jahat. Kalau kungkum untuk membersihkan badan dan dilakukan karena Allah, hal itu tentu boleh. Alquran memberi rambu-rambu kepada pemeluk Islam untuk melakukan sesuatu apa saja, asal tidak melanggar hukum Allah,” ujarnya pada Islamcendekia.com.

Sebenarnya, tradisi unik malam1 Suro tidak hanya di Semarang, namun juga di Solo, Jogjakarta, Kudus, Demak dan sebagainya. Bisa ditarik simpulan, semua tradisi Jawa boleh, yang penting kejerniah niat untuk melakukan perbaikan pada hati, pikiran dan perbuatan dalam rangka beribadah kepada Allah. Karena ibadah dalam Islam terbagi atas mahdah dan muamalah.

“Jadi, apa pun budaya itu, asal dilakukan dengan niat beribadah kepada Allah, maka akan mendapat pahala, termasuk kungkum,” ujar Munir. Karena ibadah itu, katanya, bisa dilakukan dengan apa saja, seperti memberi air pada orang haus, membantu orang yang kena hutang, membersihkan diri dengan kungkum dan sebagainya.

Kenapa peringatan tahun baru Islam di Jawa yang bertepatan dengan malam 1 Suro begitu kental dengan mitos, keyakinan, dan hal-hal yang berbau mistis sehingga banyak disambut dan dirayakan dengan ritual-ritual khas Jawa? Apa sebetulnya arti, makna dan sejarah tahun baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro menurut Islam? Baca selanjutnya: Arti dan Makna Tahun Baru Islam Hijriah

Laporan khas Tahun Baru Islam Islamcendekia.com

0 Response to "Tradisi Kungkum di Tugu Suharto Menurut Islam"

Post a Comment