Harta Warisan Orang Banci (Al Khuntsaa Musykil) menurut Fiqih Mawaris

Harta warisan orang banci (Al khuntsaa musykil) menurut fiqih mawaris secara singkat bisa dikatakan harus terlebih dahulu melalui proses penegasan jenis kelamin. Dalam banyak makalah harta warisan orang banci (al khuntsa musyikil) lengkap dibahas pengertian, kriteria dan bagaimana pembagian harta waris untuk orang banci.

Pengertian banci adalah orang banci (alkhuntsaa) menurut bahasa diamil dari kata-kata “alkhanats” artinya lemah gemulai. Disebutkan : “khonatsa” dan “takhonnatsa”, artinya omongannya seperti omongan orang perempuan atau berjalannya dan pakaiannya seperti orang perempuan. Di dalam hadits, Nabi bersabda:

“Allah melaknat orang-orang pria yang menyamai wanita dan/atau wanita yang menyerupai pria.”

Pengertian banci menurut istilah ialah orang yang mempunyai alat laki-laki dan alat perempuan, atau tidak mempunyai alat sama sekali baik alat perempuan atau alat laki-laki. Di dalam hal ini persoalannya menjadi kabur. Apakah mereka itu laki-laki atau perempuan. Maka disebut khuntsa musykil (banci yang meragukan).

Disebut musykil, sebab menurut aslinya, manusia itu laki-laki atau perempuan. Tiap laki-laki atau perempuan mempunyai hukum sendiri-sendiri dan laki-laki berbeda dengan perempuan sebab mempunyai alat laki-laki. Bila terdapat dua alat atau tidak ada sama sekali, maka timbullah keraguan dan masalahnya menjadi kabur.

Kecuali pada suatu ketika, memang meragukan itu bisa hilang, seperti diketahuinya tempat keluarnya kencing. Bila kencingnya dari bagian laki-laki, maka hukumnya laki-laki dan mendapat warisan sebagai orang laki-laki. Dan bila kencingnya dari bagian perempuan maka hukumnya perempuan dan mewarisi sebagai perempuan.

Tetapi bila kencingnya dari kedua-duanya dan tidak diketahui mana yang keluar lebih dahulu, maka ia disebut khuntsaa musykil sampai menginjak usia baligh. Kemudian sesudah baligh, apabila mimpi seperti mimpinya orang laki-laki (terhadap orang perempuan) atau lebih menyukai perempuan, atau tumbuh kumisnya, maka dia adalah lelaki. Bila tumbuh payudaranya, atau datang bulan, atau hamil, maka dia perempuan. Bila tanda-tanda ini tidak muncul, maka ia tetap sebagai khuntsaa musykil (banci yang meragukan).

Khunsa berasal dari akar kata al-khans, jamaknya al-khunasa artinya lembut atau pecah. Yang dimaksud al-khunsa secara terminologis adalah orang yang memiliki alat kelamin Laki-lakidan perempuan sekaligus, atau tidak memiliki alat kelamin sama sekali.

Muslich Muruzi mendefinisikan al-khunsa adalah orang yang diragukan jenis kelaminnya apakah ia laki-laki ataukah perempuan. Karena kalau dikatakan laki-laki ia mirip perempuan, tetapi kalau dinyatakan perempuan ia mirip laki-laki. Istilah yang sering dipakai adalah wadam (wanita-adam), atau waria (wanita-pria) atau gay.

Sebetulnya wadam (istilah yang merujuk pada wanita dan adam) dan waria yang merupakan singkatan dari wanita dan pria. Terma waria dan wadam bukan selalu sama. Karena istilah waria dan wadam sehingga hal ini memberikan petunjuk bahwa secara fisik mereka merupakan pria, tetapi mungkin saja secara psikis adalah wanita.

Boleh jadi secara hormonal, bentuk fisik dan tampilan serupa dengan wanita atau perempuan. Sementara itu, arti makna khutsa adalah tidak jelas kelaminnya, apakah kelamin ganda atau justru malah tidak punya jenis kelamin sendiri.

Pada dasarnya untuk menetapkan berapa bagian yang harus diterima orang banci (khunsa) apabila dimungkinkan adalah mencari kejelasan status dan jenis kelaminnya. Tetapi apabila sulit menentukan statusnya, indikasi fisiklah yang dipedomani, bukan gejala-gejala psikis atau kejiwaannya.

Hal ini didasarkan pada jawaban Nabi SAW ketika beliau menimang anak banci orang ansar dan ditanya tentang hak warisnya. Kata beliau: “Berikanlah anak khunsa ini (seperti bagian anak laki-laki atau perempuan) mengingat alat kelamin mana yang pertama kali digunakan buang air kecil”.

Demikian harta warisan orang banci (Al khuntsaa musykil) menurut fiqih mawaris yang bisa dijadikan makalah lengkap untuk memenuhi tugas kuliah di perguruan tinggi islam, seperti sekolah tinggi agama islam (STAI), institut agama islam negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN).

0 Response to "Harta Warisan Orang Banci (Al Khuntsaa Musykil) menurut Fiqih Mawaris"

Post a Comment