Makna Hari Asyura di Mata Kaum Muslimin

Oleh Najmudin Adin
Makna Hari Asyura di Mata Kaum Muslimin

Makna hari asyura di mata kaum muslimin sangatlah penting. Dalam periode setahun, kehidupan umat muslim terdapat beberapa waktu yang dianggap khusus dan spesial. Keistimewaan tersebut adakalanya disebabkan oleh peristiwa yang terjadi pada waktu lampau, contohnya hijrah Rasululullah Muhammad Saw menuju Madinah yang diperingati sebagai tahun baru islam (tahun hijriyah).

Sementara itu, hari ke dua belas bulan Rabiul Awwal yang diperingati oleh segenap muslim sebagai tahun kelahiran Nabi. Adakalanya juga keistimewaan itu terjadi karena wahyu atau sunnah Nabi. Contohnya adalah kemuliaan bulan Ramadhan yang pada waktu itu al-qur’an diturunkan sebagai petunjuk.

Termasuk waktu yang dianggap istimewa oleh umat muslim adalah hari Asyura. Hari asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram. Pada hari ini umat muslim disunnahkan untuk berpuasa sunnah berdasarkan hadits Nabi. Dalam beberapa kitab hadits maupun fiqih dijelaskan bahwa fenomena puasa asyura ini bukan hanya menjadi taqarrub kaum muslimin bahkan kaum Yahudi juga ikut berpuasa pada hari tersebut.

Dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa bagi kaum Yahudi satu kali dalam setahun, yaitu pada hari ‘asyura-hari kesepuluh bulan Muharram-(Sayyid al-Bakriy). Dalam riwayat yang lain juga dijelaskan bahwa seusai Rasulullah Saw hijrah ke madinah dan mendapati kaum yahudi berpuasa pada hari ‘asyura dalam rangka menghormati Musa, beliau menyatakan bahwa justru kaum muslim lah yang lebih berhak untuk memuliakan Nabi Musa dengan cara berpuasa.

Hal ini menunjukkan kepada kita betapa agungnya hari ‘asyura itu. Ia bukan saja waktu yang dimuliakan kaum muslim tapi juga oleh kaum Yahudi. Menurut penjelasan sayyid al-Bakri, banyaknya peristiwa penting yang terjadi pada waktu hari ‘asyura, misalnya Nabi Ibrahim diselamatkan dari api,  Taurat diwahyukan kepada Musa as dan Yusuf as dikeluarkan dari penjara.

Maka tak heran apabila yahudi Madinah menyebut hari ‘asyura sebagai yaumun shalih. Setidaknya hari ‘asyura menjadi bukti kedekatan agama islam dan yahudi sebagai agama samawi yang sama-sama diwahyukan oleh Allah swt.

Amalan di hari Asyura
Tidak ada hari baik bagi seorang muslim kecuali hari dimana ia mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah, baik personal maupun sosial. Begitu juga menyangkut hari asyura telah berlaku riwayat hadits dari Rasulullah saw yang menganjurkan memperbanyak ibadah pada hari tersebut. Ibadah yang paling dianjurkan adalah puasa dan memberikan shadaqah.

Berpuasa adalah menahan lapar dan dahaga. Keduanya dimaksudkan untuk mengekang hawa nafsu yang merupakan sumber dari segala perbuata nista dan dosa.  Dengan mengontrol hawa nafsu, kita akan menjadi penguasa diri kita. Dan dengan menguasai diri kita sendiri, tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk mengabdi kepada Allh swt dengan segenap jiwa raga.

Sedangkan shadaqah merupakan simbol kepedulian kita terhadap sesama. Rasulullah bersabda, “Berikanlah shadaqah pada keluarga kalian di hari ‘asyura, sesungguhnya siapa saja yang memberikan shadaqah pada hari tersebut maka Allah akan melapangkan rizki baginya spanjang tahun.”

Beberapa riwayat menyebutkan anjuran untuk mengusap rambut anak yatim. Menurut penulis, kata tersebut bukan berarti hanya mengusap saja, melainkan sebuah metafor untuk lebih menyayangi dan mempedulikan anak yatim. Sehingga shadaqah pada hari ‘asyura dapat diberikan kepada kerabat yang membutuhkan dan anak yatim, atau kepada siapapun dari tetanga kita yang sedang membutuhkan.

Walhasil, itulah dua bentuk ibadah yang paling dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari ‘asyura. Ibadah-ibadah yang lain semisal menghidupkan malam (ihya al-layli), berzikir dengan membaca hasbuna Allah wa ni’ma al-wakil,  dan membaca alqur’an juga tidak ada salahnya dikerjakan pada waktu ini.

Adapun bentuk-bentuk ibadah yang lain misalnya mandi, memakai wangi-wangian, memakai celak mata dan lain lain merupakan hal yang tidak berdasarkan atas riwayat hadits yang shahih. Wallahu a’lam.

0 Response to "Makna Hari Asyura di Mata Kaum Muslimin"

Post a Comment