Mencintai Amanah Sebagai Khalifah di Bumi

Mencintai Amanah Sebagai Khalifah di Bumi
Sudah diketahui bahwa manusia menjadi makhluk Allah Swt yang paling sempurna apabila dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Karena kesempurnaannya tersebut, manusia diberikan kepercayaan Allah sebuah amanah dan tanggung jawab yaitu sebagai khalifah di bumi. Secara singkat, mencintai amanah sebagai khalifah di bumi menjadi salah satu prinsip untuk menempuh jalan kesuksesan di dunia dan akhirat, karena hidup di dunia tak lain adalah sebuah amanah dari Allah Swt.

Oleh Junaidah

Hal ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Al Ahzab ayat 72 yang setidaknya berarti: “Sesungguhnya Kami sudah menawarkan amanah pada langit, bumi serta gunung-gunung, namun semua (makhluk tersebut) tidak mau memikul amanah tersebut karena khawatir (suatu saat) akan mengkhianatinya, maka (amanah tersebut) dipikul oleh manusia. Sebetulnya manusia itu zalim dan bodoh.”

Dari keterangan Al Quran surat Al Ahzab tersebut, Allah telah menetapkan bahwa siapa yang mengambil amanah lalu melaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan meninggikan derajat dan memuliakannya. Sebaliknya, apabila manusia mengabaikan tugasnya, maka azab dan kehinaan Allah akan ditimpakan kepadanya.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia selalu dilibatkan dengan berbagai urusan baik urusan dunia dan urusan akhirat.  Sebagai manusia yang tumbuh dan berkembang untuk menjadi manusisa dewasa melewati berbagai tahapan kehidupan.

Tentunya akan ada tahapan-tahapan yang menjadikan kita mengemban amanah. Seringkali amanah yang diberikan seseorang kepada diri kita tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Hal tersebut mengakibatkan ketidakpercayaan orang yang memberikan amanah. Bukan hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Proses menjalankan amanah terkadang mengalami berbagai hambatan di tengah jalan. Seringkali ketika kita melaksanakan amanah merasa lelah dan bosan. Mungkin pada awalnya telah berkomitmen untuk menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu proses menjalankankannya akan disertai dengan hambatan. Salah satunya adalah lelah, bosan, dan merasa tak sanggup untuk memikulnya. Hal tersebut tentunya akan berdampak terhadap hasilnya yang terkait dengan kepercayaan dan pertanggungjawaban kepada sang pemberi amanah.

Untuk menjalankan amanah agar mendapatkan hasil yang memuaskan, tidak ada cara lagi kecuali mencintainya. Karena dengan mencintai kita tidak akan merasa terpaksa. Sebaliknya, kita akan merasakan ketulusan ketika menjalankannya bukan sebuah keterpaksaan. Kita harus mencintai amanah yang telah diberikan oleh seseorang dengan tulus dan ikhlas baik amanah berat maupun ringan.

Berat ringan kadar amanah yang diberikan tidak menjadi jaminan bahwa amanah yang ringan lebih mudah dikerjakan dari pada amanah yang berat. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana keadaan hati untuk menyikapi amanah tersebut. Sebuah pekerjaan yang kecil jika dilaksanakan dengan hati yang terpaksa tentu hasilnya tidak maksimal.

Namun, sebuah pekerjaan besar yang dilaksanakan dengan hati yang tulus dan ikhlas, maka hasilnya akan optimal dan memuaskan. Seperti halnya amanah yang diemban, seberat apa pun kadar amanah yang diemban jika disikapi dengan hati yang ikhlas maka hasilnya akan memuaskan.

Apapun amanah yang telah diberikan kepada kita cintailah. Karena orang yang telah memberikan kita amanah telah memberikan kepercayaan bahwa kita bisa untuk menyelesaikannya dengan baik. Orang tersebut yakin bahwa kita tidak akan mengecewakannya.

Jadi, jika orang tersebut sudah memberikan kepercayaan untuk kita masihkah kita bermalas-malasan untuk menjalankan amanah atau masihkah kita mengeluh merasa kurang pantas untuk mendapatkan amanah tersebut. Apa pun amanahnya, cintailah karena dengan mencintai akan mendapatkan ketenangan dan mendapatkan hasil yang baik baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Segala sesuatu yang dilakukan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Begitu juga dengan mengemban amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Khususnya pertanggungjawaban kepada Allah swt.

Mengemban amanah memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi dengan mencintainya amanah yang terasa berat tentunya tidak akan menjadi halangan untuk menunaikaanya. Dengan mencintai amanah, semua yang terasa berat akan terasa ringan karena dilaksanakan dengan hati yang lapang dan tulus. Oleh karena itu, jalankan amanah sebagai sebuah rasa pertanggungjawaban dengan ikhlas dan dengan hati yang lapang agar hasilnya memuaskan.

Dengan mencintai amanah sebagai khalifah di bumi, manusia akan berhasil mengemban tugasnya dengan baik selama hidup di dunia. Amanah sebagai khalifah di bumi tidak akan berhasil apabila tidak dilandasi dengan rasa tulus dan ikhlas. Sementara itu, rasa tulus dan ikhlas bisa diperoleh jika manusia mencintai amanah. Maka, cintailah amanah!

Junaidah,
Mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta

0 Response to "Mencintai Amanah Sebagai Khalifah di Bumi"

Post a Comment