Urgensi Ushul Fiqh dalam Pencarian Hukum

Urgensi ushul fiqh dalam pencarian dan penalaran hukum
Urgensi ushul fiqh dalam pencarian dan penalaran hukum. “Islam merupakan agama yang universal dan komprehensif”. Begitu rangkaian kata yang sering muncul di setiap diskusi ilmiah tentang keislaman. Berbagai argumen muncul untuk menjawab, membela, dan menyangkal setiap pertanyaan yang dilontarkan berbagai kalangan untuk menyerang agama Islam.

Oleh Muhammad Taufik
Pengajar di Pesantren Tahfidzul Quran Imam 'Ashim Depok Jawa Barat; Anggota IMAPA (Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh) Jakarta

Agama yang muncul di tanah gersang jantung Timur Tengah pada abad ke-7 Masehi ini pernah mencapai keemasan pada masa Daulah Bani Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad, Irak. Namun, yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya. Hampir dapat dipastikan, bahwa negara-negara yang kumuh, miskin, tertinggal, dan dilanda berbagai konflik mayoritas beragama Islam. Dari berbagai masalah tersebut muncullah asumsi, bahwa Islam adalah agama yang kolot dan identik dengan ketertinggalan. Kejayaan Islam yang dulu pernah menguasai berbagai sektor di dunia hanya dianggap masa “dark age” oleh para intelek barat.

Lantas, siapa yang salah, Islamkah? Tentu saja bukan Islam yang salah, akan tetapi orang Islam itu sendiri yang terbelenggu kepada ibadah mahdhoh semata, mereka tidak mengetahui dan tidak ingin mengetahui bahwa Islam telah mengatur berbagai persoalan dan berbagai solusi terhadap suatu masalah. Dan semua itu tidak lepas dari peran ilmu ushul fiqh.

Dalam permasalahan kehidupan pasti tidak terlepas dari ekonomi, sosial, dan politik. Dalam Islam sektor-sektor tersebut sudah tertuang dalam Al-Quran dan sunnah dan diturunkan melalui kajian ushul fiqh. Hanya saja pengembangan dan kajiannya saja yang harus diperhatikan secara otensif. Dalam ilmu ushul fiqh terdapat berbagai metode dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan hukum seperti metode istihsan, mashlahah mursalah, `urf, mazhab sahabi, dan lain sebagainya.

Secara definisi ushul fiqh yaitu ilmu yang membahas tentang dalil-dalil fiqih secara global, tentang metodologi penggunaannya, serta membahas tentang kondisi orang-orang yang menggunakannya. Semua itu berhubungan dengan kehidupan umat Islam yang orientasinya kepada dunia dan akhirat.

Dalam memproduksi hukum terhadap suatu permaslahan, ushul fiqih telah merincinya. Misalnya sebelum seseorang menyelesaikan suatu persoalan diharuskan meninjau referensinya terlebih dahulu, kemudian mengolah data dari referensi tersebut sesuai dengan nilai-nilai dan tata cara dalam ilmu ushul fiqh.

Dalam menyelesaikan suatu permasalahan, ushul fikih tidak sembarang dalam menanggapinya. Semua aspeknya ditinjau seperti bagaimana implikasi dari permasalahan tersebut terhadap lingkungan, apakah banyak mashlahah atau mudharatnya, dan lain sebagainya. Selain itu, ushul fiqih juga memandang bagaimana dampak permaslahan tersebut ke depan ibarat “menyediakan payung sebelum hujan”. Kalau permasalahan itu membawa dampak positif, maka itu harus dikedepankan. Proses semacam ini disebut “Sad al-dzarai”. Dalam istilah modern bisa diidentikkan dengan ilmu manajemen.

Permasalahan umat Islam pada era sekarang ini adalah tidak berani melakukan sesuatu, padahal sesuatu tersebut dapat membawa kepada kejayaan. Mereka masih bersembunyi dibalik anggapan takut dosa, bid`ah, menjadi tidak zuhud, dan berbagai alasan lainnya. Anggapan inilah yang harus diluruskan dan ushul fiqh menjadi salah satu solusinya. Sebagai contoh, banyak umat Islam yang alergi pada politik.

Mereka beranggapan politik itu dunia kotor, lumbungnya para mafia, tempatnya para koruptor, dan selangkah menuju neraka. Sekilas anggapan itu memang tidak ada salahnya, akan tetapi perlu diketahui juga bahwa suatu kebijakan diatur melalui politik. Jadi, untuk merancang kebijakan yang baik tentu harus oleh orang yang baik pula. Mau tidak mau orang yang baik harus berkecimpung di dunia politik yang dianggap kotor untuk merealisasikan kebijakan yang baik.

Maka, ushul fikih membahas tentang hukum tentang permaslahan tersebut melalui metode istihsan dan mashlahah mursalah. Lingkungan yang sebelumnya tidak boleh dimasuki menjadi boleh, bahkan harus dimasuki karena ada suatu kepentingan (tujuan mashlahah) bersama. Kalau tidak ditinjau melalui ushul fiqh, permasalahan ini akan menjadi tabu.

Contoh lain dalam konteks syiar Islam misalnya. MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) merupakan ajang lomba seputar Al-Quran yang meliputi Qiraat Quran (bacaan Quran), Hifdzil Quran (hafalan Quran), Fahmil Quran (kepahaman/cerdas cermat Quran), Syarhil Quran (menguraikan Quran dalam bentuk pidato tim/regu), dan lain sebagainya. Sebagian umat Islam berpendapat bahwa MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) adalah haram.

Mereka beranggapan bahwa itu merupakan ajang pamer (riya, sum'ah), sedangkan pamer dilarang dalam Islam. Mereka juga beranggapan bahwa dakwah itu harus dilakukan dengan ikhlas tanpa embel-embel hadiah. Inilah yang diluruskan dalam ushul fiqh melalui metode mashlahah mursalah yang memiliki manfaat lebih besar dibalik anggapan haram tersebut.

Adapun manfaatnya seperti dapat memotivasi orang lain supaya bisa menjadi seperti apa yang ditampilkan oleh peserta MTQ, bertambahnya wawasan tentang Al-Quran melalui sharing antar peserta maupun masukan dari pelatih dan dewan juri serta melahirkan kader yang Qurani. Dari sinilah muncul pahala jariyah (pahala turun-temurun).

Masih banyak contoh lain di bidang ibadah, muamalah, dan lain sebagainya yang tidak mungkin dijelaskan semuanya. Namun setidaknya dapat membuka pikiran kita supaya bijak dalam menyikapi suatu perkara yang menyangkut dengan hukum. Dengan mempelajari ushul fikih membuat seseorang dalam mengambil keputusan dengan sangat bijak dan tidak salah kaprah.

Demikianlah pentingnya/urgensi ushul fiqh dalam penalaran dan pencarian hukum. Dengan semakin banyaknya permasalahan yang ada di era sekarang ini, maka keberadaan dan urgensi ushul fiqh semakin sangat diperlukan untuk mnyimpulkan hukum yang menjadi patokan bagi umat Islam sedunia. Wallahu a'lam bi al-showab.

0 Response to "Urgensi Ushul Fiqh dalam Pencarian Hukum"

Post a Comment