Gili Raja dan Peradabannya

Misbahul Khair
Gili Raja dan peradabannya. Indonesia merupakan negara yang kaya akan pepulauan. Salah satunya adalah pulau Gili Raja. Pulau yang kecil nan indah ini terletak di sebelah selatan pulau Madura. Gili Raja merupakan kepulauan terpencil yang berpenduduk sekitaran 10.000 orang. Pulau ini sangat misterius yang apabila pulau ini dilihat dari arah selatan tidak jauh berbeda dengan buaya, yang terkadang membuat orang pangling, sehingga kalau orang tidak tau bahwa itu pulau maka orang tersebut akan menduga ada seekor buaya yang sangat besar.
Oleh Misbahul Khair,
Mahasiswa penerima besiswa unggulan kampus STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta

Menakjubkan bukan! pulau ini terdiri dari empat desa kalau disebut dari arah barat yaitu, desa Banmaling, desa Jate, desa Banbaru dan desa Lombang. Pulau ini memiliki luas  sekitar 5 km-an. Tentu, berbeda kalau dibandingkan dengan pulau madura secara utuh.

Namun, tak kalah saing dengan pulau-pulau lain. dengan sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai integritas, kredibilitas, senioritas, serta akuntabilitas, mampu membuat mereka sukses diberbagai bidang,  bidang ekonomi, pendidikan, dan dibidang lainnya. Dipulau ini penduduknya mayoritas beragama Islam, bahkan agama-agama lainnya tidak ada. Karena, pulau ini pada zaman dahulu yang pertama kali merawat pulau Gili Raja ialah orang islam dari kota Sumenep.

Pulau Gili Raja pertamanya bukanlah suatu pulau karena pulau Gili Raja pertamanya suatu alas yang menakutkan kemudian datanglah seseorang dari kota Sumenep yang punya keinginan kuat untuk merintis (membuat) pulau namanya yaitu dikenal Agung demang dan Agung labuh kemudian setelah bertahun tahun penduduk pulau ini semakin banyak sehingga terciptalah pepulauan yang dikenal dengan sebutan pulau “GILI RAJA” dan kemudian penduduk pulau Gili Raja ini diisi oleh orang-orang Jawa, orang orang Gilingan, orang orang Madura, orang orang Kangeyan, dan lain-lain disebabkan adanya suatu pernikahan antara orang Gili Raja dengan orang orang tersebut.

Pendidikan di pulau Gili Raja ini tidak kalah saing dengan pulau-pulau lainnya mulai tingkat paud, TK/RA (Raudhatul Athfal), MI (Madrasah Ibtidaiyah) atau SD (Sekolah Dasar), MTS (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah) dan Universitas Universitas tinggi semuanya ada dipulau ini. Dan tokoh tokohnya diantaranya adalah K. Adam .S.P.D.I, Dr.K. Hafid yahya, K. Halim yahya dan lain lain.

Pulau terpencil berkota Sumenep, kecamatan Gili Genting Madura, penduduk pulau Gili Raja ini mayoritas berprofesi nelayan dan ada sebagian yang berdagang diberbagai penjuru diantaranya ada yang berdagang di pulau Jawa, di Jakarta, di Banten, dan lain-lain untuk mencari nafkah istri-istri dan anak-anaknya dengan cara yang halal.

Penduduk pulau ini mayoritas mengedepan akhlaq (etika) ketimbang kecerdasan. Bahkan, penduduk pulau ini mempunyai Prinsip “Ahlaq Lebbi Begus Katembeng kacerdasan” Yang artinya, (Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Dari Pada Kecerdasan) dipulau ini sepintar apapun, secerdas apapun kalau tidak pakek akhlaq (Etika) maka dianggap oleh masyarakat gili raja orang itu tidak mempunyai ilmu sama sekali. Masyarakat pulau gili raja ini pandai dalam bertutur kata dengan lemah lembut, ramah tamah, sopan santun, menghargai tamu.

Jika ada tamu orang Gili Raja pasti menyuguhkan makanan dan mewajibkannya untuk dimakan. Kalau tamu tadi tidak makan maka tuan rumah merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Karena tuan rumah akan menyangka (Menduga) jangan jangan makanannya tidak enak karena tidak di makan. Begitu mulyanya masyarakat yang ada dipulau ini. berbeda dengan Masyarakat  Jakarta yang sampai sekarang ini tetap konsisten dengan pegangannya yaitu “Lu Elu Gue Gue” artinya Masyarakat Jakarta bersifat individualistik sehingga rasa penghormatan, rasa kasihan sudah tidak ada lagi. Penulis bukan so’ so’-an akan tetapi, ini fakta (Realita).

Di antara tradisi yang diimplimentasikan dipulau Gili Raja yaitu tahlilan ketika ada orang mati. Dengan adanya tradisi tahlilan tidak ada tujuan lain melainkan hanya untuk bersilaturrahmi. Alasan ini sangat masuk akal. Karena,  kerabat yang jauh yang asalnya ngk pernah mengunjungi saudaranya. Ketika saudaranya mati maka kerabat tersebut akan mengunjunginya. Ini bukti diantara tujuan adanya tahlilan sebagai bersilaturrahmi dan diantara tradisi yang diimplimentasikan dipulau Gili Raja ini.

Yaitu, istilah maduranya “TENGKA” tengka ini merupakan program nyumbang menyumbang ketika ada cara resepsi pernikahan. Artinya program Tengka ini memberikan pinjaman kepada masyarakat yang sedang membutuhkannya. Pada intinya tradisi-tradisi yang diimplimentasikan oleh masyarakat pulau Gili Raja bersifat kebaikan. Meskipun oleh sebagian kalangangan kelompok tradisi-tradisi semacam itu dianggap bid’ah. Tapi kenyataannya meskipun bid’ah tapi mengandung kebaikan.

Pulau Gili Raja adalah pulau yang sangat menyenangkan karena pelbagai hiburan yang diimplementasikan. Diantaranya, “Thong- Thong”, kerapan sapi, petik laut dan lain-lain. Thong-thong ini semacam karya seni suara yang diirigi sholawatan dan permusikan secara tradisional dan Kerapan sapi ini ialah semacam karya seni yaitu gabungan antara dua sapi yang dihias sebaik mungkin kemudian, dikerap adu cepat. sehingga yang menontonnya sangat berantusias. sedangkan, petik laut ini semacam karya seni yang menakjubkan yaitu sampan (kapal) dihias sebaik mungkin untuk bersenang senang keliling kepelbagai pulau dan sampan yang dihias ini bukan cuman satu saja akan tetapi banyak sampan yang dihias sehingga terlihat indah.

Pulau Gili Raja ini dengan pulau Madura terpisah dengan laut sekitaran 1 jam dari Madura menuju pulau Gili Raja begitupun sebaliknya. Anak anak Gili Raja banyak yang mondok ke Madura demi mengembangkan ilmunya yang telah diperoleh dan biasanya anak anak yang dari pulau Gili Raja ini mampu bersaing dengan teman-temanya. Baik, yang dari kota maupun desa. Dipulau ini tenaga listrik PLN belum sampai.

Akan tetapi, dipulau ini disediakan mesin diesel di belpagai desa sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dalam mencharger HP, Menonton TV. Tapi, sayangnya listrik dipulau ini hanya hidup diwaktu malam dan ada sebagian penduduknya yang memakai tenaga listrik surya untuk dipakek siang harinya. Dari empat desa yang ada dipulau Gili Raja ini hanya ada satu pasar, baik pasar Electronic, Pakaian, Ikan, dan peralatan-peralatan lainya dan pasar ini terletak antara desa Jate, desa Banbaru dan Desa lombang.

Menurut penulis, pemerintah harus ikut berpatisipas agar pulau-pulau yang masih ketinggalan zaman dapat terfasilitasi. Karena, pemerintahlah yang memegang kewenangangan untuk memberikan suatu dana supaya pulau-pulau yang ketinggalan zaman menjadi maju. Pemerintah yang baik ialah pemerintah yang mampu memajukan pulau-pulau yang ketinggalan zaman seperti pulau Gili Raja khususnya yang masih tenaga listrik PLN belum masuk ke dalamnya.

0 Response to "Gili Raja dan Peradabannya"

Post a Comment