Lucu, Pendapat Cak Nun Tentang Media Koran di Indonesia

Lucu, Pendapat Cak Nun Tentang Media Koran di Indonesia
Lucu, pendapat Cak Nun tentang media koran di Indonesia disambut dengan tawa meriah dari jamaah sebuah pengajian peringatan/tasyakuran ulang tahun Kedaulatan Rakyat (KR) di Yogyakarta. Dalam ceramahnya Muhammad Ainun Najib memang acapkali menyisipkan kata-kata lucu yang tidak jarang mengundang tawa jamaahnya.

Kedaulatan rakyat
Koran Kedaulatan Rakyat itu lebih hebat dari koran-koran lain. Arti kedaulatan rakyat merupakan titik teratas dan terbawah dalam kehidupan. Ia berada di bawah karena rakyat. Ia di atas karena sesungguhnya rakyat itu berdaulat di atas pemerintah karena pemerintah itu sejatinya "pelayan rakyat". Karena itu, rakyat harus berdaulat.

Harian Kompas
Kalau Koran Kompas itu kan bisanya cuma muter-muter mencari arah yang profit.

Sinar Harapan
Apalagi koran Sinar Harapan, ia tetap bersinar tapi masih saja berharap saja.

Tempo
Koran Tempo malah lebih ironis. Tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak terbit.

Suara Merdeka
Harian Suara Merdeka lebih parah lagi. Ia merdeka, tetapi suaranya saja. "Ia merdeka, tapi suarane tok," ujar Cak Nun.

Wawasan
Koran Wawasan itu malah sangat kasihan. Setiap hari selalu saja was-was. "Ben dino mung was-wasan terus," kata Cak Nun.

Sontak, parodi Cak Nun mengenai media koran-koran di Indonesia tersebut mendapat tepuk tangan dari para jamaah. Pun, jamaah tahu, pendapat Cak Nun tentang Koran Kedaulatan Rakyat, Kompas, Sinar Harapan, Tempo, Suara Merdeka, dan Wawasan hanya sebatas guyon atau sebagai bahan candaan belaka.

0 Response to "Lucu, Pendapat Cak Nun Tentang Media Koran di Indonesia"

Post a Comment