Makalah Fiqh Mawaris Lengkap Penyelesaian Pembagian Harta Waris

Makalah Fiqh Mawaris Lengkap Penyelesaian Pembagian Harta Waris
Makalah fiqh mawaris lengkap membahas penyelesaian pembagian harta waris ini secara khusus kami persembahkan untuk intelektual dan cendekiawan di kalangan Universitas Islam Negeri (UIN), sekolah tinggi agama Islam (STAI) baik negeri maupun swasta, institut agama islam negeri (IAIN), serta sejumlah kalangan di perguruan tinggi Islam swasta maupun negeri. Bahkan, kalangan profesional yang ingin menjadikan makalah fiqh mawaris lengkap ini sebagai rujukan dalam menyelesaikan sengketa warisan juga diperbolehkan.

Baik, langsung saja kita bahas satu per satu materi atau sub bahasan yang ada dalam makalah fiqih mawaris lengkap yang membahas seputar pembagian harta waris untuk orang hilang, orang banci, tawanan, dan orang non muslim/beda agama atau murtad (keluar dari Islam). Catatan: masing-masing pembahasan dibahas tersendiri, sehingga cukup dengan klik link yang disediakan pada masing-masing rumusan masalah.

Bab 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam keluarga yang sakinah ketika terdapat masalah selalu diselesaikan dengan ajaran Islam. Namun ketika masalah warisan, banyak yang tidak menyelesaikan masalah waris tersebut dengan hokum waris Islam. Padahal sudah jelas dalam Al-Quran dan Hadits tentang pembagian harta warisan.

Pembagian harta warisan tidak semuanya terdapat dalm Al-Quran, seperti tentang khunsa dam munasakhah. Masalah ini diterangkan dalam Hadits tetapi tidak semuanya terdapat dalam Hadits. Masih banyak ulam yang berijtihad untuk memutusakan masalah ini. Sehingga harta warisan bisa dibagikan secara adil. Termasuk masalah khunsa dan munasakhah yang harus diselesaikan dengan baik dan adil.

B.    Rumusan Masalah
1.    bagaimana pembagian warisan orang yang hilang (al-mafqud)?
2.    bagaimana pembagian warisan orang banci (kuntsa musykil), ganti kelamin?
3.    bagaimana pembagian warisan orang tawanan?
4.    bagaimana pembagian warisan orang non-muslim (beda agama), atau murtad (pindah agama)?
 
BAB III Pembahasan
Untuk pembahasan silakan baca masing-masing bahasan pada kesimpulan di bawah ini.

PENUTUP

Kesimpulan

HARTA WARISAN ORANG YANG HILANG (AL-MAFQUD)
Al-Mafqud merupakan orang yang tidak diketahui beritanya karea telah meninggalkan tempat tinggalnya, tidak dikenal domisilinya, dan tidak diketahui apakah ia masih hidup atau sudah mati.  Dalam keadaan yang serba tidak jelas demikian, sudah tentu perlu diambil langkah-langkah untuk mengetahuinya, atau paling tidak menetapkan status hukumnya. Apakah melalui pengumuman pada media massa atau melalui cara lain.

Dalam konteks pewarisan, al-mafqud dapat berperan sebagai muwarris apabila ternyata dalam kepergiannya meninggalkan harta sementara ahli waris lain bermaksud memanfaatkannya. Dapat juga bertindak sebagai ahli waris, manakala ada saudaranya yang meninggal dunia. Kajian lebih lanjut, silakan baca makalah fikih mawaris di bawah ini:

HARTA WARISAN ORANG BANCI (AL-KHUNTSAA MUSYKIL)
Di dalam hadits, Nabi bersabda: “Allah melaknati orang-orang yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” Pengertian banci menurut istilah ialah orang yang mempunyai alat laki-laki dan alat perempuan, atau tidak mempunyai alat sama sekali baik alat perempuan atau alat laki-laki. Di dalam hal ini persoalannya menjadi kabur. Apakah mereka itu laki-laki atau perempuan.Maka disebut khuntsa musykil (banci yang meragukan).

Disebut musykil, sebab menurut aslinya, manusia itu laki-laki atau perempuan. Tiap laki-laki atau perempuan mempunyai hukum sendiri-sendiri dan laki-laki berbeda dengan perempuan sebab mempunyai alat laki-laki. Bila terdapat dua alat atau tidak ada sama sekali, maka timbullah keraguan dan masalahnya menjadi kabur.

Kecuali pada suatu ketika, memang meragukan itu bisa hilang, seperti diketahuinya tempat keluarnya kencing. Bila kencingnya dari bagian laki-laki, maka hukumnya laki-laki dan mendapat warisan sebagai orang laki-laki. Dan bila kencingnya dari bagian perempuan maka hukumnya perempuan dan mewarisi sebagai perempuan.

Tetapi bila kencingnya dari kedua-duanya dan tidak diketahui mana yang keluar lebih dahulu, maka ia disebut khuntsaa musykil sampai menginjak usia baligh. Kemudian sesudah baligh, apabila mimpi seperti mimpinya orang laki-laki (terhadap orang perempuan) atau lebih menyukai perempuan, atau tumbuh kumisnya, maka dia adalah lelaki. Bila tumbuh payudaranya, atau datang bulan, atau hamil, maka dia perempuan. Bila tanda-tanda ini tidak muncul, maka ia tetap sebagai khuntsaa musykil (banci yang meragukan).

Muslich Muruzi mendefinisikan al-khunsa adalah orang yang diragukan jenis kelaminnya apakah ia laki-laki ataukah perempuan. Karena kalau dikatakan laki-laki ia mirip perempuan, tetapi kalau dinyatakan perempuan ia mirip laki-laki. Istilah yang sering dipakai adalah wadam (wanita-adam), atau waria (wanita-pria) atau gay.

Sebenarnya ada istilah wadam atau waria tidak selalu identik atau sama dengan yang dimaksud dengan al-khunsa al-musykil. Karena penyebutan wadam atau waria, asosiasinya menunjukkan bahwa mereka secara fisik adalah laki-laki, hanya mungkin secara kejiwaan (psikologis), atau mungkin segi hormonal, penampilannya seperti perempuan. Sementara al-khunsa al-musykil memang tidak jelas kelaminnya, baik karena berkelamin ganda atau tidak berkelamin sama sekali.

Pada dasarnya untuk menetapkan berapa bagian yang harus diterima orang banci (khunsa) apabila dimungkinkan adalah mencari kejelasan status dan jenis kelaminnya. Tetapi apabila sulit menentukan statusnya, indikasi fisiklah yang dipedomani, bukan gejala-gejala psikis atau kejiwaannya.

Hal ini didasarkan pada jawaban Nabi SAW ketika beliau menimang anak banci orang ansar dan ditanya tentang hak warisnya. Kata beliau: “Berikanlah anak khunsa ini (seperti bagian anak laki-laki atau perempuan) mengingat alat kelamin mana yang pertama kali digunakan buang air kecil”.

HARTA WARISAN ORANG YANG DALAM TAWANAN
Tawanan, apabila jelas diketahui alamat domisilinya dan status hidup atau matinya tidak merupakan masalah dalam soal warisan. Yang manjadi masalah adalah, apabila tawanan tersebut tidak diketahui dimana ia ditempatkan, apakah masih hidup atau sudah mati. Fenomena tawanan ini, masih saja terjadi hingga sekarang. Karena peperangan, yang merupakan langkah diplomasi terakhir antara satu negara dengan negara yang lain, masing sering terjadi.

Mayoritas (jumhur) ulama menganalogikan status tawanan perang yang tidak diketahui dengan jelas, kepada status hukum al-mafqud. Baik dalam kedudukannya sebagai muwarris atau sebagai ahli waris. ‘illat hukumnya terletak pada keadaannya yang sama-sama tidak diketahui kabar beritanya. Oleh karena itu di dalam penyelasaian warisan, diberlakukan juga ketentuan al-mafqud. Maka dalam hal ini, peran hakim sangat menentukan, setelah ditempuh cara-cara untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan tawanan tersebut.

Tawanan dapat diketahui secara jelas, maka status hukumnya sama dengan orang yang bukan tawanan. Tetapi jika tidak diketahui keberadaannya, maka ia diperlakukan sebagai orang yang hilang (al-mafqud), yaitu diserahkan kepada keputusan hakim. Pembahasan lebih lanjut, baca di bawah ini:

HARTA WARISAN BAGI ORANG NON MUSLIM DAN MURTAD
Dasarnya jelas, yaitu Firman Allah yaitu termaktub dalam Al Quran surat an Nisa' ayat 141. Harta warisan orang-orang non-muslim dan orang-orang yang murtad, tidak bisa diwarisi oleh saudaranya yang muslim. Yang bisa mewarisi harta peninggalanya hanyalah ahli waris yang sama-sama non-muslim (meskipun di antara mereka berbeda agama, seperti Katolik dan Prostetan, Hindu dan Budha, atau Katolik dan Budha).

Bagi orang yang murtad, para Ulama dengan tegas menyatakan bahwa harta warisan mereka tidak bisa diwarisi oleh siapapun, termasuk ahli warisnya yang sama-sama murtad. Harta peninggalanya menjadi harta fai’ yang harus diserahkan ke bait al-mal untuk kepentingan umum. Hal ini karena orang murtad telah memutuskan silah syari’ah kepada ahli warisnya.

Dalam hubungannya dengan tawanan yang dimungkinkan murtad diperlukan adanya penelitian terdahulu, melalui peradilan dan keputusan hakim. Dan ini harus dibuktikan paling tidak dengan dua orang saksi muslim yang adil. Untuk pembahasan lebih lanjut, silakan baca di bawah ini:

B. Saran
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya. Demikian makalah fiqh mawaris paling lengkap dan terbaru yang membahas pembagian harta waris dengan sumber rujukan dari buku di bawah ini.

DAFTAR PUSTAKA
  • Makhlu, Hasananin Muhammad f, al-Mawaris fi al-Syari’at al-Islamiyah, Kairo:Lajnah al-Bayan al-Arabiyah,tt.
  • Fahur Rahman, ilmu Wari, Bandung: Al-Ma’arif, 1981
  • Ahmad rofiq, MA.,Fiqih Mawaris, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2001
  • Al-fanary,kbasyiyah syarb al-sirajiyah, kairo:tp,tt. 
  • Hasan, M. Ali, hukum warisan dalam Islam, jakarta: bulan bintang, 1979
  • Ahmad rofiq, MA.,Fiqih Mawaris, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1998
  • Ali Ash-Shabuni, Syaikh Muhammad, hukum waris, solo: cv. Pustaka mantiq, 1994

0 Response to "Makalah Fiqh Mawaris Lengkap Penyelesaian Pembagian Harta Waris"

Post a Comment