Pembagian Harta Warisan untuk Orang Tawanan Perang

Pembagian Harta Warisan untuk Orang Tawanan Perang
Pembagian warisan untuk orang tawanan perang tentu memiki kadar yang berbeda dengan pembagian warisan untuk orang umum, termasuk orang banci, orang hilang, dan orang murtad. Untuk itu, berikut ulasannya yang bisa dijadikan sumber referensi membuat makalah fiqh mawaris tentang pembagian waris tawanan perang.
 
Tawanan sebagai terjemahan dari kata asir, asalnya dari kata isar, artinya alat pengikat yang dipakai untuk mengikat tawanan. Dalam perkembangannya, kata asir digunakan untuk menyebut orang yang diikat dengan tali pengikat itu.
 
Dalam pengertian istilah, asir adalah orang yang ditawan karena ditangkap atau kalah dalam suatu peperangan. Ini terjadi akibat penyerahan diri atau kalah dalam peperangan oleh musuh, atau karena suatu peristiwa yang memiliki muatan politik antara suatu negara dengan negara yang lain.
 
Tawanan, apabila jelas diketahui alamat domisilinya dan status hidup atau matinya tidak merupakan masalah dalam soal warisan. Yang manjadi masalah adalah, apabila tawanan tersebut tidak diketahui dimana ia ditempatkan, apakah masih hidup atau sudah mati. Fenomena tawanan ini, masih saja terjadi hingga sekarang. Karena peperangan, yang merupakan langkah diplomasi terakhir antara satu negara dengan negara yang lain, masing sering terjadi.
 
Mayoritas (jumhur) ulama menganalogikan status tawanan perang yang tidak diketahui dengan jelas, kepada status hukum al-mafqud. Baik dalam kedudukannya sebagai muwarris atau sebagai ahli waris. ‘illat hukumnya terletak pada keadaannya yang sama-sama tidak diketahui kabar beritanya. Oleh karena itu di dalam penyelasaian warisan, diberlakukan juga ketentuan al-mafqud. Maka dalam hal ini, peran hakim sangat menentukan, setelah ditempuh cara-cara untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan tawanan tersebut.
 
Persoalan baru yang mungkin timbul adalah soal apakah tawanan masih tetap Islam atau sudah keluar dari Islam (murtad). Hal ini sangat mungkin terjadi, lebih-lebih jika jelas diketahui bahwa musuh tidak beragama Islam, yang tidak mustahil akan memaksakan agamanya kepada setiap tawanan mereka. Masalah ini akan dibahas pada sub-sub berikutnya.
 
Jadi, dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa apabila tawanan dapatdiketahui secara jelas, maka status hukumnya sama dengan orang yang bukan tawanan. Tetapi jika tidak diketahui keberadaannya, maka ia diperlakukan sebagai orang yang hilang (al-mafqud), yaitu diserahkan kepada keputusan hakim. Demikian ulasan mengenai pembagian waris. Semoga bermanfaat dalam pembuatan makalah fiqh mawaris tentang pembagian waris tawanan perang.

0 Response to "Pembagian Harta Warisan untuk Orang Tawanan Perang"

Post a Comment