Diduga Menghina Islam, Pemred The Jakarta Post Jadi Tersangka

Diduga Menghina Islam, Pemred The Jakarta Post Jadi Tersangka
JAKARTA, IslamCendekia.Com - Diduga menghina Islam, pemimpin redaksi (Pemred) The Jakarta Post Meidyatama Suryodiningrat jadi tersangka. Hal ini terkait dengan karikatur yang dinilai melecehkan Islam di koran berbahasa Inggris The Jakarta Post, Edisi Kamis, 3 Juli 2014 lalu.

Karikatur tersebut menggambarkan sebuah kalimat "La ilaha illallah" yang bermakna "Tidak ada Tuhan, selain Allah" di sebuah bendera hitam dengan gambar tengkorak khas bajak laut di bawahnya. Karikatur ini dimaksudkan untuk melakukan kritik terhadap gerakan negara Islam Irak-Suriah (ISIS).

Sayangnya, karikatur yang seharusnya ditujukan ISIS tersebut justru menyangkut nilai tauhid umat Islam sehingga menjadi kontraversi dan persoalan pelik. "Maksud dari penerbitan The Jakarta Post itu baik yang ingin mengkritik ISIS sebagai gerakan ekstremis yang menghalalkan tindakan kekerasan atas nama agama. Semua umat Islam pun mengecam tindakan ISIS yang melegalkan kejahatan kemanusiaan di atas agama. Sayangnya, karikatur yang diterbitkan The Jakarta Post seolah terlihat seperti ditujukan umat Islam dengan kalimat 'La ilaha illallah' yang menjadi dasar teologi tertinggi dalam Islam," ujar Lismanto, CEO IslamCendekia.Com saat ditanya tentang masalah karikatur The Jakarta Post.

"Semoga masalah tersebut bisa selesai dengan baik dan tidak memberatkan pihak manapun," lanjut Lismanto. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto menuturkan, Meidyatama Suryodiningrat dikenakan Pasal 156 ayat (a) KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman pidana penjara di atas lima tahun.

Penetapan Meidyatama Suryodiningrat sebagai tersangka kasus penistaan agama ini menyusul laporan Edy Mulyadi sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Korps Jakarta yang ditujukan koran Harian The Jakarta Post kepada Mabes Polri RI atas tuduhan penistaan agama.

Sebelumnya, harian The Jakarta Post sudah meminta maaf. Namun, menurut Edy, permintaan maaf saja tidak cukup dan harus dibawa ke wilayah pidana. "Biar ada efek jera agar lebih berhati-hati," Ujar Edy, Selasa, 15 Juli 2014 sebagaimana dilansir Tempo.co.

Sementara itu, Dewan Pers menyesalkan penetapan Meidyatama Suryodiningrat sebagai tersangka. Menurut Dewan Pers, masalah tersebut menjadi masalah kode etik jurnalistik yang semestinya tidak ditarik ke ranah pidana. (ic-ibda/pic via Miraj News)

0 Response to "Diduga Menghina Islam, Pemred The Jakarta Post Jadi Tersangka"

Post a Comment