Rabu Wekasan dalam Pandangan Islam

Rabu Wekasan dalam Pandangan Islam
Rabu wekasan dalam pandangan Islam ada dua pendapat yang saling bertolak belakang, yaitu setuju dan tidak setuju, percaya dan tidak percaya. Hal ini dikarenakan Islam selalu punya tafsir yang beragam dan kaya, sehingga saat ditanya mengenai rebu wekasan menurut Islam, maka ada banyak pendapat di sini.

Oleh karena itu, artikel ini setidaknya akan mengulas secara garis besar mengenai apa itu rabu wekasan? Apakah rebu wekasan itu bid'ah? rabu wekasan dalam Jawa, rebo wekasan di bulan safar, amalan, dan secara global membahas rebu wekasan menurut pandangan Islam.

Rabu wekasan itu apa?
Rabu wekasan adalah hari Rabu paling akhir dalam bulan Safar di mana hari ini diyakini Allah mendatangkan 300 ribu jenis bala di bumi. Hal ini dijelaskan dalam hadis. Namun, kejelasan ini banyak dipertanyakan sejumlah ulama karena dianggap hanya tercantum dalam hadis yang dhaif, bukan shahih.

Maksudnya bagaimana sih? Begini. Dalam satu bulan Safar, ada empat hari Rabu. Nah, hari rabu yang terakhir di bulan Safar inilah disebut rabu wekasan. Istilah ini dikenal di kalangan umat muslim di Jawa dengan ejaan "Rebo Wekasan".

Amalan sholat rebo wekasan
"Berhubung malam ini adalah rabu terakhir di bulan Safar di mana Allah menurutkan 300.000 bala', jangan lupa setelah sholat Magrib untuk melakukan shalat tolak bala sebanyak 4 rekaat dengan 2 salam," demikian pesan masuk email redaksi IslamCendekia.Com dari seorang warga muslim di Pati, Jawa Tengah.

Selanjutnya, pesan tersebut berbunyi: "Niat sholat tolak bala rebo wekasan adalah usolli sunnatal liyaumil akhiri min syahrishshofari lidaf'il balaa i rok'ataini lillahi ta'aalaa." Lalu, perbanyak ibadah seperti membaca Al Quran, sholawat, istigfar, dan tasbih.

Rabu wekasan menurut Jawa
Dalam kajian mistis spiritual Jawa, tidak ada istilah yang namanya hari di mana bala akan diturunkan pada Rabu akhir di bulan Safar. "Ya, saya sering mendengar kata rebo wekasan. Tapi, dalam istilah hari-hari baik, naas atau hari buruk dalam ramalan ilmu Jawa tidak mengenal namanya rebo wekasan," ujar Jeng Tatik, ahli hitungan Jawa asal kota seribu paranormal Pati yang memiliki nama lengkap Hartatik ini saat dihubungi IslamCendekia.Com, Rabu (16/12).

Menurut pandangan Islam
Dalam sebuah hadis yang termaktub pada Faidh al Qadir, juz 1, halaman 45, Rasulullah bersabda:
Akhiru Arbi’ai fi al syahri yawmu nahsin mustammir. Artinya: Rabu terakhir dalam setiap bulan merupakan hari sial terus."

Namun, hadits ini oleh sebagian besar ulama dikatakan bertentangan dengna hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari di mana secara luas memiliki makna bahwa kesialan hanya berlaku untuk sebagian orang yang mempercayainya dan setiap hari adalah netral, yaitu mengandung kemungkinan baik dan buruk. Semuanya kembali kepada takdir yang ditetapkan Allah Swt.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah Muhammad Saw bersabda: "Tak ada yang namanya penyakit menular, tak ada buruk sangka terhadap kejadian, tak ada nasib malang saat ada burung hantu, serta tak ada bala atau bencana di bulan Safar."

Oleh sejumlah cendekiawan muslim, kepercayaan terhadap hari rabu wekasan tak lain adalah tradisi yang dulu banyak diyakini oleh umat jahiliyah kuno di jazirah Arab. Tradisi sekarang ini, keyakinan terhadap adanya hari Rabu Wekasan banyak dipercayai oleh sejumlah umat muslim di Jawa, Sunda, Bangka Belitung dan beberapa di Kalimantan Selatan.

Pengasuh Pesantren al Wardiyah Tambakberas, Jombang, Jawa Timur KH Abdul Kholik Mustaqim mengatakan bahwa ada beberapa alasan ulama yang menolak adanya hari Rabu Wekasan. Pertama, tidak ada dalam nash khusus yang menjelaskan soal itu. Kedua, tidak ada anjuran ibadah khusus dari syariat. Ketiga, selain sholat hajat dan sunah mutlak sebagaimana diajarkan syariat, praktik selain itu tidak boleh apabila diamalkan dalam kepercayaan terhadap hari rebo wekasan.

Bid'ah atau tidak
"Dari pesan email yang masuk ke redaksi kami, mereka menganjurkan untuk sholat tolak balak dan diharapkan untuk memperbanyak ibadah, misalnya baca istigfar, sholawat, membaca ayat-ayat suci dalam Al Quran, dan tasbih. Selama praktik terhadap keyakinan terhadap hari Rabu Wekasan itu baik dan mendatangkan maslahat seperti meningkatkan ibadah seseorang kepada Allah, maka tidak ada kata haram atau bid'ah," ujar Lismanto, chief executive officer media Islam Cendekia.

"Saya bukanlah orang yang mendukung dan percaya pada keyakinan hari sial rabu di akhir bulan Safar. Namun, jika dilihat dari amalannya untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah dalam rangka menjauhkan diri dari bencana, wabah atau bala, maka kepercayaan terhadap rebo wekasan itu malah baik dan bukan bid'ah. Dikatakan bid'ah itu kalau dalam ibadahnya tidak sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad. Sementara praktik ibadah bagi orang-orang yang percaya terhadap rebo wekasan itu tidak menyalahi amalan ibadah dari Rasulullah. Apakah memperbanyak tasbih, istigfar, baca Al Quran, dan hal-hal lain untuk mendekatkan diri kepada Allah itu dikatakan bid'ah? Tidak," tutur Lismanto.

Ia melanjutkan, kecuali dalam ritual ibadah menyambut hari rabu wekasan itu disertai dengan hal-hal yang menjadi larangan Islam atau mendekatkan pada kemusyrikan, itu yang dikatakan bid'ah dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. (Lipsus IslamCendekia.Com)

0 Response to "Rabu Wekasan dalam Pandangan Islam"

Post a Comment