Saatnya Pemuda Memandirikan Bangsa Indonesia

Saatnya Pemuda Memandirikan Bangsa Indonesia
Saatnya pemuda memandirikan bangsa Indonesia. Ada adagium sederhana yang menyatakan bahwa reformasi di Indonesia tak akan menuai kesuksesan. Jalan terjal selalu akan dipanen. Bangsa Indonesia pun kegirangan, tidak percaya dengan adagium semacam ini. Percaya ataupun tidak, bangsa Indonesia selalu berhadapan dengan banalitas oknum birokrasi. Apa bisa dikata, ia sudah tertanam rapi dalam relung hati manusia."

Oleh Rikza Chamami, S.Pd.I, M.S.I
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

Sementara itu, memori pergerakan kemerdekaan bergolak lebih dari seabad lalu. Sebuah momentum menandai lahirnya benih-benih pergerakan nasional yang menuntut terwujudnya kemerdekaan. Senang sekaligus sedih. Di mana, penjajah telah tiada, namun kemerdekaan sebagai bangsa yang utuh belum dimiliki sepenuhnya oleh Indonesia.

Momentum kebangkitan itu menandakan bahwa benih nasionalisme itu muncul dan bersumber dari kaum muda. Pemuda mampu memandirikan bangsa secara utuh! Tokoh nasional semisal Soetomo, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir menjadi bukti generasi muda yang sesungguhnya mampu menjadi agen perubahan.

Kendati demikian, disadari atau tidak peran pemuda lambat laun mulai menurun. Semangat nasionalisme kemerdekaan mulai luntur. Dan pada akhirnya muncul pertanyaan, pemuda hilang daya kritisnya dan keagenannya? Daya kritis sebagai penggerak perubahan mulai tidak terwujud (terbukti). Daya kritis menghilang digantikan kepentingan-kepentingan pragmatis kekuasaan. Berbeda dengan realitas masa lalu, image generasi muda kini lebih bersifat peyoratif ketimbang positif. Pemuda cenderung menjadi beban negara, ketimbang sebagai aset yang senantiasa memberikan input konstruktif dan suri tauladan yang baik.

Gagasan dari para pemuda juga cenderung sirna. Ide-ide brilian dari semangat juang pada masa lalu tidak bisa kita jadikan hanya semangat belaka. Lebih dari itu, semangat harus diaktualisasikan lewat langkah nyata untuk terus mengawal perubahan. Fenomena ini bukan mengada-ada. Ini menjadi ironi sekaligus fakta, di mana rasa kebangsaan di kalangan generasi muda semakin melemah.

Gambaran itulah yang kini boleh jadi menjangkiti generasi muda. Semangat untuk berkorban, berbakti dan berjuang demi bangsa dan negara mulai mengendur. Harga diri dan nasionalisme pemuda tergadaikan oleh kebengisan pemuda itu sendiri yang haus akan kekayaan dan kekuasaan. Padahal tantangan pemuda untuk mengawal perubahan sejati jauh lebih berat dari pada tempo dulu. Sebab, tantangan kini beragam; kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, kemalasan, ketidakrelaan untuk berkorban terhadap sesama atau berempati pada kondisi sosial membutuhkan jawaban dari para pemuda.

Oleh karena itu, untuk kembali menempatkan pemuda sebagai pengawal kebangkitan bangsa, nasionalisme harus dibangkitkan. Bangkitnya nasionalisme harga mati bagi pemuda. Ia harus dikonsep sesuai pola perkembangan zaman. Nasionalisme bangkit jika ditopang harapan, tujuan, dan keyakinan serta cita-cita hidup bersama.

Nasionalisme pemuda tidak mungkin terwujud jika para pemuda sungkan mengenali dirinya sendiri bahwa ia putra-putri bangsa. Indonesia memanggil para putrinya untuk berjuang mengawal perubahan, tidak diam berpangku tangan membiarkan bangsanya terus terjajah.

Untuk itu, ruang gerak pemuda harus diperluas. Pergerakan pemuda tidak bisa dibatasi pada aspek tertentu. Semangat pemuda harus dapat dibangkitkan kembali dengan menjadikan diskriminasi, kemiskinan dan ketidakadilan sebagai musuh bersama. Saya yakin pemuda mampu menjawab persoalan ini. Untuk itu, hanya diri kita yang bisa menjawab!

0 Response to "Saatnya Pemuda Memandirikan Bangsa Indonesia"

Post a Comment