Tradisi Tunangan/Khitbah di Gili Raja

Mahasiswa STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta
Tradisi tunangan/khitbah di Gili Raja. Pada umumnya manusia itu ingin mencintai dan dicintai, ingin menyayangi dan disayangi dan ingin mendapatkan ketenangan hati dan jiwa. Berangkat dari dasar itulah kemudian muncul tradisi-tradisi yang sangat menyenangkan kata anak-anak zaman sekarang. Khitbah berasal dari bahasa Arab  yang artinya “Bertunangan”. Anak-anak  Gili Raja rata rata mempunyai tunangan.

Oleh Misbahul Khair,
Mahasiswa STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta

Nggak punya tunangan itu nggak keren katanya. Dalam proses tunangan di pulau Gili Raja ini ada dua macam. yang pertama yaitu tunangannya hasil sendiri sedangkan yang kedua tunangannya hasil paksaan orang tua. Yang dimaksud tunangannya hasil sendiri yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan yang saling suka di antara keduanya kemudian melakukan perjanjian untuk setia sehidup semati kemudian yang pihak laki-laki melamarnya kerumah orang tuanya.

Sebentar. Sebelum berbicara lebih lanjut seputar tradisi tunangan atau khitbah di pulau Gili Raja, ada baiknya jika Anda membaca artikel di bawah ini agar Anda tahu apa itu Gili Raja dan peradabannya.


Itu resmi bisa dikatakan bertunangan jika sudah mendapatkan persetujuan dari pihak yang perempuan dan sebaliknya, jika tidak mendapatkan persetujuan dari orang tuanya maka tidak akan jadi untuk bertunangan walaupun keduanya saling mecintai. Mengenai yang kedua yaitu, tunangannya hasil paksaan orang tua.

Namun hal seperti itu kebanyakan tidak jadi sampai nikah, karena antara pilihan orang tua dengan pilihan hatinya terjadi yang namanya kontradiksi. Karena, keduanya tidak saling mencintai dan tidak saling menyukai. Karena penulis telah merasakan sendiri kalau pilihan hati memang sangat indah dan akan terasa sakit jika pilihan hatinya selalu SETIA (Selingkuh, Tiada, Akhir).

Menurut penulis, tradisi-tradisi semacam itu sangatlah bagus  untuk diimplementasikan dengan tujuan yang baik. Misalnya untuk membangun masa depan yang cerah karena kebanyakan anak-anak  Gili Raja yang sudah mempunyai tunangan, hidupnya semakin semangat untuk belajar. Hal itu dilakukan mungkin mereka ingin menunjukkan prestasinya kepada tunangannya agar cintanya semakin merekat. Penulis hanya bisa membolehkan aja kalau tunangan tersebut menjadi penyemangat dirinya untuk melakukan hal-hal yang benar asalkan jangan riya’.

Dalam bertunangan di pulau gili raja ini bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan dana yang harus dipersiapkan, misalnya yang dari pihak laki-laki untuk melamar siperempuan tadi harus membawa kebutuhan-kebutuhannya seperti, uang, cincin emas, kerudung, sepasang baju, sandal,  bedak, lipstik, merah pipi dan sebagainya. Sedangkan yang dari pihak perempuannya hanya menyediakan yang ringan-ringan aja misalnya, kopiah, baju, sarung, sandal sudah cukup. Dan yang paling aneh lagi setiap ada hiburan tunangannya pasti diajak untuk menontonnya dan rata-rata orang tuanya mengizinkannya padahal kalau dilihat dari segi hukum Islam orang yang belum nikah haram hukumnya berduaan walaupun sudah bertunangan.

Dan yang paling menyenangkan katanya ketika lebaran. Kalau istilah maduranya yaitu “nyetel” yang dimaksud nyetel disini yaitu orang yang sudah mempunyai tunangan lalu bergoncengan untuk bersilaturrahmi kepada kerabat-kerabatnya yang jauh. Mengapa penulis  tadi bilang “katanya”? Ya karena penulis sampai saat ini belum punya tunangan. Namun, tahu bagaimana kehidupan anak-anak yang telah bertunangan sehingga bisa untuk menggambarkannya.

Sebenarnya, kita tidak perlu bertunangan karena kita tidak tau apakah tunangan kita nanti akan menjadi jodoh kita atau tidak? Contohnya banyak di pulau Gili Raja ini bertunangan dengan tempo yang lama, menghabiskan uang yang banyak  karena setiap ada hiburan dan lebaran pasti si laki-laki memberikan uang kepada tunangannya minimal 200 sedangkan maksimal tak terhingga kemudian pada akhirnya tidak jodoh disebabkan pelbagai alasan dan pelbagai masalah yang menimpanya sehingga perpisahan yang terjadi hanya tinggal penyesalan yang ada.

Sebesar apapun kita mencintai dan menyayangi seseorang, sekuat apapun kita mempertahankan seseorang yang kita cintai tapi kita tidak tertulis di lauh mahfudz maka kita tidak akan pernah bersatu dengan orang yang kita cintai dan sebaliknya. Sebesar apa pun kita membenci dan mencaci seseorang, sekuat apapun kita menghindar dari orang yang kita benci tapi orang tersebut tertulis dilauh mahfudz adalah jodoh kita maka kita tidak akan bisa untuk menolaknya.

Tetap semangat kawan kalau kita jodoh tidak akan kemana pasti kita bersatu. Yakinlah setiap rencana Allah adalah yang terbaik untuk kita jangan pernah menyalahkan Allah jika kita tidak diperjodohkan dengan orang yang kita cintai. Bagi kawan-kawanku yang sudah putus dengan tunangannya bersabarlah semoga mendapatkan jodoh yang sholeh bagi yang laki-laki dan semoga mendapatkan jodoh yang sholehah bagi yang perempuan. Dan semoga penulis sendiri mendapatkan pasangan yang sholehah, cantik, baik hati, bukan penjajah dan tidak sombong amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin.

Begitu banyak anak-anak  Gili Raja yang “broken heart”  (patah hati)  putus dengan kekasihnya atau tunangannya karena mereka kebanyakan tidak  tahu rumus hidup yang baik. Jangan bersedih kawan! Karena kesedihanmu tidak akan mampu menyambung kembali seorang kekasih yang telah putus dan kesedihanmu tidak akan mampu memperbaiki seorang kekasih yang telah rusak.

Oleh karena itu, jalanilah kehidupan ini dengan senyuman, keceriaan agar kita tidak tersiksa oleh tekanan jiwa yang begitu menyakitkan. Modal utama dalam mencintai seseorang yaitu dengan mencintai sekadarnya jangan terlalu cinta dan terlalu sayang agar ketika terjadi yang namanya perpisahan tidak begitu menyakitkan. Mengapa orang yang putus cinta menyakitkan? Ya karena orang tersebut merasa memiliki sesuatu yang berharga kemudian menghilang dari hidupnya.

Dalam bertunangan harus berhati hati karena kalau kita bertunangan dengan seseorang yang cantik di balik itu pasti ada yang iri sehingga orang yang iri tadi akan melakukan berbagai macam cara untuk membuat orang tersebut berpisah dengan tunangannya misalnya menyebarkan fitnah, kabar yang tidak diinginkan.

Kasus yang terjadi di pulau Gili Raja rata-rata anak-anak yang bertunangan berpisah dengan tunangannya disebabkan tidak kuat terhadap fitnah. Misalnya begini, Si Andi bertunangan dengan Si Fatimah  kemudian Si Jojon karena iri membuat berita palsu. Seperti, Fatimah selingkuh dengan cowok lain. Tujuannya tidak ada tujuan lain Si Andi agar memutusnya. Sebenarnya si Jojon tadi ingin mengganti Si Fatimah .

Oleh karena itu, kita harus paham terhadap permainan politik orang yang iri kepada kita. Kita sebagai orang yang cerdas seharusnya ketika ada kabar buruk tentang kekasih kita atau tunangan kita sebaiknya kita jangan langsung percaya siapa tahu itu hanya kabar dusta? Lebih baik  kita ngomong baik baik kepada kekasihnya atau tunangannya agar semuanya menjadi jelas.”wallahu a’lam bi al-showab”.

0 Response to "Tradisi Tunangan/Khitbah di Gili Raja"

Post a Comment