Diskusi dan Bedah Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner



Semarang – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah Walisongo Semarang, pada Jumat (6/3/2015) menggelar agenda Diskusi dan Bedah Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner yang ditulis oleh Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti.

Hamidulloh Ibda (berdiri) saat menjelaskan isi buku
Buku terbitakan Kalam Nusantara tersebut dibedah di hadapan puluhan aktivis HMI di Gedung Graha Bina Insani Korkom Walisongo, Jalan Ringinsari II Nomor 6 Ngaliyan, Semarang yang dihadiri langsung oleh penulis buku.

Semua guru, kata Ibda, harus revolusioner. “Kalau guru, ya pasti revolusioner, kalau tidak revolusioner, ya tidak pantas disebut guru, melainkan pengajar biasa,” ujar mantan aktivis HMI tersebut.

Acara ini merupakan agenda yang digelar lesehan oleh bidang PTKP Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Tarbiyah Walisongo Semarang yang dihadiri puluhan mahasiswa.

Selama ini, kata Ibda, idiom guru itu hanya guru ideal, idaman, impian, guru hebat dan guru profesional. “Namun belum ada istilah guru revolusioner,” beber dia.

Semua idiom itu, harus didekonstruksi, lanjut Ibda, sebab selama ini semua idiom di dalam pendidikan banyak yang salah kaprah. 

Selain membedah soal guru revolusioner, diskusi ini juga mendiskusikan hakikat pendidikan, kesiapan dan cara menjadi guru revolusioner. “Kalau mau jadi guru, syarat utama itu ya tahu paradigma paratekenis, paradigma didik dan paradigma ajar. Kalau tidak tahu itu, ya pasti kacau. Kalau sekadar 4 kompetensi guru dan 8 keterampilan mengajar itu kan sudah teknis dan belum mendasar,” beber mahasiswa Pascasarjana Unnes tersebut.

Di dalam buku tersebut, sudah dijelaskan makna, karakter dan ciri-ciri guru revolusioner. Buku tersebut merupakan buku ketiga yang ditulis oleh Hamidulloh Ibda. Sebelumnya, ia menulis buku berjudul Demokrasi Setengah Hati dan Stop Pacaran Ayo Nikah.

Muhammad Mahmudi selaku pembedah buku juga mengapresiasi buku tersebut meskipun ada kekurangan dan kelebihan. “Kelebihan buku ini sangat baru, idenya cerdas, karena selama ini belum ada buku yang menjelaskan tentang pengertian guru revolusioner. Kekurangannya, belum menjelaskan dampak negatif dari penguasaan IT di dalam pendidikan,” ujar aktivis HMI tersebut. (IC-Foto: HMI).

0 Response to "Diskusi dan Bedah Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner"

Post a Comment