Buku Hamidulloh Ibda Stop Pacaran Ayo Nikah Membongkar Hukum Pacaran dalam Islam



Semarang, Islamcendekia.com - Buku Hamidulloh Ibda Stop Pacaran Ayo Nikah membongkar hukum pacaran dalam Islam yang selama ini masih menimbulkan perdebatan di semua kalangan. Sebab, hukum pacaran dalam Islam masih simpang-siur dan rata-rata para pemuda Islam mengambil yang enak saja tanpa mengacu pada dasar yang jelas dan kuat.

“Di dalam agama Islam, terminologi pacaran memang belum ada atau belum tegas dihukumkan. Artinya, di dalam Islam hanya dikenal istilah zina yang secara tegas hukumnya haram. Jangankan melakukannya, mendekati saja tidak boleh dan dilarang tegas dalam Alquran,” ujar Hamidulloh Ibda yang juga Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) kepada Islamcendekia.com, Senin (6/4/2015).

Akan tetapi, kata dia, kita harus berijtihad, membuat formula cerdas, merumuskan pacaran yang cerdas dan menganalogikan istilah pacaran ke dalam hukum agama. Banyak buku fikih, menyebutkan bahwa hukum zina secara tegas haram dan dilarang. Menurut jumhur ulama, hukum pacaran secara tegas “haram”, meskipun banyak beberapa pendapat yang kontradiksi. Namun, hal itu disanggah beberapa pemuda Islam yang hobi berpacaran.

Bagi mereka, selama pacaran tidak melakukan hal negatif, hanya sekadar SMS-an, makan bersama, perhatian, saling memotivasi, hukumnya adalah “halal”. Akan tetapi, bagi pemuda yang beraliran fundamental dan tekstualis, hukum pacaran adalah “haram” karena mendekati “zina”. Bagi mereka jelas, pacaran dan zina hampir sama, padahal mendekati zina saja diharamkan, apalagi melakukan zina yang didalihkan pacaran.

Hal ini didasarkan pada firman Allah surat Al-Isyra ayat 32 yang artinya; Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan buruk”. Didasarkan pada hadist nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhori Muslim yang artinya; Dari Ibnu Abbas Ra. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya.” Dasar ini jelas, bahwa pacaran hukumnya haram dan dilarang sesuai aturan agama.

Sejak saat ini pula harus ditegaskan, ujar Ibda yang juga pendiri Harianblora.com, kita harus berijtihad seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bahwa pacaran itu bermacam-macam hukumnya. Semua tergantung point of view, sudut pandang dan angle yang digunakan untuk menghukumkan pacaran. Kita jangan terlalu “pekok” dalam menghukumi pacaran. Secara dasar Ushul Fikih di atas, dapat dikiyaskan bahwa hukum pacaran terbagi menjadi tiga, yaitu halal, haram dan subhat.

Pertama, hukum pacaran halal. Mengapa? Jika pacaran dijadikan alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi, hemat penulis hal itu boleh dan sah-sah saja. Karena, terbukti saat ini banyak anak kiai, banyak santri dan intelektual muslim berpacaran. Bahkan, banyak para penghafal Alquran/hafiz dan hafizah juga berpacaran. Jiak sekadar berkomunikasi, bertemu dan diskusi, bagi penulis jelas halal hukumnya. Jika dengan berpacaran timbul motivasi, semangat hidup, belajar dan berkarya, maka sah-sah saja pacaran dilakukan. Karena hakikat pacaran adalah memotivasi, menyuntik dan meludahkan spirit hidup dan berkarya, bukan menjamah dan menghancurkan masa depan pasangan dengan perilaku seks bebas.

Selama ini, banyak pacaran produktif. Artinya, dengan pacaran terjadi motivasi hidup, motivasi berkarya dan melakukan kebaikan lebih banyak lagi. Dengan memiliki pacar, seseorang akan lebih semangat dalam melakukan kebaikan, belajar, bahkan bekerja dan beribadah. Dari landasan ini, pacaran secara eksplisit hukumnya halal. Karena pacaran hanya alat, bukan tujuan. Namun, jika pacaran dijadikan tujuan, penulis yakin akan terjadi hal negatif, mulai dari ciuman hingga pergaulan bebas. Demikianlah epistemologi pacaran.

Selain pacaran sekadar iseng dan mengisi waktu dan membuang umur, ada juga pacaran yang dilakukan untuk menuju pernikahan. Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran merupakan wasilah (sarana) untuk ber-ta’aruf (berkenalan) dengan seorang manusia. Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua calon mempelai supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masing-masing. Maka, pacaran halal dilakukan jika hanya sekadar untuk mengenal, bukan sampai melakukan hal kotor.

Kedua, hukum haram. Saat ini banyak pemuda terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan. Jiwa dan pikiran mereka sudah konslet dan keluar dari norma agama. Apakah mereka tidak menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari khalwat atau berdua-duaan dengan lawan jenis dan ikhtilath atau laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang? Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam. Apa maksudnya? Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda Rasulullah Saw,“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (HR. al-Bukhori: 1862, Muslim: 1338).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100).

Meskipun telah resmi melamar seorang perempuan, seorang laki-laki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas bertelepon, bebas berkomunikasi atau bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut masih tetap ajnabiyyah baginya hingga berlangsungnya akad pernikahan. Sunnah nabi sangatlah positif dan sudah pasti menjaga pandangan mata dan nafsu. Maka, sudah sangat logis jika menikah menjadi keniscayaan daripada pacaran! Karena puncak dan cita-cita tertinggi orang berpacaran adalah menikah.

Ketiga, hukum subhat. Pacaran dalam hal ini masih berada pada kondisi yang tidak jelas halal dan haramnya. Artinya, meskipun berdalih untuk mengenal dan memotivasi diri, tetapi pacaran tersebut juga digunakan untuk melampiaskan nafsu. Inilah yang jelas merugikan pasangan itu, terutama pihak perempuan, karena dijarah dan dieksploitasi tubuhnya. Laki-laki itu tidak menjaga perempuan tersebut, tapi justru merusak dengan menjamah tubuh perempuan itu dengan tidak dihalalkan dengan akad nikah.

Hukum subhat berarti remang-remang, ambigu dan sangat tidak baik jika pacaran dilakukan. Dengan dinamika perbuatan yang tidak jelas, maka hukum pacaran tidak jelas halal dan haramnya dan selalu dikejar-kejar dosa dan belenggu nafsu. Lalu, apakah Anda akan tetap berpacaran? Tentu harus tegas dan cerdas. Jika Anda cerdas, penulis yakin akan memilih menikah daripada sekadar melakukan pacaran yang lebih cenderung menggiring pada lembah nafsu.

“Berpacaran atau menikah adalah pilihan. Karena Anda sendiri yang akan menanggung akibatnya nanti. Menuju neraka atau surga juga terserah Anda. Ke utara atau ke selatan, ke cahaya atau ke lorong hitam adalah pilihan. Akan tetapi, kenikmatan dan kepuasan bukanlah pada pacaran, tapi di dalam nikmatnya pernikahan. Inilah yang harus dipahami secara radikal dan ilmiah,” pungkas dia. (Red-Islamcendekia.com/Foto: Lentera Aksara).

0 Response to "Buku Hamidulloh Ibda Stop Pacaran Ayo Nikah Membongkar Hukum Pacaran dalam Islam"

Post a Comment