Makna Islam sebagai Agama menurut Said Aqil Siradj

PATI, Islamcendekia.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj melihat fenomena kehidupan beragama pada zaman modern, terutama pemaknaan terhadap Islam saat ini mulai bergeser dari ajaran yang "mulia" ke arah ajaran yang "nista".

Banyak orang yang kemudian beragama Islam tanpa melihat hakekat, makna, dan substansi ajarannya, tetapi justru terjebak pada hiruk-pikuk "label" atau "kulit" dengan menjadikan "nafsu" sebagai "panglima".

Itulah sebabnya, KH Said Aqil Siradj berpendapat bila orang paling jahat adalah mereka yang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam. Misalnya, terorisme atas nama Islam dan berbagai tindak kejahatan lainnya atas nama Islam.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj

"Perilaku itu dilakukan, karena mereka tidak paham terhadap arti dan makna Islam, serta dari mana Islam itu turun," ujar KH Said Aqil Siradj dalam agenda Ngaji Ngallah Suluk Maleman bertema "Beragama Setengah Linglung di Negeri Setengah Bingung" di Rumah Adab Mulia, Jalan Diponegoro Pati, Sabtu-Minggu, 27-28 Februari 2016.

Pengajian itu juga dihadiri budayawan Anis Sholeh Ba'asyin yang menjadi tuan rumah, KH Muhammad Yusuf Chudlori dari Magelang, KH Budi Harjono yang dikenal sebagai kiai sufi dari Semarang, serta akademisi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Ilyas.

"Islam itu turun dari langit untuk membangun budaya dan peradaban manusia yang lebih baik. Tujuan Islam turun ke bumi adalah memberi tuntunan kepada manusia supaya cerdas, kreatif, berkarya, dan bermanfaat untuk sesama manusia serta alam semesta," kata KH Said Aqil Siradj kepada Islamcendekia.com, usai memberikan ceramah kepada jamaah Suluk Maleman.

Islam, lanjut Said, adalah agama yang turun dari Allah ke bumi untuk manusia, bukan sebaliknya dari manusia untuk Allah.

Karena itu, semua aturan, pedoman dan petunjuk-petunjuk dalam agama Islam (Al Quran dan hadis) tak lain bertujuan untuk membangun kehidupan manusia yang mulia, berbudaya, beradab, berkarya, dan bermartabat.

"Dengan agama, manusia mestinya bisa hidup harmonis dengan makhluk lainnya, intim, saling mendukung, melengkapi, serta bisa saling menyempurnakan. Tidak mungkin agama justru menjadi alat untuk merusak keharmonisan," imbuhnya. (*)

0 Response to "Makna Islam sebagai Agama menurut Said Aqil Siradj"

Post a Comment