Profil Yenni Wahid, Figur Politisi Perempuan Berwatak Pluralis

Islamcendekia.com - Ada hal menarik untuk dicatat, bahwa abad ke-21 menjadi saksi atas semakin melejitnya gerakan perempuan memunculkan seorang profil tokoh perempuan pluralis dalam berpolitik. Dialah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid yang biasa dikenal masyarakat luas dengan nama Yenny Wahid.

Perempuan yang lahir di Jombang pada tanggal 29 Oktober 1974 itu merupakan putri kandung dari pasangan suami istri Abdurrahman Wahid dan Shinta Nuriyah Wahid. Putri kedua dari presiden Indonesia ke-4 itu menikah dengan Dhohir Farisi dan kini telah dikaruniai tiga orang anak.

Ia menyandang sebagai Sarjana Desain dan Komunikasi Visual, Universitas Trisakti dan kemudian menyabet gelar Master di Harvard Kennedy School of Government. Pada tahun 1997 dan 1999, Yenny aktif menjadi korensponden Koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourney). Liputannya mengenai Timor Timur pasca referendum mengantarkannya kepada penghargaan Walkley Award yang merupakan penghargaan bergengsi bagi jurnalis di Australia.

Belum lama menekuni pekerjaannya sebagai wartawan, ia berhenti karena ayahnya menjadi presiden RI dan memutuskan untuk selalu mendampingi ayahnya kemanapun ia pergi, sehingga tidak mengherankan jika banyak dari pemikiran Yenny yang dipengaruhi oleh sosok Gus Dur. Yenny pun menjadi direktur The Wahid Institute, sepulang dari Amerika pada tahun 2004. Tidak jarang ia muncul di layar kaca sebagai pembicara dalam berbagai acara.

Foto Yenni Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid
Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid. (Sumber Foto: Hendra A Setyawan/KOMPAS)

Keputusannya untuk berhenti dari profesinya sebagai wartawan, salah satunya dilatarbelakangi oleh kekhawatiran dirinya akan terjadinya bias dalam meliput suatu objek. Saya rasa ini merupakan hal yang cukup bijaksana. Yenny berani mengambil sikap dan memutuskan untuk berhenti.

Selain itu, ada hal yang tidak kalah penting untuk dicatat, yaitu ketika Yenny memutuskan keluar dari jabatan politiknya karena terdapat perbedaan nilai di kalangan anggotanya. Bagi sebagian orang, mungkin berat meninggalkan rumah yang sudah didiami selama bertahun-tahun lamanya. Namun tidak bagi seorang Yenny. Ia lebih baik keluar ketika idealitas dan realitas sudah tidak sejalan lagi.

Diakui atau tidak, politisi perempuan negeri ini tidaklah banyak. Yenny wahid termasuk yang menojol. Ia  memiliki pengalaman politik yang cukup kaya dan prinsip yang kuat dalam melanjutkan perjuangan sang ayah. Ia melanjutkan pemikiran Gus Dur dalam mengedepankan pliralisme, Islam moderat, perdamaian, nilai-nilai kemanusiaan, membela masyarakat lemah serta kebebasan beragama dalam berpolitik.

Tidak hanya itu, di tengah-tengah banyaknya perempuan yang sibuk mempercantik diri, ia muncul ke permukaan dengan segenap kesederhanaannya. Di tengah-tengah banyaknya perempuan yang apatis terhadap dunia perpolitikan, ia bukanlah salah satunya. Ia bahkan semakin aktif dalam mempertahankan nilai-nilai luhur dalam berpolitik.

Bukan kekuasaan, tetapi nilai dalam berpolitik
Politik seringkali membentuk individu-individu yang cenderung berkeinginan untuk menguasai. Tidak sedikit dari politisi negeri ini yang dalam praktiknya menghalalkan segala cara guna melancarkan misi kuasanya.

Namun, nampaknya tidak demikian yang hadir dalam pemikiran seorang Yenny Wahid. Walaupun sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa pemikirannya banyak diilhami oleh pemikiran almarhum Gus Dur.

Kendati demikian, Yenny tetaplah seorang luar biasa karena di tengah-tengah mayoritas perempuan yang apatis terhadap dunia politik, ia hadir membawa segenap kiprah mulianya. Di tengah-tengah semakin memanasnya strategi politik, ia tetap berdiri tegak dalam prinsip yang diajarkan oleh sang ayah.

Ia menjadi bukti bahwa perempuan tidak bisa terus-menerus dibisukan pendapatnya atas perpolitikan Indonesia. Perempuan sesungguhnya mampu untuk ikut berkarya membangun negeri yang pluralis.

Kembali kepada misi politik tadi, dalam sebuah wawancara yang disiarkan di Vimela TV, Yenny mengungkapkan keprihatinanya atas politik yang bertujuan untuk mencari posisi. Padahal di dalam rumah Partai kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur  mengajarkan kepada kader-kadernya untuk mendahulukan idealisme.

Namun bagi sebagian orang yang tidak sabar akan menganggap bahwa jabatan itu penting sekali. Pemikiran Yenny sejalan dengan pemikiran Gus Dur yang memiliki prinsip mendahulukan nilai-nilai dan pembelaan terhadap masyarakat harus didahulukan.

Bagi seorang Yenny, politik pasti akan menghadapkan pemerannya kepada ujian-ujian yang harus dihadapi. Dan nampaknya hal itu juga yang terus mendorongnya dalam semangat melanjutkan perjuangan Gus Dur. Namun, ia tetap menyadari bahwa politik itu adalah alat untuk membuat perubahan, bukan mengajar kekuasaan.

Yenny, agama dan love yang menjawab hate
Hate hanya bisa dijawab oleh love. Kata-kata singkat Yenny yang diungkapkan pada salah satu acara stasiun televisi itu terus membekas dalam fikiran saya. Entah untuk kali keberapa saya melihat sisi pluralis, toleran dan cinta damai dalam diri Yenny.

Ia nampak selalu muncul dengan pesan positif yang menyatu dalam dirinya. Menebarkan cinta kasih terhadap sesama manusia meskipun beda dalam hal agama. Baginya, ia tidak perlu melihat agama seseorang tetapi lebih melihat kepada toleran atau tidaknya orang tersebut.

Kedamaian bagi seorang yenny menduduki posisi yang sangat penting dan sangat perlu untuk terus dikampanyekan. Namun hanya segelintir orang yang melakukannya, sehingga terkadang kebencian lebih muncul ke permukaan. Padahal sebenarnya peminat kedamaian lebih banyak dari pada pengejar kebencian.

Untuk itu, dalam momen sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 2015 kemarin, Yenny menghimbau kepada anak muda untuk lebih menyuarakan pesan-pesan positif berupa cinta kasih terhadap sesama. Media sosial yang hampir dijadikan teman akrab sehari-hari oleh anak muda hendaknya diisi dengan pesan yang mengalahkan hate speech.

Terkait posisi agama di Indonesia, menurut Yenny, sangat penting karena agama tersebut ikut membentuk kultur sosial masyarakat. Agama di Indonesia di satu sisi bisa berperan positif, di sisi lain juga bisa berperan negatif.

Berperan positif seperti gerakan-gerakan keagamaan yang baik pada awal kemerdekaan hingga sekarang dengan semangat nasionalisme. Namun, disisi lain ada paradoks-paradoks antara tingkat ekspresi keagamaan dengan tingkat korupsi yang masih tinggi di Indonesia.

Menurut Yenny, umat beragama hendaknya menggali lebih dalam lagi ajaran-ajaran agamanya dan mengkampanyekan sisi-sisi baik dari agamanya untuk menyebarkan kebaikan di masyarakat. Jika hal tersebut bisa dilakukan, maka akan menjadi kekuatan besar yang mentransformasi masyarakat Indonesia.

Ketika ditanya tentang penyebab terjadinya paradoks-paradoks dalam beragama, Yenny menuturkan bahwa paradoks-paradoks itu tercipta karena pemeluk agama lebih dogmatis, namun tidak fungsional. Konsekuensinya bagi pemeluk agama adalah lebih mengedepankan ritual-ritual keagamaan namun pemupukan nilai-nilai keagamaan masih lemah sekali.

Berkaitan dengan agama tersebut, Yenny berpendapat bahwa pemerintah hanya perlu untuk memfasilitasi karena jika pemerintah terlalu dalam ikut campur dalam kehidupan keberagamaan, maka akan terjadi distorsi terhadap agama itu sendiri. Sementara pemuka agama diharapkan lebih menahan diri untuk menggunakan agama sebagai kepentingan politik sesaat.

Sebagai politisi perempuan yang masih tergolong muda, Yenny nampaknya cukup bijaksana dalam memahami permasalahan dan fenomena yang muncul. Hal ini dapat dilihat dari argumen Yenny yang saya dengar di media internet.

Ia berpendapat, fenomena serangan brutal terhadap kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Perancis merupakan aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia berharap masyarakat Indonesia menilai masalah tersebut dengan jernih dan tidak terprovokasi untuk mengaitkannya dengan masalah agama. Ungkapnya, kegiatan brutal tersebut tidak dibenarkan atas nama apapun termasuk atas nama agama.

Tidak diragukan lagi bahwa seorang Yenny Wahid merupakan politisi perempuan yang pluralis. Pemikiran-pemikirannya hampir tidak pernah mengesampingkan kepentingan masyarakat umum. Dalam event yang diabadikan oleh Republika Online, ia tidak segan-segan memberi masukan khusus kepada presiden Jokowi untuk merealisasikan janji-janjinya untuk menegakkan konstitusi dan menjamin setiap warga negara terlindungi hak dan kebebasannya dalam beragama. Hal itu tidak lain digagas untuk kepentingan orang banyak, serta menjunjung tinggi kemakmuran masyarakat.

Tidak kalah menarik untuk dicacat terkait kebebasan beragama, berkeyakinan dan intoleransi. Yenny Wahid mewakili The Wahid Institute merekomendasikan  beberapa point utama kepada pemerintah.

Pertama, mendesak pemerintah dan DPR agar melaksanakan fungsi pemantauan, pemantauan dan evaluasi secara lebih ketat terhadap pelaksanaan Undang-Undang pemerintah daerah.

Kedua, mendesak pemerintah dan DPR agar merevisi atau mencabut sejumlah peraturan perundang-undangan bagi pemerintah pusat ataupun daerah yang melanggar HAM dan kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti diskriminasi.

Ketiga, mendesak pemerintah dan DPR untuk segera menyusun undang-undang tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan untuk memperkuat jaminan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Yenny Wahid sebagai potret perempuan ideal
Nampaknya masyarakat postmodern menghendaki perempuan untuk semakin berperan aktif dalam pendidikan dan ranah publik. Namun, peran perempuan dalam hal reproduksi tetap tidak bisa dielakkan. Perempuan tetap memiliki peran mengandung, melahirkan dan kedudukan sebagai ibu.

Saya semakin mengagumi sosok Yenny Wahid saat menyaksikan beberapa tayangan tentang Yenny mengenai perlakuan seimbang atas perannya di sektor publik dan domestik. Bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai politisi tersebut memiliki semangat yang tidak kalah besar dalam menjadi ibu yang hebat bagi anak-anaknya.

Melihat realitas yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, banyak anak yang kurang mendapatkan kasih sayang, ketika ibunya aktif di luar menjadi wanita karier.

Namun, hal demikian tidak terjadi pada keluarga Yenny. Ia tetap memberikan kasih sayang dan perhatian cukup bagi anak-anaknya. Bahkan, ia selalu mengkampanyekan kepada para ibu untuk memberikan ASI eksklusif bagi anak-anaknya.

Ia juga membentuk anak-anaknya menjadi pribadi yang memiliki budaya membaca seperti Gus Dur. Ia berkeinginan membentuk generasi penerus yang berkualitas dengan memberikan pendidikan maksimal kepada anak-anaknya.

Bagi seorang Yenny Wahid, kehadiran anak menimbulkan dampak yang sangat berarti bagi kehidupan dan kariernya, serta merupakan dorongan yang lebih kuat untuk menggeluti dunia politik. Menurutnya, secara waktu memang susah untuk membagi secara adil peran sebagai ibu dan politisi, namun secara niat menjadi lebih kuat.

Hal ini terlihat dalam ungkapan Yenny di sebuah wawancara. Ia mengungkapkan bahwa perjuangannya dalam berpolitik dibarengi oleh harapan agar anak-anaknya kelak hidup dalam negara yang damai, adil dan lebih baik. Ia ingin anaknya nanti menikmati kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya. Ia juga berharap anaknya-anaknya kelak dilayani oleh birokrasi yang benar-benar manusiawi dan memiliki keinginan untuk melayani masyarakat.

Itulah segelintir keistimewaan seorang Yenny Wahid yang berhasil saya tangkap dan saya paparkan dalam tulisan ini. Di tengah-tengah arus politik yang semakin menggila, ia hadir berbeda dari yang lainnya.

Pluralisme ia pegang kuat-kuat dalam berbagai aspek ehidupannya. Politik ia gunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup bernegara yang damai dan kehidupan yang lebih baik. Keluarga tidak menjadi hambatan untuk terus berkarya kepada bangsa dan agama.

Status keperempuanannya tidak menajdi batu terjal untuk sampai pada prestasi yang gemilang. Dan selanjutnya, profil, sosok dan figur ketokohan Yenni Wahid layak untuk dijadikan inspirasi perempuan-perempuan Indonesia. (*)

SETIAMIN, Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Tulungagung, Jawa Timur; Aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Forum Perempuan Filsafat (FPF)

0 Response to "Profil Yenni Wahid, Figur Politisi Perempuan Berwatak Pluralis"

Post a Comment