Asal Usul Terbentuknya Alam Semesta Menurut Islam dan Sains

JAKARTA, Islamcendekia.com - Asal usul terbentuknya alam semesta menurut Islam dan sains modern dalam teori Big Bang yang dicetuskan Edwin Hubble pada tahun 1929 terjadi kesesuaian. Bahwa, proses penciptaan alam semesta dimulai dari sebuah ketiadaan.

Dalam pandangan Islam, apa yang dikehendaki Allah akan terjadi. Cukup mengucapkan "kun", maka terjadilah! Hingga pada suatu ketika, Allah berkehendak ingin menciptakan alam semesta. Kun! Maka, terjadi ledakan cahaya dahsyat yang disebut Edwin Hubble sebagai Big Bang.

Ledakan cahaya itulah yang disebut dalam Al Quran Surat An Nur Ayat 35 sebagai cahaya sejati. Para kalangan sufi menyebutnya, Nur Muhammad atau cahaya Muhammad, sebuah cahaya terpuji yang menjadi asal usul, awal terbentuknya alam semesta.

Emha Ainun Najib atau kita akrab memanggilnya Cak Nun mengatakan, hampir semua buku-buku, literatur di dunia Islam menulis bahwa Muhammad adalah Kanjeng Nabi / Rasulullah Saw yang dilahirkan dari pernikahan Abdullah dan Siti Aminah, hidup dalam rentang waktu 63 tahun.

Asal Usul Terbentuknya Alam Semesta Menurut Islam dan Sains

Padahal, apakah Muhammad umurnya hanya 63 tahun? Cak Nun kemudian menyebut Rasulullah hidup dari awal penciptaan alam semesta sampai akhir semesta, terserah Allah. Sampai sekarang, Muhammad hidup di alam semesta, tidak tahu di mana, di bumi belahan mana, di planet mana, kehadirannya sebagai pemberi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Nabi Muhammad Saw yang dilahirkan Abdullah dan Siti Aminah adalah wujud dari Muhammad pada zaman itu. Tentu, ada peran "Muhammad" di era yang lain, di planet yang berbeda, atau di bagian semesta yang mana. Ini yang disebut dengan Muhammad, The Eternal Light, Cahaya Abadi.

Kembali ke proses penciptaan alam semesta, makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah Nur Muhammad (cahaya Muhammad). Kemudian atas kehendak Allah, terjadi peristiwa ledakan dahsyat yang disebut dalam sains modern adalah Big Bang.

Setelah peristiwa Big Bang, kemudian terjadi putaran-putaran dahsyat, ada pemadatan yang disebut dengan tata surya. Ada yang kemudian masih berpijar, gasnya memancarkan cahaya yang kemudian orang Indonesia menyebutnya "matahari" atau "sun".

Pinggiran-pinggiran juga memadat menjadi planet, begitu juga seterusnya ada bapak anak, bapak anak sampai cucu dengan apa yang disebut satelit. Satelit bumi itu dinamakan bulan. Ada bermilyar-milyar tata surya di semesta ini.

Ada 7 lapis galaksi dari hasil perputaran akibat Big Bang, pada setiap bulatan-bulatan ada bumi dan planet-planet lainnya. Ada juga 7 lapisan yang seluruhnya dipandang dari jarak jauh berbentuk jajaran genjang. Pusat jajaran genjang itu adalah titiknya Ka'bah yang sekarang berada di Mekkah.

Tafsir ini berlandaskan pada Al Quran Surat An Nur ayat 35. Allah sendiri menyebut dirinya sebagai cahaya. Nuurun ala nur, cahaya di atas cahaya.

Dilihat dari penafsiran tersebut, ilmu pengetahuan atau sains modern dan agama Islam yang berlandaskan Alquran terjadi kesesuaian. Sebab, Al Quran adalah sebuah kitab petunjuk yang dibuat Allah kepada umat manusia agar tidak tersesat, agar bisa mencari apa arti, makna, dan hakikat kehidupan bahwa sejatinya hidup adalah mencari cahaya sejati, bertemu dengan Allah.

Dalam kajian atau studi di perguruan tinggi, teori yang menjadi dasar proses terbentuknya alam semesta terinspirasi dari Alquran Al Sajdah ayat 4 yang artinya: "Allah yang menciptakan langit dan bumi, serta segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy."

Dalam Al-Qur'an Surat Al Anbiya ayat 30 juga disebutkan, "Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bila langit dan bumi dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya." Ditinjau dari ilmu pengetahuan (science), ini sudah sesuai dengan teori Big Bang, awalnya satu padu setelah itu terjadi ledakan dahsyat hingga membentuk tata surya yang di dalamnya terdapat matahari dan planet-planet.

Dalam Al-Qur'an Al Baqarah ayat 29 kemudian dijelaskan, "Lalu dijadikan-Nya tujuh langit." Dalam Alquran An Nazi'at ayat 29 dijelaskan lagi bahwa Allah menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadian siangnya terang benderang.

Dilanjutkan Al-Qur'an An Naziat ayat 30 bahwa sesudah itu, bumi dihamparkan oleh Allah. Disambung dengan QS al Anbiya ayat 30 bahwa dari air, Allah menjadikan segala sesuatu yang hidup.

Ilmuwan sepakat, di mana ada tanda-tanda air, di situ pernah ada kehidupan. Hingga, para ilmuwan meneliti apakah planet Mars dulu ada tanda-tanda kehidupan, karena terdapat semacam sungai yang diduga pernah dialiri air. Hal itu sudah sesuai dengan agama Islam dalam Al-Qur'an bahwa Allah menjadikan segala sesuatu yang hidup dari air. (*)

0 Response to "Asal Usul Terbentuknya Alam Semesta Menurut Islam dan Sains"

Post a Comment