Analisis tentang Peristiwa Aksi 4 November, Apa yang Salah?

ADA berbagai macam tanggapan atas aksi demonstrasi pada tanggal 4 November 2016 yang menuntut proses hukum kepada Gubernur incumbent Basuki Tjahatja Purnama yang dituduh telah melakukan penistaan agama ketika menyampaikan pidato di Pulau Seribu.Reaksi mungkin lebih banyak datang dari kubu internal warga muslim sendiri.

Oleh: Nailus Surur *

Ada kubu yang berargumen jika aksi demonstrasi yang dilakukan adalah aksi kekerasan yang tak mencerminkan Islam sebagai agama yang damai. Ada pula pihak yang yang sependapat jika memang seharusnya aksi demonstrasi dilakukan karena tindakan Ahok, begitu Basuki disapa akrab, sudah terlanjur kelewatan karena membawa ayat kitab suci secara abusive.

Dan segelintir cibiran dari pemeluk agama sebelah, dengan mengutip Matius 5:39 dan Roma 12:21 yang kedua ayat tersebut berkata secara berurutan jika ada yang menampar pipi kanan, maka berikan pipi kiri dan kejahatan tak perlu dibalas oleh kejahatan.

Analisis tentang Peristiwa Aksi 4 November

Ayat yang dikutip oleh akun Instagram @octaviawon senada berkata bahwa agama yang dipercayainya adalah agama damai dan pastinya tidak menyukai kekerasan. Dengan hashtag #saveahok yang berarti pengkutipan tersebut dan segala elaborasi pemilik akun mengandung unsur negasi yang mengarah kepada tindakan demonstrasi oleh pihak pemeluk agama tetangganya, yang selama ini demonstrasi dikonotasikan sebagai kegiatan destruktif dan barbar.

Oleh karena itu, pengkutipan dua ayat tersebut, Matius dan Roma, merupakan penjustifikasian jika kegiatan demonstrasi terhadap saudara Ahok tidak mencerminkan sifat arif yang diajarkan oleh Bibel. Perlu kiranya kita kaji bersama pendapat dari ketiga pihak yang menunjukkan reaksinya terhadap aksi 4 November.

Disadari atau tidak, wacana demonstrasi di Indonesia memang sengaja atau tidak sengaja diarahkan kepada wacana marginal yang miring. Maksud saya, kegiatan demonstrasi selalu digambarkan oleh media manapun sebagai tindakan yang kurang baik karena berdampak pada perusakan fasilitas umum.

Misalnya, di media cetak ataupun digital, kegiatan demonstrasi selalu diidentikkan dengan aksi bakar ban dan bentrok dengan pihak kepolisian yang sarat kekerasan. Padahal, demostrasi berdenotasi pada kegiatan menyuarakan aspirasi kepada pihak pemerintah ketika suara rakyat tak berhasil disampaikan atau didengar melalui media-media lain.

Jadi, media demonstrasi yang dianggap efektif diambil karena bersifat kontak langsung dengan pihak penguasa. Pergeseran wacana bukanlah hal yang baru sebenarnya di Indonesia.

Misal, wacana tentang PKI ketika orde lama dan orde baru sangatlah berbeda menurut Eriyanto di buku Analisis Wacana Media yang mengacu pada konsep marginalized discourse dan dominant discoursenya Foucault.

Ketika wacana tentang demonstrasi dibentuk sedemikian rupa, maka tak heran jika pihak pertama beranggapan bahwa demontrasi yang dialgojoi oleh Front Pembela Islam, yang menyuarakan proses hukum kepada Gubernur petahana, diangap akan berakhir ricuh dan hal itu mencitrakan Islam sebagai agama yang tidak cinta damai.

Oleh karena itu, pihak pendemo tidak memilih kata “demonstrasi” melainkan “aksi damai” untuk menghilangkan konotasi barbar dari kegiatan menyampaikan aspirasi itu. Bisa saja, penggeseran wacana demonstrasi kepada makna yang negatif merupakan strategi pemerintah untuk meminimalisir kritik langsung dari masyarakatnya agar para penguasa bisa leyah-leyeh.

Sesuai dengan pernyataan Gramsci tentang kekuasaan yang diterapkan dalam hubungan penguasa dan masyarakat proletar bisa terjadi melalui proses ‘normalisasi’ yang berakibat pada ideologi semu golongan orang yang dikuasai, yang dalam kasus ini adalah pendiktean wacana demonstrasi oleh pemerintah.

Bersebrangan kelompok pertama, kelompok kedua adalah pendukung atau agent dari aksi damai 4 November. Kelompok ini berpendapat bahwa Islam sudah dinistakan lewat penghinaan suratal-Maidah ayat 51. Kata-kata Basuki yang dinilai menistakan al-Quran adalah dalam kalimat “dibohongi pakai surat al-Maidah 51”atau “dibohongi surat al-Maidah 51”.

Jadi, dengan tindakan yang dianggap tidak terpuji ini, Basuki pantas melalui proses hukum karena dituduh melakukan religious blasphemy. Jika dilakukan pendekatan melalui kacamata pragmatik lingusitik, bisa dikata Ahok tidak menggunakan pengetahuannya dengan baik tentang siapa dia berbicara dan apalagi ada kemungkinan direkam lalu disebar-luaskan di internet, dan begitu sekarang kenyataannya.

Dalam Pragmatics, ada tindakan yang disebut sebagai presupposition, yang menurut George Yule dalam bukunya Pragmatics adalah kegiatan berfikir yang dilakukan seseorang sebelum mengutarakan ujaran. Misalnya, ketika Ahok mengutarakan kalimat tersebut, Ahok akan berpraangapan bahwa surat al-Maidah itu ada, ia adalah salah satu ayat dalam kitab suci orang Islam.

Jika Ahok lebih bisa menggunakan background knowledgenya sebagai orang yang mempunyai keyakinan berbeda yang sedang menyinggung kitab suci bukan dari golongannya, maka penuduhan atasnya mungkin tak akan terjadi. Atau jika dia bisa lebih berhati-hati, menghindari penyebutan lebel agama adalah jalan terbaik.

Menurut analisis ini, masih belum bisa dibenarkan apakah Ahok benar-benar melakukan penisataan atau tidak. Kita lanjut kepada analisis semantik dari kalimat itu sendiri tanpa meyertakan konteks. Ahok menggunakan kata kerja pasif yaitu “dibohongi” yang agen atau pelakunya tidak diketahui atau disamarkan.

Azzar menyebut ini sebagai stative passive atau passive no agent. Dalam pendekatan yang lebih kritis, strategi penghilangan agen atau pelaku bisa berarti ketidak-pentingan informasi tentang si pelaku yang “membohongi” karena mungkin sudah banyak yang tahu siapa yang “membohongi” karena dalam konteks masa pemilihan gubernur Jakarta, masyarakat mungkin akan menebak jika pelakunya(yang membohongi)adalah lawan politik Ahok.

Atau, dengan menghilangkan agen, Ahok ingin menitik-beratkan perkatannya pada al-Maidah 51, yang lagi-lagi menurut presupposition dia adalah ayat yang sering dijadikan alat politik dan multi-tafsir. Lagi-lagi, analisis yang kedua masih belum bisa menjatuhkan Ahok sebagai pelaku.

Oleh karena itu, keambiguan yang terkandung dalam perkataan Ahok seharusnya langsung ditanggapi oleh pemerintah. Maka tak heran jika sekelompok orang seperti kelompok kedua menganggap perkataan Ahok adalah sebuah penistaan; oleh karena itu, hukum lah yang akan menentukan salah atau tidaknya.

Toh, di pengadilan ada proses hukum, bukan berarti yang masuk peradilan sudah berarti akan terhukum. Menurut hemat saya, demonstrasi yang dilakukan sama sekali tidak ada salahnya dan tak pantas mendapat kecaman karena aksi atau unjuk rasa memang sesuatu yang harus dilakukan di Negara demokrasi ketika pemerintah dianggap lengah menangani sebuah perkara.

Jika wacana tentang aksi demonstrasi masih terpinggirkan, maka Negara kita masih belum dewasa dalam kehidupan berdemokrasi. Yang pelu dikecam bukanlah aksi demonstrasi, tapi mereka para oknum demonstran yang melakukan kekerasan.

4 November vs Perang Salib (Crusades)
Saya sangat geram ketika ada orang yang berasal dari tradisi dan keagamaan lain menjudge Islam sebegitu dangkalnya sebagai agama yang penuh dengan kekerasan dan kejahatan. Seperti akun Instagram yang saya sebutkan di atas, betapapun, dia sudah melakukan stereotyping secara halus dan bersifat etnosentrisme berlebihan terhadap agamanya sendiri.

Agama Islam mengajarkan umatnya untuk selalu membaca basmalah dalam setiap kegiatan, bismillahirrahmanirrahim yang artinya “dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”.

Bagaimana mungkin Tuhan kami yang maha kasih dan maha penyayang mengajari umatnya untuk berbuat barbar. Dan saya berkeyakinan jika tak ada agama di dunia yang mengajarkan kebencian.

Jika orang-orang yang berasal dari agama tetangga masih bersikukuh berdiri atas pendiriannya jika Islam adalah religion of war and religion of terror yang dicitrakan oleh segelintir kecil para oknum Muslim, mari saya ingatkan kepada peristiwa perang Suci yang digaungkan oleh Paus Urban II untuk memerangi orang Islam yang menduduki Jerussalem pada waktu itu.

Perang Suci atas perintah Paus, pemimpin tertinggi gereja Kristen yang bermarkas di Vatikan, menyeru kepada raja-raja Eropa untuk memerangi tentara Muslim selama hampir dua abad lamanya.

Jadi pertanyaan saya, apakah Paus tidak hafal ayat Matius (5:39) yang katanya ketika ditampar pipi kanan, maka berilah pipi kiri? Sehingga bisa-bisanya perang Salib(Crusades) terlaksanakan.

Jadi anggap saja, Habib Rizieq adalah pimpinan tertinggi pada aksi damai 4 November, untung beliau tidak bertindak seperti Paus yang menyerukan perang suci dengan pedang.

Bahkan Joesoef Sou’yb dalam bukunya Orientalisme dan Islam membagi Perang Salib ke dalam periodesasi yang lebih detil, yaitu fase Perang Salib tahun 1208-1213, di mana orang-orang Arianisme yang mempunyai paham yang dianggap heresy atau bid’ah diperanngi atas anjuran pimpinan tertinggi gereja yang pada waktu itu dipimpin oleh Paus Innocent III.

Saya menganggap kegelapan dalam sejarah Eropa yang dilakukan oleh gereja adalah dilakukan oleh oknum, akan tetapi jika image dari Islam masih saja didasarkan kepada para oknum, mungkin saya bisa menunjukkan siapa di antara kita yang lebih oknum.

*) Penulis adalah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur

0 Response to "Analisis tentang Peristiwa Aksi 4 November, Apa yang Salah?"

Post a Comment