Santri, Pemeluk Agama yang Membumi dan Nasionalis Sejati

BETAPA menarik, sekalipun sekilas nampak paradoks, ketika ribuan orang berpeci putih berkumpul dan menyampaikan kegeraman dan amarah mereka kepada Ahok, bahkan dibumbui juga dengan kata-kata provokatif semacam “bunuh” dan “bakar” yang bisa saja rentan memicu konflik sektarian di tengah masyarakat, kita justru melihat pemandangan lain yang lebih humanis dan patriotis yang ditunjukkan oleh para santri dengan peci dan sarung kebanggaannya di berbagai pelosok negeri.

Mereka menyampaikan cinta dan dukungan yang demikian besar terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia di atas segala perbedaan yang ada. Begitu banyak kampanye kedamaian yang diserukan pada perhelatan hari santri, slogan semacam “garuda di dadaku, peci di kepalaku”, “kekerasan dan kebencian bukan untuk Indonesia”, hingga “merajut kebhinekaan dan kedaulatan Indonesia” ramai didengungkan oleh mereka yang merayakan hari santri di mana-mana sebagai bentuk semangat dan cinta terhadap Indonesia yang harmonis di tengah hetergonitas agama, kepercayaan dan identitas yang ada.
Santri Pemeluk Agama yang Membumi dan Nasionalis Sejati
Amar Alfikar

Rizka Chamami dalam artikelnya di website resmi PBNU (NU Online, nu.or.id) berjudul Hari Santri Meneguhkan Keutuhan NKRI (30/9), mengatakan bahwa disintegrasi di tengah masyarakat Indonesia menjadi tantangan besar hari ini, hari santri nasional diharapkan bisa mendorong semua rakyat Indonesia, tidak hanya santri, untuk terus menjaga nasionalisme dan keutuhan serta persatuan Indonesia.

Santri di medan perang
Pemilihan tanggal hari santri nasional secara historis merujuk pada momentum penting dalam sejarah Indonesia pada bulan Oktober 1945 ketika ulama terkemuka seperti Hasyim Asyari dan Wahab Hasbullah (pendiri Nahdlatul Ulama), mengeluarkan fatwa resolusi jihad yang bertujuan untuk mengajak seluruh muslim untuk maju melawan penjajah.

Peristiwa ini disebut-sebut sebagai peristiwa awal yang berhubungan dengan pecahnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 di mana puluhan ribu tentara dan ratusan ribu relawan berperang melawan tentara Inggris, perang bersejarah ini kemudian diperingati sebagai hari pahlawan nasional.

Sebelum fatwa resolusi jihad itu dikeluarkan, Soekarno menemui Hasyim Asyari untuk meminta bantuan ketika Soekarno mendapat informasi bahwa pasukan Inggris akan bergerak ke Surabaya.

Hasyim Asyari kemudian memanggil Wahab Hasbullah serta para ulama lainnya dari Jawa dan Madura untuk berembug secara serius terkait kondisi yang dianggap darurat dan mendesak tersebut.

Para ulama menggelar pertemuan penting di pesantren Tebuireng Jombang yang bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat dan santri agar berkenan menjadi barisan terdepan melawan tentara Inggris, resolusi jihad pun didengungkan.

Praktis, sejak itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas untuk pelatihan perang bagi santri dan masyarakat. Bersama-sama dengan relawan lainnya, para santri mengambil bagian dalam Pertempuran Surabaya atas nama kemerdekaan Indonesia.

Santri hari ini
Hari ini, merayakan perjuangan para pendahulu tidaklah dengan mengangkat senjata dan melakukan peperangan fisik dan pertumpahan darah. Namun, justru dengan menjaga sebaik-baiknya integrasi nasional bersama-sama dengan berbagai elemen lain bangsa ini.

Perang suci yang digelorakan para ulama dan santri di medan pertempuran terdahulu bukanlah bertujuan untuk melawan bangsa sendiri, sekalipun berbeda keyakinan maupun ras.

Sebaliknya, mengingat Indonesia lahir dan besar dalam ruang keragaman bangsa yang demikian berwarna, maka tujuan dari aktivitas keagamaan di negeri ini haruslah diletakkan dalam kampanye kedamaian terhadap perbedaan, seperti apa yang dilakukan oleh kaum santri dalam merefleksikan nilai dan diri mereka dalam perayaan hari santri nasional.

Berkebalikan dengan perspektif keagamaan yang kerap kali mengedepankan amarah dan kebencian, kyai dan santri memegang peranan penting untuk setia mempromosikan cinta dan kasih sayang dalam penghayatan dan pemahaman keagamaan yang diejawantahkan dalam laku sosial sehari-sehari.

Ketimbang menghabiskan energi dalam perdebatan keagamaan yang pelik dan panjang, yang kerapkali lahir dari kepentingan-kepentingan politik praktis, santri justru memilih untuk merayakan hari santri nasional dengan berbagai ragam agenda yang mempertontonkan nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme.

Salah satunya adalah kirab santri yang merupakan helatan nasional yang digagas oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan tujuan untuk terus menjaga silaturahmi dengan seluruh ulama dan sekaligus mengunjungi berbagai pesantren di pelosok negeri.

Kirab santri merupakan ruang untuk mempererat tali persaudaraan yang sekaligus mencerminkan gagasan bahwa interaksi yang penuh keteduhan adalah kunci bagi bangsa ini untuk mengurangi pertikaian dan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Berbagai konflik agama yang menghancurkan sebagian negeri di Timur Tengah harus menjadi pelajaran berharga betapa pentingnya penenaman dan perawatan nilai-nilai Islam yang teduh di negeri ini.

Lebih lanjut, kegiatan-kegiatan tradisional juga dihelat oleh panitia-panitia lokal hari santri nasional di berbagai daerah dan kabupaten sebagai wujud konsistensi merawat nilai-nilai kebudayaan yang demikian kaya di negeri ini.

Beragam kegiatan tersebut, baik yang diinisiasi secara nasional maupun regional, membawa pesan penting bahwa perjuangan atas nama agama haruslah ditempatkan dalam satu ruh dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan yang penuh kedamaian.

Dengan demikian, santri tidak hanya merepresentasikan diri sebagai pemeluk agama yang setia dan membumi, tetapi sekaligus juga sebagai seorang nasionalis yang sejati.

Amar Alfikar,  Pengurus Lembaga Pers dan Jurnalistik PC IPNU (Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Kabupaten Kendal; Pengurus Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah

0 Response to "Santri, Pemeluk Agama yang Membumi dan Nasionalis Sejati"

Post a Comment