Tabayyun untuk Indonesia, Berita Diproduksi & Dimonopoli Orang Fasik

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Quran Surat Al  Hujuraat ayat 6)

Adapun kisah di balik turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) sebagai berikut: Nabi Muhammad mendengar berita yang dihembuskan oleh beberapa orang fasik. Isi beritanya menyebutkan, Bani Al Musthaliq tidak mau membayar zakat dan akan menyerang Madinah.

Tabayyun untuk Indonesia Berita Diproduksi Dimonopoli Orang Fasik
Beliau tidak langsung percaya, karena Bani Al Musthaliq termasuk golongan sahabat yang tidak neko-neko. Untuk berjaga dari kemungkinan terburuk, beliau mempraktekkan tabayyun (memeriksa dengan teliti). Khalid bin Walid adalah orang yang diutus untuk memastikan benar atau tidak berita tersebut. Ternyata tidak benar.

Keadaan zaman telah berubah. Dahulu masih ada Nabi Muhammad sebagai representasi langsung dari kehendak Allah. Sekarang, banyak orang yang telah lupa. Lupa karena terlalu sibuk mengejar dunia. Padahal, dunia terus berputar. Lalu, tak lelahkah mereka mengejar dunia yang terus berputar?

Para pendakwah adalah pewaris para nabi. Seharusnya mereka mengingatkan orang-orang yang telah lupa. Tapi, lihatlah para pendakwah itu! Yang sering tampil di televisi. Yang seringkali materi ceramahnya “kopian”. Yang mempunyai latar belakang profesi beragam, ustadz, ustadzah, selebritis, dan beberapa politisi. Bah, dakwah kok dijadikan profesi.

Gila! Mungkin itu yang terlintas dalam benak kita. Inilah zaman edan yang telah diramalkan oleh Ronggowarsito. Mengejar dunia sudah menjadi barang yang lazim di zaman ini. Bila tidak mau, tentu kita akan tertinggal. Setelah tertinggal, akhirnya kita akan menyerah.

Tunggu! Jangan menyerah terlebih dahulu. Pemaparan di atas hanyalah berita yang nampak secara kasat mata saja. Tak lain untuk menguji sejauh mana praktek tabayyun kita. Sudahkah kita melihat keadaan selain itu?

Allah masih ada dan menyayangi kita. Kesadaran ini penting sekali untuk kita tanamkan dalam hati. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.”

Jadi, bila meyakini bahwa Allah masih ada dan menyayangi kita, maka dengan kehendak-Nya pula kita akan dibimbing ke jalan yang lebih baik. Yaitu jalan yang telah ditempuh oleh kekasih-Nya, Rasulullah Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad adalah pemimpin kita. Pemimpin yang laku-nya patut dijadikan contoh. Cobalah sesekali keluar dari zaman yang serba hingar bingar ini. Untuk kemudian menyepi, merenung, dan mengamati. Siapa sebenarnya yang gila, kita atau zaman?

Kalau kita yang gila, maka diri kita perlu di-tabayyuni. Sementara bila zamannya yang gila, tetap diri kita yang perlu di-tabayyuni. Kok tetap diri kita? Karena, keadaan zaman berjalan menyimpang akibat ulah diri kita masing-masing.

Bila sudah berhasil, yang menjadi prioritas tabayyun kita selanjutnya adalah Negara Indonesia. Karena di Negara Indonesia, berita diproduksi dan dimonopoli oleh orang-orang fasik. (Pengirim: mrizazakaria26@gmail.com)

0 Response to "Tabayyun untuk Indonesia, Berita Diproduksi & Dimonopoli Orang Fasik"

Post a Comment