Menguak Jejak Prabu Angling Dharma Beragama Islam dan Makamnya

PATI, Islamcendekia.com - Prabu Angling Dharma adalah raja agung dari Kerajaan Malawapati, lokasi makamnya diyakini terletak di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Namanya begitu tersohor, terkenal, dan legendaris dari ingatan manusia dari zaman ke zaman, dari satu peradaban ke peradaban lain. Tidak jelas kapan, tahun atau jaman keberadaan Kerajaan Angling Dharma.

Namun, Sang Raja Agung, Prabu Angling Dharma diyakini hidup pada masa Hindu menjadi agama mayoritas di Tanah Jawa, Bumi Nusantara yang kini bernama Indonesia. Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, mengayomi masyarakat dengan baik.

Makam Prabu Angling Dharma
Makam Prabu Angling Dharma di Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Pati

Dalam kisah, cerita tutur dan mitos yang berkembang, Prabu Angling Dharma tidak hanya negarawan ulung yang pandai ilmu tata negara, tetapi juga menguasai ilmu kanuragan, silat atau lebih tepatnya ksatria pilih tanding. Tidak hanya itu, Sang Raja juga bisa memahami bahasa hewan atau binatang, serta menguasai ilmu gaib tingkat tinggi.

Mirip dengan kemampuan Nabi Sulaiman As yang menjadi pemimpin bagi bangsa manusia, bangsa gaib, dan makhluk dari binatang. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dipercaya Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi, memimpin rakyat.

Maksun, seorang indigo asal Kecamatan Demak Kota, Jawa Tengah, saat berbincang dengan Islamcendekia.com mengatakan, Prabu Angling Darma adalah seorang raja bijaksana yang sebetulnya secara pribadi beragama Islam. Namun, demi rakyat yang dipimpinnya, dia menganut agama Hindu supaya tidak melukai hati masyarakat.

"Agamanya Islam, tapi dianut dan diyakini secara privat untuk pribadinya sendiri, tidak ditunjukkan kepada masyarakat. Itu disebabkan, sebagian besar penduduknya beragama Hindu. Dia seorang raja, rakyatnya belum menerima bila ada agama baru. Jadi dipakai sendiri," kata Maksun.

Informasi itu diketahui bukan dari literasi atau teks sejarah, melainkan dari informasi gaib yang ia peroleh. Lagipula, sampai saat ini belum ada buku sejarah yang mengakui cerita dan kisah Prabu Angling Darma sebagai sebuah fakta sejarah.

Meski demikian, nama Sang Prabu bersinar dan terus bersinar dari masa ke masa. Seperti kata seorang penulis asal Britania, H.G. Wells yang berkomentar tentang Raja Asoka, "Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut dirinya dengan kata Yang Agung atau Yang Sangat Mulia. Mereka bersinar selama waktu yang singkat, kemudian hilang. Tapi, Asoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang seperti bintang yang cemerlang, bahkan sampai sekarang."

Sama halnya Angling Darma, raja yang memiliki patih sakti bernama Batik Madrim ini namanya selalu dikenal dalam sejarah, meski keabsahan kisahnya belum diakui sebagai sebuah fakta sejarah. Bekas dan sisa-sisa kerajaannya pun belum ditemukan hingga sekarang.

Begitu juga dengan prasasti-prasasti yang menunjukkan cerita Angling Dharma juga belum ditemukan. Meski begitu, kisah legendanya selalu ada, menghiasi layar televisi (TV) Indonesia, diyakini dulu ada, meski tabir misterinya belum terbuka.

Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur juga diyakini sebagai tempat atau petilasan Sang Prabu. Namun, juru kunci makam Angling Darma di Kabupaten Pati, Suroso menuturkan bila di Kabupaten Bojonegoro hanyalah petisan saat dia dikutuk menjadi belibis putih oleh tiga peri atau siluman cantik.

Di Bojonegoro, dulu Bojanagara sebagaimana dikutip dari direktoripati.com, Prabu Angling Dharma mendapatkan seorang putri cantik, anak dari Raja Bojanagara. Dari istri ini, Sang Prabu dikaruniai seorang anak, Pangeran Angling Kusuma.

Setelah dewasa, Angling Kusuma menggantikan tahta kakeknya dan menjadi Raja Bojonegoro. Dari analisis tersebut, Suroso yakin jika makam Prabu Angling Darma berada di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Sedangkan Makam Batik Madrim berada di Desa Kedungwinong, Sukolilo yang jaraknya hanya sekitar 2 km dari makam Angling Darma. Tidak jauh dari tempat tersebut, juga ada Gua Eyang Naga Raja (ejaan Jawa: Nogo Rojo) yang diyakini sebagai tempat peristirahatannya.

Tempat-tempat tersebut sekarang ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menggelar wisata religi (religious tourism). Tentu, hanya orang-orang kalangan spiritualis-mistis, serta pegiat sejarah yang biasa mengunjungi makam tersebut untuk wisata religi.

Hanya saja, kepastian apakah Prabu Angling Dharma memeluk agama Islam atau Hindu, masih butuh riset, penelitian dan kajian yang mendalam untuk menguak tabir sejarahnya yang saat ini masih menjadi misteri. Lepas dari benar atau tidak, kisah perjalanan dan kepemimpinan Sang Prabu mesti menjadi teladan bersama.

5 Responses to "Menguak Jejak Prabu Angling Dharma Beragama Islam dan Makamnya"

  1. Ngawur.. Jaman saat itu islam belum ada di Tanah Jawa.

    ReplyDelete
  2. mungkin makamnya perlu digali, jika ada kain kafannya berarti dia muslim.

    ReplyDelete
  3. Bikin ngakak,,,,🤣🤣🤣
    Prabu angling Dharma dimakamkan??????
    Sang Prabu Moksa Mas bukan dimakamkan!!!!!!!!!!!

    ReplyDelete