Metode Tafsir Al Quran Bintu Syathi dan Makna Kata

Dalam dunia penafsiran, kata merupakan elemen terpenting dalam upaya penafsiran. Hal ini dilakukan untuk menyikap makna yang terkandung di dalamnya dan telah dilakukan baik dari masa tradisional maupun kontemporer. -- Muhammad Mabrur Barizi  *

buku Metode Tafsir Al Quran Bintu Syathi
Pada masa tradisionalis, terdapat dua madzhab akan pemaknaan kata, yakni tekstual dan kontekstual. Ranah tekstual cenderung mendewakan teks tanpa melihat integritas kata bahkan kalimat dan melupakan latar belakang teks.

Sementara itu, ranah kontekstual lebih menekankan pada sejarah dan latar belakang dari teks. Dari kedua mazhab ini, muncul pelbagai kritik disebabkan keduanya cenderung condong ke arah keahlian diri masing-masing dan dinilai tidak mampu memberikan hasil yang lebih tepat dengan apa yang dijelaskan al-Quran.

Bintu Syathi’ termasuk  sarjana yang ingin merubah kejumudan ini. Untuk menempuhnya itu, ia menawarkan metode pemaknaan kata yang lebih tepat dan koheren. Metode yang ia tawarkan adalah  Originally intended meaning of the Quranic words dan Originally intended qur’anic principles.

Originally intended meaning of the Quranic words atau al-Ma‘a̅ni al-‘Aṣi̅la adalah metode untuk menangkap makna kata dengan mencari makna asli dari kata. Kata-kata yang terdapat dalam al-Qur’an boleh jadi tidak mengandung makna asli kata itu sendiri (basic meaning). Tapi, sangat mungkin makna kata tersebut telah terpengaruh dari konteks ayat yang meliputi kata-kata yang berada di antara kata tersebut sehingga merubah makna asli kata tersebut.

Dalam ilmu semantik, ini disebut sebagai syntagmatic, akumulasinya adalah makna asli kata akan berubah (relational meaning). Latar belakang yang demikian ini menuntut upaya untuk menemukan makna asli dari kata tersebut.

Contoh kecil adalah kata kufr, makna asli dari kata kufr ialah tidak bersyukur lawan dari kata ṡukr. Meski demikian, ketika kata kufr masuk ke ranah al-Qur’an, maknanya jadi berbeda seperti kafir, ingkar dan seterusnya.

Hal ini tidak bisa terlepas dari bagaimana Alquran memandang kata tersebut (weltaunshuung) ataupun karena hubungan antar kata syntagmatic. Untuk memperoleh makna asli (basic meaning), kita dapat memperolehnya dari karya-karya sastra arab seperti kamus arab yang kompeten, syair-syair arab kuno (jahili) yang menjelaskan atau menggunkan kata tersebut.

Jika makna dasar kata telah ditemukan, maka pemaknaan kata menjadi tidak akan-akan kemana-mana (kabur) dalam artian lebih fokus. Apa yang menjadi dilemma pemaknaan kata ialah salah satunya karena tidak mengetahui makna dasar kata yang dicari.

Sementara itu, Originally intended qur’anic principles atau al-Maba̅di’ al-Qur’aniya al-Aṣi̅la mencari makna kata yang makna tersebut merupakan makna yang ingin disampaikan al-qur’an. Makna kata pada ranah ini dilihat dari bagaimana al-Quran menjelaskannya, sehingga makna dasar kata tersebut secara otomatis akan tergantikan dengan makna yang baru walaupun makna dasar itu akan selalu ada.

Makna yang diinginkan Al Quran ini setidaknya bisa diperoleh dari konteks kata tersebut (satu kesatuan dalam ayat/ syntagmatic).analisis Syntagmatic ialah mencari pemaknaan suatu kata dengan melihat kata-kata setelahnya atau sebelumnya sehingga menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Analisis ini diperlukan untuk melihat konteks ayat tersebut, bisa dikatakan apa yang menjadi inti pembicaraan pada ayat tersebut. Sehingga pemaknaan kata yang dipilih harus mengikuti alur pada ayat tersebut.

Tetap dengan kata kufr, kata ini bisa berarti al-Ibra̅’ (terbebas) yang sama sekali berbeda dengan makna aslinya. Dapat dilihat pada potongan ayat, Inni Kafartu bi ma̅ Aṡraktumu̅ni min Qabl  (aku terbebas dari segala sesuatu yang kalian sekutukan kepada-Ku sebelumnya).

Tentunya makna kata kufr  disini bukan lagi tidak bersyukur akan tetapi terbebas. Dengan begitu makna yang dimaksud al-Qur’an setidaknya bisa diperoleh dari hubungan antar kata tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Hirsch yakni “the meaning of any word is determined according to its coexistence the words that surround it”, makna tiap kata ditentukan berdasarkan kepada keberdampingan kata-kata yang melingkupinya.

Melihat metode diatas, tampak usaha yang dilakukan Bintu Syathi’ adalah menempatkan kata al-Qur’an pada tempatnya. Tentu hal ini merujuk pada slogan utama pemikiran Bintu Syathi’ yakni al-qur’an kitab sastra Arab terbesar.

Dengan mengungkap makna kata melalui pendekatan lingustik yang amat erat kaitanya dengan kajian kesusastraan. Bahkan terlebih, keuntungan dari metode diatas ialah membimbing dalam memahami ungkapan retorik al-Qur’an yang di setiap katanya tidak dapat mengganti kata yang lain dengan makna yang sama. Dengan demikian, antara prinsip dan metode penafsiran Al Quran Bintu Syathi’ sangatlah relevan.

*) Muhammad Mabrur Barizi, Anggota Riset, Kajian dan Dakwah Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Daftar pustaka
Syamsuddin, Sahiron ,  An examination of Bint al-Ṡa̅ti’ method of interpreting the Quran (Master thesis under supervision of Prof. Dr Issa J. Boullata at McGill University, Yogyakarta: Canada, Indonesia Academic Society XXI and Titan Ilahi Press, 1999.
Syamsuddin, Sahiron, Tafsir Studies, Yogyakarta: elSAQ Press, 2009.
Software Maktabah Syamilah, CD 10

0 Response to "Metode Tafsir Al Quran Bintu Syathi dan Makna Kata"

Post a Comment