Santri Durrotu Aswaja Diajak Melawan Berita dan Informasi Hoax

SEMARANG, Islamcendekia.com  – Pondok Pesantren (Ponpes) Durrotu Aswaja menghelat dialog bertema "Menyikapi Berita Hoax dan Santun dalam Bermedia Sosial."

Dialog interaktif digelar di Aula pertemuan Pesantren Durruto Aswaja yang beralamat di Jalan Kalimasada Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Semarang Kota, Rabu (18/1) malam.

Pembicara dalam dialog interaktif tersebut, antara lain Wakil Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasry Nahdlatu Ulama (LTN NU) Jepara M Abdullah Badri dan Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah Hamidulloh Ibda.

Santri Durrotu Aswaja Diajak Melawan Berita dan Informasi Hoax

Badri mengatakan, orang yang mengonsumsi berita hoax mesti cerdas. Pasalnya, santri saat ini acapkali menelan mentah-mentah apa saja yang beredar di media sosial (medsos). “Kalau tidak memakai pola pikir yang benar, berita hoax dikonsumsi mentah-mentah, kita akan mudah mengatakan kafir, Cina, Wahabi, Yahudi, halal darahnya, dan ujaran-ujaran kebencian lainnya. Santri NU tidak boleh seperti itu. Harus cerdas menyikapinya," kata Badri di depan ratusan santri.

Penulis buku "Kritik Tanpa Solusi" itu juga menjelaskan, dalam dunia pemberitaan, berita hoax tidak selamanya bohong, tapi biasanya ada yang direkayasa. Bahkan, informasi hoax bisa menjadi propaganda untuk tujuan dan kepentingan tertentu.

“Hoax itu tidak selamanya bohong, dapat dibuat nyata, tapi catatannya yang bohong. Kalau berita palsu (fake news), jelas itu direkayasa dan tidak jelas rujukannya. Jadi, hal itu harus dibedakan mana yang hoax news dan mana yang fake news,” imbuhnya.

Alumnus Madrasah Aliyah (MA) TBS Kudus tersebut mencontohkan, NU saat ini sedang diserang dengan memberitakan hoax Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj. Menurutnya, Indonesia dan Islam sekarang ini mau dipecah. Salah satunya, dengan cara menyerang NU. Sebab, NU kuat secara kultur dan budaya pesantrennya, sehingga mendapatkan serangan melalui hoax news.

Ia juga menjelaskan, belakangan ini banyak sekali berita hoax yang bertujuan melemahkan dan menyerang Prof Dr Said Aqil Siradj dalam rangka melemahkan NU. “Konsep hubbul wathon minal iman, itu yang pertama kali mempelopori NU. Maka, kita harus menjadi NKRI dari para perusak, salah satunya penyebar hoax itu,” jelasnya.

Karena itu, Badri mengaku memegang teguh dawuh Habib Luthfi Bin Yahya yang memberikan pesan untuk menjaga NU, kiai dan NKRI. "Siapa saja yang menghina, merendahkan, dan memberitakan hoax pada kiai NU, kita wajib melawannya,” tegas dia.

"Menjaga kiai, menjaga NU, dan menjaga NKRI menjadi pesan Habib Luthfi bin Yahya yang mesti dipegang teguh supaya Indonesia dan NU aman. Kita sekarang ini berada dalam kondisi perang siber, perang dunia maya. Berita hoax harus dilawan, serta disikapi dengan cerdas," tutur Badri.

Senada dengan itu, Ibda menambahkan, pengguna media sosial Facebook di Indonesia mencapai 77 juta pada tahun 2014, sementara 2015 mencapai 82 juta pengguna. “Sampai Oktober 2016 menurut catatan Harian Kompas, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 88 juta orang. Sedangkan pengguna layanan chatting WhatsApp sebanyak 1 miliar pengguna, serta Messenger sebanyak 1 miliar pengguna, dan Instagram sebanyak 500 juta pengguna," ungkap Ibda, alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut.

Data tersebut, kata dia, sangat berpengaruh terhadap komsumsi berita di medsos, baik di Facebook, Twitter, Instagram dan lain sebagainya. Terlebih, masyarakat saat ini, lebih percaya isu daripada berita valid. Ironisnya, berita hoax menjadi alat untuk menghancurkan jurnalisme untuk mendapatkan kekuasaan dan perang politik.

Padahal sebuah berita, lanjutnya, kerja jurnalistik harus melalui tahap wawancara dan klarifikasi, serta memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, Who, Why, Where, When dan How). “Idealnya, sebelum membaca, mengomentari dan membagikan berita di medsos, santri harus cerdas membaca dan klarifikasi, jangan asal membagikan,” imbuh dia.

Karena itu, santri dan mahasiswa mesti jeli memilah dan memilih berita yang datang dari media online saat ini. Syarat menjadi media online saat ini minimal harus berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT), ada SIUP dan didaftarkan di Dewan Pers supaya bisa mendapatkan barcode.

"Bila media online-nya tidak jelas, ya sudah kita tabayyun, klarifikasi saja kepada narasumber dikroscek. Sebab, kita saat ini memang dalam banjir berita, jadi kalau tidak bisa menangkal berita hoax, kita akan terprovokasi dan tertipu,” ujar Ibda yang pernah menulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner.

Kalau wartawan, lanjut Ibda, bisa saja mendasarkan kebenaran pada wawancara dan klarifikasi. Namun, mahasiswa, akademisi, ilmuwan harus empiris, minimal memenuhi standar kualifikasi ilmu melalui tahap ontologi, epistemologi dan aksiologi. Bukan asal percaya informasi, apalagi berita hoax.

Dia berharap, santri Ponpes Durrotu Aswaja ke depan bisa semakin menggali potensi literasi untuk menangkal berita hoax. Santri juga diharapkan punya metode sendiri dalam mendapatkan kebenaran yang sudah diajarkan di pondok pesantren (ponpes).

Ketua Pengurus Pondok Pesantren Durrotu Aswaja Semarang Rodli Mahfudin berharap agar kegiatan tersebut bisa mencerahkan santri terhadap berita-berita hoax yang selama ini beredar pesat di medsos. Santriwan dan santriwati diharapkan dapat menyerap materi berita hoax dan menyikapinya dengan santun.

0 Response to "Santri Durrotu Aswaja Diajak Melawan Berita dan Informasi Hoax"

Post a Comment