Hukum Puasa Rajab dalam Islam, Sunah atau Haram?

Hukum puasa Rajab dalam Islam, ada yang menyebut sunnah, ada pula yang menyebutkan haram. Lantas, bagaimana hukum yang sebetulnya menurut Islam, baik Al Quran maupun Hadits? Mohon redaksi islamcendekia.com untuk memberikan pencerahan. Salam, Hamba Allah, Solo, Jawa Tengah.

Sebelumnya, terima kasih atas kepercayaannya kepada kami, meski Anda tidak menyebut nama, tapi hamba Allah. Kami akan mencoba menjawab semampu kami sebagai sebuah upaya ijtihad untuk kebaikan, kemaslahatan bersama.

Hukum puasa rajab menurut Islam adalah sunnah, tetapi juga bisa haram, tergantung yang memaknainya. Kok bisa? Begini penjelasannya.

Hukum Puasa Rajab dalam Islam

Dalam Al Quran Surat At-Taubah ayat 36 menjelaskan, ada 12 bulan dalam ketetapan Allah saat Dia menciptakan langit dan bumi. Dari 12 bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan haram.

Bulan haram adalah bulan yang mulia. Lalu, apa saja bulan haram itu? Menurut hadits riwayat Bukhari dan Muslim dalam Muttafaq Alaih, baginda Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa empat bulan yang mulia adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Baginda Rasulullah Saw melarang umat Muslim melakukan peperangan pada bulan-bulan haram tersebut, karena dimuliakan oleh Allah.

Baginda Nabi Muhammad Saw dalam sebuah riwayat Mujibah al-Bahiliyah juga pernah menganjurkan untuk berpuasa pada bulan haram. Rajab sendiri masuk dalam bulan haram. Dari sini bisa disimpulkan bahwa hukum puasa rajab dalam Islam adalah sunnah.

Seperti pendapat Al Mardawi dalam sebuah kitab Al Inshaf III/245 yang menyatakan berpuasa pada sebagian bulan Rajab, ulama empat madzab (Hanafi, Hanbali, Syafi'i dan Maliki) sepakat menghukumi sunnah, bukan bid'ah.

Makruh atau haram
Sebagian ulama yang mengharamkan puasa Rajab disebabkan beberapa hal. Salah satunya, sikap dan perbuatan mengkhususkan bulan Rajab hukumnya adalah makruh, ini pendapat Al Mardawi dalam Al Inshaf.

Hal yang sama disampaikan Imam Suyuthi dan Amr bil Ittiba'. Bahkan, Imam Syafi'i dalam Qaul Qadim menyatakan puasa Rajab selama sebulan penuh adalah makruh.

Kesimpulan
Dari sejumlah penjelasan singkat di atas, redaksi islamcendekia.com menarik kesimpulan. Boleh diambil atau tidak, karena ini sifatnya tabayyun, bukan ketetapan hukum tetap.

Hukum puasa rajab dalam Islam adalah sunnah, jika dilakukan tidak sebulan penuh seperti bulan Ramadhan karena wajib. Imam empat madzhab (Hanafi, Syafi'i, Hambali dan Maliki) sepakat kalau puasa di sebagian bulan rajab adalah sunnah.

Hal itu sesuai dengan ajaran dalam Al Quran, bahwa ada empat bulan haram (dimuliakan), salah satunya Rajab.

Namun, hukum puasa rajab menurut Islam akan menjadi makruh, bahkan haram, bila dilakukan secara sebulan penuh sebagaimana puasa Ramadhan. Dalam hal ini ada dua pendapat, sebagian ulama memakruhkan puasa sebulan penuh di bulan rajab dan beberapa ulama tetap menganggapnya sunnah.

Sementara menurut ulama Wahabi, puasa di bulan Rajab hukumnya adalah haram, sesat, karena dianggap bid'ah.

Menurut kami (redaksi islamcendekia.com), puasa adalah upaya manusia untuk berlatih mendekatkan diri kepada Allah, berlatih memahami dimensi kerohanian manusia, dan melupakan dimensi material manusia.

Itu sebabnya, kita berpuasa, tidak makan, tidak minum, tidak boleh berbuat hal yang dilarang syariat Islam. Semuanya itu mengasah rohani, melupakan material.

Kalau rohani terasah, kita akan mudah mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah. Ada yang jauh lebih penting dari sakadar pahala puasa, yaitu bagaimana kita bisa menemukan sisi rohani, kesejatian diri manusia untuk menghadap, menyatu dengan Allah.

Itulah kenapa puasa selalu dianjurkan, karena sebagai wahana berlatih, belajar untuk mengenal siapa kita sejatinya dan mengenal Allah. Janganlah kita berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tetapi bisa memaknai bahwa puasa menjadi upaya manusia untuk mengasah rohani agar bisa menemukan Tuhannya.

0 Response to "Hukum Puasa Rajab dalam Islam, Sunah atau Haram?"

Post a Comment