Raja Salman dan Harga Mahal Pancasila

Sejumlah kegiatan di Bogor dan Jakarta telah dilakukan oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Banyak kesan positif yang ditinggalkan. Dan akhirnya masyarakat Indonesia paham keaslian perilaku santun orang Arab yang begitu toleran.

Salman bin Abdulaziz Al Saud is King of Saudi Arabia in Indonesia

Oleh: M Rikza Chamami
Dosen UIN Walisongo dan Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Begitu pula kesan positif bagi Raja Salman muncul, setelah memahami dan mengetahui Indonesia dari dekat. Dan yang membuatnya kagum adalah tentang Pancasila yang mampu mengikat perbedaan menjadi persamaan.

Saat bertemu dengan tokoh lintas agama Indonesia, Raja Salman menyimak dengan penuh hikmat. Itu menjadi sebuah surga perdamaian yang nyata bagi Indonesia.

Kekhawatiran ideologis yang selama ini dibahas, hilang. Sebab runtutan psikologis bangsa Indonesia sudah sejak awal dekat dengan tradisi Arab (yang benar-benar Arab, bukan Arabisme yang dibelokkan jadi kepentingan politik).

Melihat fakta yang demikian, ada nilai manfaat dalam penguatan Pancasila pasca menjamu Raja Arab Saudi yang perlu dilakukan, yakni menjadikan negara Indonesia sebagai surga perdamaian dunia.

Di balik "gaduh nasional" yang marak terjadi ada kesan bahwa Arabisme itu penting dan seakan itu sama dengan kesan Islam. Dan anehnya lagi, yang tidak sevisi dianggap tidak Islam, anti Arab dan pembela liberalisme. Jelas tuduhan yang tidak akademik.

Banyak hal yang dapat digarisbawahi dalam perjalanan Raja Arab selama di Indonesia. Bahaya wahabi yang dihembuskan akan merusak ideologi Islam Nusantara menjadi isapan jempol belaka, kalau memang itu wahabi jadi-jadian.

Peran dalam pengarustamaan ideologi Islam Nusantara hari ini menjadi semakin kuat. Dan sudah nyata bahwa kekuatan moderatisme Islam masih berdaya kuat. Karena memang gerakan ini bukan gerakan politik musiman.

Alhasil, kekaguman ruh Pancasila yang ditunjukkan masyarakat Indonesia bagi Raja Salman menjadi barang mahal. Dan Indonesia masih belum selesai memberikan nilai surganya karena Sang Raja belum menikmati pulau Bali.

Kesan Indonesia sebagai negeri teroris, intoleran dan pentungan dengan sendirinya hilang karena Indonesia sejak awal tidak mengenalkan ideologi itu. Kalau ada yang mengaku mau ikut Islam Arab, maka jawabnya jelas: Arab yang bukan seperti Sang Raja.

Kalamul malik, malikul kalam: ucapan Raja adalah rajanya ucapan. Jika Raja Salman jelas kagum dengan tokoh lintas agama di Indonesia, maka itulah cerminan orang Arab sangat memiliki jiwa toleransi.

Ini menjadi sebuah kekuatan bagi Indonesia yang memang sudah kaya dari sisi sumber daya alam dan kaya dalam sumber daya manusia karena berkah Pancasila.

0 Response to "Raja Salman dan Harga Mahal Pancasila"

Post a Comment