Arti Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Islam & Alquran

Arti habis gelap terbitlah terang dalam Islam tercantum dalam Al Quran Al Baqarah ayat 257, yaitu minadh-dhulumaati ilan Nuur. Maknanya, dari gelap ke cahaya.

Ayat itu menginspirasi Raden Ajeng Kartini untuk membuat kalimat dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht" yang saat itu dikirimkan kepada sahabatnya di Negeri Kincir Angin, yaitu JH Abendanon.

Hanya saja, kalimat dalam bahasa Belanda itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane dengan kata-kata "Habis Gelap Terbitlah Terang", kemudian menjadi populer.

Arti Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Islam Alquran
Peninggalan kamar di mana RA Kartini dipingit di Jepara, Jawa Tengah

Padahal, menurut Prof KH Musa al-Mahfudz dari Yogyakarta yang dinukil dari Kiai Muhammad (Demak), menantu dan staf ahli Kiai Soleh Darat (guru RA Kartini), Door Duisternis Tot Licht yang artinya "Dari gelap ke Cahaya" ini diambil RA Kartini dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 257.

Bahwa, Allah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya, bahasa Arabnya: "Minadh-Dhulumati ilan Nuur."

Ayat itu sangat menyentuh dan mengesankan hati seorang RA Kartini di tengah kekangan perempuan di Jawa pada saat itu (masa kolonialisme Belanda) yang ia pikir sebagai zaman kegelapan.

Kartini juga merasa ada yang salah dari sistem membaca Alquran tanpa mengerti maknanya. Pengalaman pahit itu didapat Kartini saat bertanya arti dari salah satu ayat Alquran, guru ngajinya justru memarahinya.

Saat itu, Belanda memang melarang penerjemahan Al Quran. Banyak kiai dan ulama saat itu yang tidak berani memberikan arti, tafsir atau terjemahan ayat-ayat Alquran, sehingga membuat hati Kartini memberontak.

Menurut Kartini, Al Qur'an adalah kitab petunjuk hidup sehingga umat Islam harus tahu apa makna yang terkandung di dalamnya. Dia menyindir, Alquran terlalu suci sehingga tidak boleh diterjemahkan.

Namun, ia terkesan saat mengikuti pengajuan Kiai Soleh Darat (Semarang), guru dari Kiai Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama/NU) dan Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

Saat itu, Kartini menanyakan makna surat pembuka Al Quran, yaitu Al Fatihah, saat pengajian dilakukan di rumah Pangeran Aryo Hadiningrat di Demak, yang tak lain pamannya sendiri.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah peristiwa itu, Kiai Soleh Darat menyusun terjemahan Alquran menggunakan huruf arab Pegon berjudul Faidh al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an.

Huruf arab Pegon adalah susunannya huruf Arab tapi artinya Jawa, sehingga tidak dicurigai Belanda. Karena saat itu, Belanda melarang penerjemahan Alquran dan ulama juga mengharamkannya, tetapi Kiai Soleh Darat dan Kartini justru menentangnya.

Menurut Kartini, kitab suci tanpa diketahui artinya percuma dan sia-sia. Baginya, membaca kitab suci tanpa tahu arti dan maknanya tidak ada gunanya.

0 Response to "Arti Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Islam & Alquran"

Post a Comment