Ini Dosa Besar Share Berita Hoax menurut Hukum Islam

DEMAK, Islamcendekia.com - Menyebarkan (share) berita hoax di media sosial menurut hukum Islam adalah perbuatan dosa besar. Hal itu disampaikan Pemimpin Umum Formaci Press Hamidollah Ibda dalam kegiatan "bandongan jurnalistik" di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Ulum, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 17, Jogoloyo, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (12/6).

Di hadapan ratusan santri, Ibda menegaskan bahwa share informasi hoax di media sosial tanpa ada upaya tabayyun sama halnya membagikan kotoran kepada orang lain.

Ini Dosa Besar Share Berita Hoax menurut Hukum Islam
Ratusan santri Ponpes Miftahul Ulum Jogoloyo mengikuti bandongan jurnalistik, Senin (12/6).

Terlebih, bila kabar hoax yang diviralkan ternyata mengandung unsur fitnah, maka sama saja ikut menyebarkan fitnah. Sementara dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 191 dengan jelas disebutkan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Karena itu, Ibda menilai bahwa seseorang yang menyebarkan berita hoax, lebih-lebih mengandung unsur fitnah, dosanya sangat besar. Dalam hal ini, santri diminta untuk ikut aktif berdakwah dengan mempelajari literasi dan jurnalistik.

Dengan demikian, santri bisa menyaring informasi dari medsos untuk kemudian ditabayyunkan sebelum disebar. Pasalnya, informasi hoax dampaknya besar bagi keberlangsungan hidup generasi bangsa.

"Banyak pondok pesantren yang sekarang ini santrinya aktif dengan gadget. Maka prinsip bermedsos, santri harus memegang teguh etika, logika dan prinsip muamalah medsosiyah sesuai dengan dawuh para kiai sepuh dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)," ujar Ibda.

Dengan alasan tersebut, Dosen STAINU Temanggung itu mengajak kepada ratusan santri untuk bisa menulis berita, opini, termasuk buku dan kitab. Tujuannya agar santri melek literasi dan paham seluk-beluk literasi.

Sementara itu, Direktur el-Wahid Centre Junaidi Abdul Munif menambahkan, tradisi menulis di kalangan santri tidak boleh sekadar sebagai formalitas. Menulis harus dibudayakan secara serius untuk membangun peradaban keilmuan.

"Unsur-unsur berita minimal 5W + 1H. Kalau tidak ada itu, anggap saja belum memenuhi kaidah jurnalistik. Banyak media yang mengedepankan opini daripada berita. Padahal dalam berita tidak boleh ada opininya," ucap Pengurus Bidang Penerbitan LTNU Kota Semarang tersebut.

Ketua Panitia Bandongan Jurnalistik M Chaezam merespons positif ajang bandongan jurnalistik tersebut. Sebab menurut kyai muda itu, santri zaman sekarang berada dalam zona banjir informasi.

"Demak itu Kota Wali. Sayangnya, banyak juga santri yang belum mengenal sejarah Demak, termasuk sejarah Walisongo," kata Chaezam yang juga Sekretaris Yayasan Miftahul Ulum Demak.

Pengasuh Ponpes Miftahul Ulum Jogoloyo KH Humaedi Tamyiz sendiri banyak berharap agar santrinya bisa paham dunia literasi dan jurnalistik sebagai bekal di tengah zaman serba banjir informasi seperti sekarang ini. []

0 Response to "Ini Dosa Besar Share Berita Hoax menurut Hukum Islam"

Post a Comment