Itikaf Ramadan, makna bagi yang ingin berkhalwat dengan Allah

Itikaf Ramadan biasanya dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan suci puasa Ramadhan. Hal itu didasarkan pada sunnah Rasul Nabi Muhammad SAW yang beriktikaf di masjid selama 10 hari pada bulan Ramadhan.

Hadits yang menyebutkan Nabi Muhammad SAW beri'tikaf selama bulan suci Ramadhan diriwayatkan oleh Bukhari, bisa bisa dipastikan sahih.

"Nabi SAW selalu beriktikaf pada bulan Ramadan selama sepuluh hari. Namun, pada tahun wafatnya, beliau (Nabi SAW) beri'tikaf selama 20 hari." (Hadits Riwayat Bukhari)

Dalil beriktikaf juga disebutkan dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 187, "Janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kalian beri'tikaf di dalam masjid-masjid."

Iktikaf di Masjid pada bulan Puasa Ramadhan

Pengertian iktikaf
I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah, mendekatkan diri kepada Allah yang biasanya dilakukan dengan sholat, dzikir, membaca Al Quran, atau intropeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Arti i'tikaf secara etimologis adalah tinggal atau menetap di suatu tempat. Jika didasarkan pada arti etimologis, i'tikaf di rumah juga menjadi bagian dari menetap di suatu tempat, asal tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Namun, sesuai dengan ajaran syariat Islam, i'tikaf sebaiknya dilakukan di masjid, sesuai dengan sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Syariat tidak ditinggalkan, substansi serta tujuan utama beriktikaf juga tidak dilupakan sehingga bukan menjadi seremonial belaka, namun penuh makna.

Makna i'tikaf
Itikaf memiliki tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah di bulan suci Ramadan yang penuh dengan berkah, meninggalkan sejenak urusan duniawi.

Iktikaf juga bermakna berduaan dengan Allah, mendapatkan cinta-Nya. Istilah ini sering disebut khalwat atau menyendiri, berduaan.

Hanya saja, bila istilah khalwat identik dengan berduaan, bersepi-sepi menyendiri dengan pacar atau gebetan, i'tikaf menjadi salah satu cara bagi kamu yang ingin berkhalwat dengan Allah, Tuhan semesta alam.

Setiap orang pasti pernah berbuat salah dan dosa. Melalui itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan, kita bisa instropeksi diri, memohon ampunan, evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam ilmu psikologi, medis atau kesehatan, menurut islamcendekia.com, iktikaf bisa menjadi sarana untuk bermeditasi agar hati dan pikiran menjadi stabil, tenang, tentram dan nyaman, karena Allah begitu dekat dengan kita semua.

I'tikaf juga diharapkan bisa menetapkan hati dan keimanan kepada Tuhan. Dengan mencintai Tuhan, manusia diharapkan dapat mencintai sesama manusia dan semua makhluk-Nya.

Bagi sebagian orang, iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan, mereka hendak memburu malam Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

0 Response to "Itikaf Ramadan, makna bagi yang ingin berkhalwat dengan Allah"

Post a Comment