Arti Kata Thaghut dalam Islam, Alquran dan Hadits

Arti kata thaghut dalam Islam, baik menurut Alquran dan hadits apa? Sebab, belakangan ini ada penyerangan terhadap anggota polisi di Jakarta yang menyebutnya thaghut. Mohon penjelasan yang sebenar-benarnya ustadz. -- Rif'an, Jakarta Selatan.

Jawaban
Kata thaghut dalam Al Quran disebutkan dalam Surat An Nahl ayat 36.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat, sembahlah Allah dan jauhi thaghut."

Dalam Al-Qur'an Surat Al Baqarah ayat 256 juga disebutkan:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada paksaan untuk agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang pada bahul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

thaghut in islam

Jika dilihat dari istilah yang disebutkan dalam Alquran tersebut, kata "thaghut" merujuk kepada sesuatu yang disembah selain Allah. Misalnya, patung atau berhala yang pada zaman jahiliyah di Arab disembah adalah thaghut menurut Islam.

Redaksi islamcendekia.com memberikan sedikit gambaran sejarah bahwa umat Muslim saat itu merupakan minoritas di tengah suku-suku Arab yang tidak mengenal Allah dan menyembah berhala sebagai sesuatu yang dituhankan.

Islam yang dibawa baginda Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah Allah sebagai dzat yang Maha Esa dan menjauhi thaghut sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab pada zaman itu.

Dalam Islam, menyembah selain Allah adalah perbuatan syirik yang masuk dalam kategori dosa paling besar tanpa ampunan, kecuali bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulanginya lagi.

Pada perkembangannya, seorang ulama Syekh Muhammad at Tamimi kemudian memberikan tafsir kata thaghut yang menjelaskan ada banyak hal yang merujuk pada thaghut.

Dari banyak thaghut, setidaknya ada 5 yang paling besar. Kelimanya adalah iblis yang sangat tidak layak untuk disembah, seseorang yang dipuja-disembah selain Allah dan dia sendiri ridho, siapa saja yang menyuruh manusia untuk menyembah dirinya, siapa saja yang mengaku tahu ilmu gaib (dalam konteks ini misalnya dukun, penyihir), dan siapa saja yang berhukum dengan hukum selain Allah.

Melihat fenomena sekarang ini seperti kasus penyerangan anggota polisi di Jakarta Selatan di mana seseorang meneriakkan kata thaghut kepada polisi dan menyerangnya, mungkin dari pemahaman kelima yang ditafsirkan Syekh Muhammad at Tamimi.

Polisi adalah penegak hukum, sedangkan hukum yang dianut di Indonesia adalah UUD 1945, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dan perangkat undang-undang atau konstitusi lainnya yang tidak sesuai dengan Islam.

Mungkin karena pemahaman itulah, aparat seperti polisi dianggap sebagai thaghut, termasuk pemerintahan di Indonesia saat ini.

Kenapa? Sebab mereka tidak menggunakan hukum Allah, yakni Alquran dan hadits. Pemahaman atas penafsiran inilah yang memunculkan aliran-aliran ekstremis hingga menganggap pemerintah Indonesia adalah thaghut karena tidak menggunakan hukum Allah.

Kembali pada kata "thaghut", menurut kami, sebetulnya merujuk kepada sesuatu yang bisa menyebabkan kemusyrikan seperti menyekutukan Allah seperti menyembah setan, iblis atau sesuatu selain Allah.

Misalnya, mencari pesugihan dengan meminta kepada setan, pergi ke dukun untuk keperluan santet, teluh, guna-guna, atau mencari sesuatu yang bisa menyekutukan Allah.

Kata "menyembah" sendiri menurut kami tidak bisa dilihat dari fisik, tubuh, anatomi atau gerakan manusia kepada sesuatu. Sebab, menyembah yang sejati ada pada keyakinan, keimanan seseorang dari hati yang paling dalam.

Itu sebabnya, ulama kontemporer seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) sering menyindir bahwa letak syirik ada dalam hati setiap manusia, tidak bisa dilihat menggunakan mata.

Dalam konteks kata thaghut dalam istilah hukum, menurut kami, hukum tertinggi di Indonesia adalah Pancasila karena sebagai ideologi dan falsafah bangsa.

Meski namanya tidak Islami, tetapi Pancasila berpedoman pada tauhid, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Spirit tauhid dalam Pancasila sudah lama diajarkan para nabi, dari Nabi Adam, Nabi Musa melalui kitab Taurat, Nabi Daud melalui kitab Zabur, Nabi Isa melalui Injil, hingga Nabi Muhammad SAW melalui Alquran.

Sarjana Hukum Islam dari UIN Walisongo Semarang, Lismanto, dalam sebuah artikel berjudul "Islam dan Pancasila Menjamin Kebebasan Beragama" yang terbit di situs islamlib.com (2011) menjelaskan secara garis besar bahwa Pancasila memiliki spirit yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Bahkan, dia mengidentikkan Pancasila seperti Piagam Madinah sebagai perekat suku-bangsa di wilayah Madinah yang beragam agama dan suku-bangsa.

Artinya, meski Pancasila secara eksplisit tidak terkesan Islami, tetapi substansi dan spiritnya sejalan dengan ajaran Islam, baik dari aspek tauhid maupun sosial. Dengan demikian, pemerintah dan aparat yang bernaung di bawah Pancasila tidak bisa dikatakan sebagai thaghut.

Itu penjelasan dari kami yang sangat terbatas dan belum tentu kebenarannya. Kami sekadar mencoba menjelaskan pertanyaan Anda semampu dan sebisa kami. Kebenaran hanya milik Allah semata. Semoga kita semua mendapatkan hidayah-Nya. Amin. []

0 Response to "Arti Kata Thaghut dalam Islam, Alquran dan Hadits"

Post a Comment