Cinta Tak Selamanya Seperti Memegang Awan: Cerpen Islami

Cinta Tak Selamanya Seperti Memegang Awan Cerpen Islami

Cinta Tak Selamanya Seperti Memegang Awan
Sebuah Cerpen Islami

Oleh: Andan Sari Nurbaty
Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

CINTA itu beranekaragam. Kok bisa ya?
Iya ada cinta terhadap manusia, khususnya kekasih hidup. Senang ya?

Kekasih hidup adalah seorang patner sejati yang akan menemani kamu dalam menjalani kehidupan ini. Dan yakinlah bahwa Allah swt telah menciptakan makhlukNya berpasang-pasangan.

Di mana telah dijelaskan dalam Al-qur’an yang terdapat pada surat Az-Zariyat ayat ke-49 : “ وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ”, artinya “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”.

Seperti yang kita tahu bahwa kisah cinta yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda. Tentunya kamu akan mendapatkannya ketika sebuah perasaan yang tak terduga dari hatimu pun muncul.

Ya. Mencintai itu adalah hak untuk setiap orang. Jadi, ketika sebuah perasaan itu telah muncul, maka tidak ada satupun orang yang dapat melarangmu. Mengapa? Karena itu adalah sepenuhnya hakmu.

Iya, keputusannya pun ada padamu, apakah kamu akan tetap melanjutkan atau menghentikan perasaan yang telah muncul tersebut. Dan semua itu adalah normal. Iya normal. Titik dha.

Hy, namaku Astri K, seorang mahasiswi Ahli Gizi tahun 2011 yang bekerja di salah satu rumah sakit terkenal di kota Ambon, RS RTX

“Cinta?” Itu adalah sesuatu yang belum aku pahami ketika masih SMP dulu. Ya, aku memiliki seseorang yang aku sukai saat di SMP. Entah kenapa, terkadang diriku masih mengingatnya. Menurutmu, apa itu cinta sejati?

Pertemuan yang tidak terduga antara aku dan dia. Aku pun tidak menduganya. Aku yang masih kelas 1 SMP telah menyukai seorang kakak kelas, dan perbedaan umur kita berdua hanya beda 1 tahun saja.  Pertemuan itu terjadi disaat dia kehilangan sepatunya. Lho maksudnya?

Iya, dia kehilangan sepatunya dan mencarinya di seluruh kelas. Rajin ya dia?hehehehe ...ga menduga dia bisa kayak gitu hanya karena sepatu ya?

Alhasil, dia tiba dikelasku. Dia ditemani oleh beberapa orang dan itu pun jelas banget kalau mereka adalah teman se-gengnya. Dia pun segera masuk ke kelasku, dan meminta izin kepada ibu Salamah yang sedang mengajar bahasa Indonesia kepada kami.

“Bu, saya minta izin ya untuk mencari sepatu saya yang hilang diperpustakaan”, pinta dia kepada ibu Salamah.

“Iya, silahkan nak, tapi hanya kamu saja ya yang diperbolehkan masuk agar tidak ribut kelasnya”, balas ibu Salamah.

Dia langsung segera mencari sepatunya dari baris depan hingga kebelakang. Tibalah dia di mejaku, segera aku pun mengangkat wajah yang sedang asyik mengarah ke arah buku karena aku sedang menulis catatan bahasa Indonesia.  Dan mataku tertuju kepada kepadanya.

”Wow.., kulitnya begitu putih, tinggi banget badannya, dan cakep lagi”, dia kayak orang cina! pikirku.

Secepatnya aku alihkan pandanganku dan melihat sepatuku. Kulihat sepatuku yang agak mirip sepatu cowok ini dan ga mungkin sepatuku persis sepatunya. Hahhahahahahha......

Dan memang benar, sepatuku juga bukan miliknya karena tentunya aku bukan pencuri sepatu orang di siang bolong dan itu di perpustakaan pula.

Akhirnya, dia tidak menemukan sepatunya di kelasku, dia kemudian memohon pamit dan berterima kasih kepada bu Salamah.

Mataku masih tertuju kepadanya hingga menghilang dari jangkauan penglihatanku.

“Ya Allah, semoga aku bisa bertemu dengan dia kembali...aamiin”, doaku dalam diamku.

Ampun dha diriku sampai memohon doa segala untuk bisa bertemu kembali. Penuh harap y? Geer dhe.

Beberapa hari pun berlalu, tiba-tiba aku bertemu lagi dengannya. Perasaan yang tak terduga pun muncul, tapi kayaknya cuman rasa kagum saja. Hahahha…. Tidak mungkin kakak yang seperti itu menyukaiku, aku bukan levelnya.

Yang pantas hanyalah gadis-gadis yang lebih cantik dari diriku. Aku bertemu dia ketika aku mau naik angkot untuk pulang ke rumah.

Ternyata, kami berdua memilki jam masuk sekolah yang sama, yakni jam 1 siang. Aku yang lagi menunggu angkot di depan sekolah pun terkejut karena angkot yang kuhentikkan ada dia didalamnya.

“Oh Tidak…apa yang akan terjadi nanti?hatiku tak bisa tenang, apalagi aku duduk disampingnya! Gugup banget, kayaknya bakalan ketahuan sama dia!. Mau tarik nafas saja susahnya minta ampun!”, kataku dalam diam.

Tapi kan ini masih rasa kagum saja? pikirku lagi.

Dan itu adalah kisah pertemuan tak terduga aku dan dia ketika aku berada di kelas 1. Sebenarnya dia bukan yang pertama yang aku punya perasaan seperti itu, karena ada beberapa kakak kelas juga yang aku tertarik, malahan ada yang kelas 3. Ganteng-ganteng banget dan pintar kakak kelasku, tapi semuanya sirna!

Hanya dia yang bertahan di hati ini...wah, romantis dan setia ya...cinta diamku? Biasa disebut seperti itu ya?

Si pemilik sepatu sebelah yang hilang adalah seseorang yang aku daratkan sebuah perasaan suka untuknya. Aku pun juga tidak tahu apa sebabnya masih tetap menyukainya. Ini yang namanya “bertahan dalam cinta diamku walau badai menghadang.... Lol.

Tahun pun berganti, sekarang aku di kelas 2. “ Sedihnya… aku hanya punya 1 tahun saja dengannya lagi dan tidak ada perkembangan maju dalam hubungan diam ini”, kataku.

Iya, karena ketidakberaniamu untuk mengungkapkan ya? Walau ada yang bilang, perempuan boleh duluan mengungkapkan tapi bagiku itu sulit.

Alhamdulillah, aku akhirnya kembali bertemu dengan dia lagi, tepatnya ketika ada tugas Muatan Lokal, yakni menjahit taplak meja per kelompok, masing-masing ada 6 orang per kelompok dari 7 kelompok .

Aku sekelompok bersama Asita, Meli, Sakura, Haruka, Yuno, dan Erika. Kami berenam memutuskan untuk mengerjakan tugas tersebut dirumahnya Asita sekitar jam 4 sore. Di saat asyik mengerjakannya, datanglah seseorang.

Ternyata dia yang datang “ what?” kok bisa dia datang? Dia siapanya asita ya? Aduhhh.. aku gugup banget nih," kataku dalam hati.

***

Keesokan harinya dikelas, Asita pun bilang kalau dia itu adalah kakak sepupunya. “Hahhha.. Richard lucu banget”, kata Asita. Aku tidak menyangka banget, kok bisa bertemu dia lagi.

Apalagi dia kakak sepupunya teman sekelasku lagi. Ketika dia hendak mau pulang, aku melihat dia sekilas saja. Kulihat dia sedang memakai sepatu, ya dia memakai pakaian seragam olahraga karena hari itu adalah hari jumat.

“Putih banget kulitnya,” kataku.

Aku tak berani memandang wajahnya, seingatku kayaknya aku tidak pernah memandang wajahnya dengan baik-baik, hanya sekilas saja karena aku malu. Asita mengatakan sesuatu kepadaku kalau kakak sepupuku yang kemarin datang saat kita menjahit itu kirim salam padamu stri.

“Ha? kirim salam? bagaimana bisa? kapan dia mengenalku?” pikirku.

Aku bahagia setengah mati tapi malah kubilang ke Asita bahwa aku tidak percaya dan tidak ingin kubalas salamnya!. Sebenarnya aku percaya tapi aku hanya malu saja untuk mengungkapkannya!!!

Sedihnya… Bagaimana mau maju hubungan ini disaat aku pun juga malu untuk menerima?

Oh ya, saat di SMP itu aku kepengen banget masuk kegiatan ekstra yakni Taekwondo tetapi ku urungkan niatku karena dia juga ikut. Siapa lagi kalau bukan Richard.

Bagaimana aku mau ikut, kalau aku ikut aku tidak akan fokus, bukan tidak fokus saja malahan aku tidak bisa bergerak!

“Ga mau masuk aku kalo ada dia," kataku pada temenku.

“Ah kamu, gimana mau berkembang kisah cintamu kalo kamu juga malu-malu kucing euyyy....," kata Meli padaku.

Parah banget kan kalo aku sampe kayak gitu, pasti anak-anak latihan taekwondo bakal menertawaiku dan menggangguku sewaktu selesai latihan. Terserah apa kata Meli padaku, toh aku yang jalani ! batinku.

Ini mungkin kisah yang membuat jengkel juga ya?

Karena aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan tanpa dia tahu. Selalu saja diam membisu. Saat itu aku berpapasan dengannya lagi di sekitar taman dekat ruangan badan keuangan sekolah.

Dan lagi , kami berdua tidak saling menyapa, hanya menatap saja. Sungguh, aku benar-benar ingin menyapa dia tapi ku menahannya!

Kulihat raut wajahnya, dia seperti ingin menghindar dari diriku. Ya aku memang bukan cewek cantik, aku hanya biasa saja waktu itu atau mungkin karena aku yang tidak memperdulikannya. Tidaklah mungkin dia serius menyukaiku. Mengapa?karena dia tidak berusaha mendekatiku.

“Berarti asita membohongiku atau gimana ya?karena kupikir kalo misalkan dia yang menyukaiku maka dia akan berusaha duluan berinteraksi denganku walau aku cuek saja”, pikirku.

Tidak ada perkembangan hubungan yang lebih serius, kita berdua saling memperdulikan ego masing-masing dan akan berakhir juga perasaan ini kayaknya. Dan masih tetap biasa saja kisah cinta ini hingga hari kelulusannya.

Dia yang menyukaiku pertama, dan aku tidak menghiraukannya, sekarang aku yang menyukainya dan dia tidak menghiraukannya! Semua salahku, coba saja kalau waktu itu aku memberikan respon positif!

Coba saja kalo waktu itu aku yang duluan menyapanya tanpa dia yang mulai. Semua itu hanya bisa berandai ketika waktu telah pergi ya.

“Ahhhhh.... menyebalkan kisah ini!" teriak aku di jalan yang sepi ketika sedang bersepeda di hari minggu.

“Hmmm…apakah ini yang harus aku terima? Oh Allah..tolonglah hambamu ini dalam mencintai seseorang sesuai jalan yang benar, batinku.

Sedih banget, ketika seseorang yang kita sukai tidak menghiraukan karena respon pertama kita untuk dia yang menyukai kita juga adalah tidak menghiraukannya. Itulah yang aku rasakan untuk kisahku.

Sudah begitu lama, kira-kira dari kelas 1 SMP sampai sekarang aku masih mengenang kisah ini, apakah dia juga masih mengingatku?

“Miris sekali, dia kan sudah ga aku respon pas pertama kali dia kirim salam, bagaimana dia akan bisa mengingatku?dia juga kayaknya ga serius denganku, toh dia ga berusaha mati-matian juga ketika aku cuek kan?,” pikirku.

Setahuku, dia mengambil sebuah jurusan yang berhubungan dengan komputer, aku tidak tahu apa tepatnya yang dia ambil. Ini Semua kemungkinan adalah salahku, aku yang memutuskan untuk menghindar dari dirinya walau ternyata aku tidak ingin melakukan tindakan tersebut.

***

Sekarang tahun 2012 dan sudah beberapa tahun, aku dan dia tidak saling berkomunikasi, apakah ini baik-baik saja? menurutku tidak, apalagi di tempat dia kuliah banyak banget godaannya ya.

“Aduh, kenapa sih masih berharap yang ga jelas?” toh ini udah tahun berapa coba?”, batinku.

“Apakah kami bisa bertemu lagi?”, harapku penuh dewiiii.

Aku hanya berharap suatu saat nanti bahwa kami berdua bisa bertemu kembali. Ketika kami bertemu, aku juga berharap bahwa aku tidak bertingkah cuek, dan harus bisa menyapanya.

Harapan yang paling ku inginkan adalah aku dapat mengetahui perasaannya yang sesungguhnya ke aku. Semoga saja menjadi kenyataan.

Semua itu butuh proses, apapun hasilnya adalah kita harus terima dengan ikhlas.
Tetapi, aku coba untuk merenungkan lagi harapan ini.

“Aku memang bodoh, menunggu seseorang yg tidak merespon perasaan ini, kenapa aku harus mengingatnya lagih? Oh Rabbku……apakah ini sebagai pelajaran untukku?" tangisku.

Selama ini aku telah saya memendam perasaan untuknya, dan sekarang telah lenyap dari diriku, ku sudah tak memiliki rasa padanya lagi.

Itu bukan salah dia atau aku, hanya saja kita berdua tidak ditakdirkan berada pada jalan yang sama.

Aku bersyukur bahwa Allah swt yang menitipkan perasaan yang begitu lama untuknya dan harus berakhir sekarang. Mungkin ingin mempertemukan aku dengan seseorang yang lebih baik.

Aku telah melepaskan perasaanku untuk dibawa oleh angin dari diriku kepada Richard sejak bulan akhir desember 2012 untuk awan diatas sana. Iya agar awan menurunkan hujan, yang berarti kisah ini juga berakhir.

Alhamdulillah, dan ternyata memang benar. Sekarang aku telah menemukan seseorang yang mendekatkan diriku dengan Allah swt dan membuatku selalu optimis serta yakin yang sekuat-kuatnya untuk meraih impianku. Banyak sekali perubahan yang positif dari diriku karna diizinkan bertemu dengan dia oleh Allah swt.

Tahun ini, di tahun 2017 aku mendapatkan seseorang yang mencintaiku.

Hal itu membuat aku dengan semangat menjalani pekerjaanku dan lebih dekat dengan Tuhan. Tiap hari minggu jika aku ada waktu kosong, aku isi dengan mengikuti kursus memasak dan menjahit.

Iya mempersiapkan agar menjadi seorang perempuan yang mandiri nantinya. Apalagi kalo bukan, “di kehidupan rumah tangga y?

Walaupun aku dan dia belum saling mengenal dengan baik, tetapi jauh dari itu aku seperti sudah mengenalnya.

Iya, dialah Adam. Seorang dosen yang selalu menasehatiku untuk lebih baik. Tahun depan, kami berencana untuk mengikat janji suci “sebuah pernikahan yang membawa berkah”.

Mungkin inilah keadaan yang baik, karena belum tentu juga kalau aku mengenalnya terlalu lama maka aku akan bahagia. Aku benar-benar tidak tahu, manakah keadaan yang lebih baik bagi diriku.

Pertemuan aku dan Adam pun sangat tidak pernah aku pikirkan. Kita berdua tinggal di kompleks yang sama. Dulu, aku belum memiliki rasa kepadanya, tetapi entah bagaimana perasaan ini muncul.

Iya sebuah perasaan suka kepadanya. Inilah bukti, bahwa ada masa dimana kamu akan menemukan seseorang yang tidak terpikirkan olehmu sebelumnya.

Setiap kali ingin keluar, selalu saja bertemu dengan dia. Iya, karena rumah kita berdekatan. Dia pun dekat dengan keluargaku sehingga sering mampir main kerumah karena dia dekat dengan saudara laki-laki ku.

Inilah yang membuat aku selalu melihatnya, walau dulu jarang berinteraksi dengannya tetapi sekarang malah diberikan kedekatan dengannya. Iya, dia juga memiliki rasa untukku.

Dia pun memberanikan diri untuk memberitahukan pada Abangku baru Kedua orang tuaku. Untuk itulah, baru aku bisa dekat dengannya atas persetujuan keluarga karena aku menghormati ayah dan ibuku.

Begitu pula dengan kedua orangtuanya, aku menghargai mereka juga.untuk itulah, mereka pun datang bersamaan dengan Adam. Iya, aku dan dia menjalani hubungan dengan ta’aruf.

Karena aku juga telah mapan dan telah memenuhi tugasku sebagai seorang anak untuk membahagiakan orangtuaku beberapa tahun yan lalu dan sekarang.

Kami pun merencanakan untuk melangsungkan pernikahan tahun depan karena aku masih repot dengan jadwal pekerjaanku di rumah sakit tersebut. Dia pun mengerti dan siap untuk menungguku dengan sabar dan ikhlas.

Inilah jawaban atas doaku yang memperoleh hasilnya. Iya, aku bersyukur bahwa dia yang akan menemaniku datang ketika aku telah bekerja dan menunaikan kewajibanku menikmati hasil gajianku bersama kedua orangtua dan keluarga kandungku. Aku begitu takut bahwa aku lebih mementingkan egoku daripada keluarga kandungku.

Bagaimana aku dapat menjalani kehidupan ini?

Ketika aku telah meneteskan air mata yang pedih untuk kedua orangtuaku?

Untuk itulah, kisah kasihku yang seperti memegang awan dulu membuat aku bahagia sekarang. Iya. Belum tentu ketika pertama kali kita memilki rasa suka kepada seseorang maka dia harus menjadi milik kita.

Masih ada rencana lain dari Tuhan yang kuasa. Jadi tetaplah sabar dan ikhlas ketika kamu dilanda kesedihan ditinggalkan oleh kekasihmu.

Mengapa harus bersedih dengan hal demikian?dikarenakan dia yang menjalani kisah cinta denganmu adalah bukan berarti sah menjadi suamimu.

Kerjakanlah sesuatu yang bermanfaat dan lebih fokus pada keluarga kandungmu. Tenangkanlah pikiran dan jiwamu ketika kamu melihat pasangan-pasangan yang belum halal.

Senangkah kamu dengan hal tersebut? Ayo lebih cerdas lagi, wahai perempuan-perempuan hebat!

Aku pun sempat berpikiran demikian. "Wah, bahagia ya kalo bisa berpasangan seperti mereka,” pikirku.

Tapi ingat, dibalik pikiran tersebut adalah hasil bisikan syaithan. Maukah kamu hamil diuar nikah dan bagaimana ketika anakmu bertanya. “Ma, ayah dimana? Sanggupkah kamu berkata kebenaran kepadanya?

Aku sempat berpikir bahwa jika memang dia telah dimiliki oleh orang lain, maka aku tidak akan sedih dan harus bahagia. Cinta itu tidak boleh dipaksakan kalau dipaksakan akan rusak dan tidak diridhoi oleh Allah swt.

Karena Richard sudah tidak lagi di hatiku, aku berniat untuk lebih memantaskan diriku menjadi lebih baik lagi agar diberikan jodoh yang baik. Dan akhirnya, aku telah menemukan dia, Adam.

Ingatlah bahwa pasangan kita telah tertulis di lauh mahfudz, sehingga janganlah perlu begitu khawatir. Kita hanya perlu mengkhawatirkan diri yang belum menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam menjadi seseorang yang lebih baik itu perlu usaha, kalau kita telah usaha maka Allah swt yang akan membantu kita untuk membuatnya tercapai.

Aku tidak sedih akan perasaanku dulu yang tidak dibalas oleh Richard. Karena akhirnya ku telah mendapatkan penggantinya. Dari Richardlah, aku berlatih untuk lebih baik lagi dan bersabar dalam menunggu cinta.

Ya, cinta yang benar. Cinta untuk kebahagiaan dunia dan akhiratku. Cinta itu pun hadir dengan sendirinya dengan jalan yang tidak di duga olehmu.

Aku mencintaimu, Adam.

Kamu adalah cintaku yang tidak selamanya seperti memegang awan. Iya calon imamku.

4 Responses to "Cinta Tak Selamanya Seperti Memegang Awan: Cerpen Islami"

  1. Well...
    Kisah yang sedih sekaligus bahagia..

    Semangat penulis

    ReplyDelete
  2. Nice story.. keep on working.. Godbless

    ReplyDelete
  3. Coba difilmkan y???

    Penuh harap ##sya lala lala

    ReplyDelete
  4. good...terus semangat berkarya...inget mom J.K rowling?ww kesabarannya lebih oke banget...tutor banget

    ReplyDelete