Imunisasi menurut Islam dan Kesehatan, Bolehkah atau Haram?

Imunisasi menurut Islam dan Kesehatan Bolehkah atau Haram

Imunisasi menurut Islam dan kesehatan, bolehkah atau haram? Sebab, MUI sempat mengeluarkan fatwa larangan karena vaksinasi mengandung babi. Mohon penjelasan dan pandangannya. -- Ahmad Rifai, Sulawesi Utara.

Jawaban
Persoalan pokok yang Anda tanyakan sebetulnya adanya unsur babi dalam proses pembuatan vaksin.

Karena, jika hanya imunisasi yang tujuannya untuk kesehatan tentu diperbolehkan.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5768) dan Muslim (4702).

"Siapa saja yang makan tujuh butir kurma ajwah, dia akan terhindar dari sihir dan racun selama sehari."

Artinya, Rasulullah SAW mengingatkan kepada umatnya bahwa antisipasi dan upaya untuk membentengi diri dari penyakit sangat diperlukan.

Hal itu tentu sejalan dengan semangat imunisasi yang bertujuan untuk mencegah penyakit pada bayi. Hukumnya jelas sangat diperbolehkan.

Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya menghukumi vaksinasi mulanya adalah haram, karena vaksin dibuat dari babi sehingga najis.

Dalam Al Quran sudah sangat dijelaskan bahwa babi adalah haram. Meski demikian, MUI sepakat bila hukum asal vaksin adalah haram, tetapi sekarang ini tetap diperbolehkan karena adanya unsur darurat.

Artinya, jika suatu saat nanti sudah ditemukan adanya vaksin yang tidak terbuat dari unsur babi, maka vaksin yang saat ini menggunakan unsur babi tidak diperbolehkan atau haram.

Namun, ada yang berpendapat jika imunisasi yang saat ini menggunakan vaksin berunsur babi tetap boleh. Apa alasannya?

Karena unsur babi sudah hilang saat menjadi vaksin. Proses dalam perusahaan farmasi lah yang membuat unsur babi hilang, sehingga tetap diperbolehkan dan halal.

Dalam kesehatan, cara kerja imunisasi adalah memberikan virus yang sudah dilemahkan. Efeknya, tubuh anak akan membentuk sistem imun atau kekebalan tubuh sehingga tidak sering sakit-sakitan.

0 Response to "Imunisasi menurut Islam dan Kesehatan, Bolehkah atau Haram?"

Post a Comment