Pengertian Hati menurut Islam sebagai Tempat Mengenal Allah

Pengertian Hati menurut Islam sebagai Tempat Mengenal Allah

Hati, Tempat untuk Mengenal Allah

Oleh: Muhammad Anas
Mahasiswa asal Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan; pegiat kitab berbahasa Arab

Hakikat hati adalah tidak terlihat dan samar bagi panca indera manusia. Namun , keberadaan hati dapat dirasakan.

Keberadaan hati pun termasuk perkara ghaib bagi manusia, sama halnya dengan ruh. Oleh sebab itu, Al-Ghazali menempatkan hati pada hakikat ruh. Ia menyebut hati sebagai bagian dari jenis malaikat.

Karena hati adalah suatu bentuk abstrak bagi manusia atau tidak dapat dilihat oleh panca indera manusia. (1)

Pengertian hati menurut Islam juga merupakan tempat memperolehnya pengetahuan secara hakiki setelah panca indera. Jika saja Allah tidak menciptakan hati kepada manusia, maka seseorang tidak akan mengetahui sesuatu sampai hakikatnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersyukur.” (Al Quran Surat An-Nahl [16] ayat 78.

Definisi lebih lanjut, ulama mengatakan bahwa hati adalah tempatnya akal (pikiran), dan hati memiliki cahaya yang terkoneksi, terhubung sampai ke akal dan otak. (2)

Jadi, tanpa hati seorang manusia tidak dapat berfikir, serta tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan.

Karena itu, hati merupakan instrumen terpenting dalam diri manusia. Objeknya tidak hanya terhadap hal-hal yang bersifat profan, tapi nilai objektivitas dari hati adalah untuk mencapai hal-hal yang bersifat spiritual dan sakral, seperti halnya ketulusan atau keikhlasan dan rasa syukur, bahkan untuk mengenal Allah (al-ma’rifah; makrifat) sebagaimana nanti akan dijelaskan.

Oleh sebab itu, tanpa mengupayakan hati maka dapat menjerumuskan manusia ke dalam lembah kesesatan. Hal ini terjadi ketika orang-orang musyrik mendustakan kebenaran Rasulullah Saw sehingga membawa mereka ke dalam azab yang pedih.

Sebagaimana telah Allah jelaskan di dalam Al-Quran:

"Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka (musyrikin) dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 7).

Hati adalah sarana vital dalam menerima suatu kebenaran. Seseorang tanpa mengupayakan hatinya dalam kebaikan maka akan terjatuh ke dalam kekufuran.

Sebaliknya, bila mengupayakannya dalam kebaikan akan menghantarkannya ke dalam rasa syukur dan jalan keselamatan.

Hati sangat berpengaruh terhadap tindakan seseorang. Bila hatinya baik, maka perilakunya pun baik. Dan sebaliknya, jika hatinya keruh maka tindakannya pun buruk.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan sahabat Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir R.A:

"Sesungguhnya di dalam jasad (badan) terdapat segumpal daging, jika ia bagus maka seluruh jasadnya bagus. Dan jika rusak maka seluruh jasadnya pun rusak. Ingatlah! Segumpal daging itu adalah hati.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Maka tidak heran jika hati sangat mempengaruhi tindakan seseorang. Karena hati merupakan penyebab dari baik dan tidaknya perilaku seseorang.

Ulama mengatakan , "hati adalah raja. Ketika yang merawatnya bagus, maka rakyatnya pun bagus." (3)

Maksudnya adalah hati itu seperti raja bagi keseluruhan anggota badan, sekaligus tindakan seseorang. Maka, ketika yang merawat hati itu dapat mengupayakannya dalam kebaikan, maka seluruh anggota badan sekaligus perilakunya menjadi baik pula.

Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri R.A, Rasulullah bersabda:

"Sepasang mata adalah petunjuk. Sepasang telinga adalah corong. Lisan adalah juru bicara. Kedua tangan adalah sayap. Perut adalah kasih sayang. Limpa adalah senyuman. Paru-paru adalah jiwa. Kedua pinggang adalah tipu daya. Dan hati adalah raja. Ketika rajanya bagus, maka rakyatnya pun bagus. Dan jika rajanya rusak, maka rakyatnya pun rusak. (HR Ibnu Hibban, Abu syaikh dan Abu Nu’aim).

Ulama mengatakan, penglihatan, pendengaran dan indera pencium laksana daya kekuatan yang dilihat dan dipertimbangkan oleh jiwa. sedangkan hati adalah rajanya. Jika yang merawatnya baik maka baik pula rakyatnya. (4)

Sekali lagi, hati adalah instrumen penggerak dari aktivitas dan perilaku manusia. Perilaku seseorang tidak dapat terpisah dari kondisi hatinya.

Jika bijaksana dalam mengupayakan hatinya, maka seseorang bisa mempertimbangkan perbuatannya dan membawanya ke jalan yang benar. Sebaliknya, jika tidak bijaksana maka akan memalingkannya ke jalan yang menyimpang. Contohnya adalah riya’, hasud, tamak, dan berbagai macam penyakit hati lainnya.

Menurut Islam seperti yang disampaikan Al-Ghazali, pengertian hati adalah elemen yang berharga bagi seorang hamba. Hati merupakan tempat mengenal Allah.

Al-Ghazali menyebutkan bahwa di dalam hati terdapat hal-hal yang berarti, yaitu hati memiliki akal. Dan tujuannya adalah untuk mengenal Allah (makrifatullah).

Hati memiliki penglihatan yang digunakan untuk berhadapan dengan kehadirat ilahi. Dan hati memiliki niat yang tulus dan keikhlasan dalam ketaatan terhadap Allah Swt.

Hati memiliki ilmu-ilmu dan kebijaksanaan yang menghantarkan seorang hamba kepada tingkat kemuliaan dan akhlak yang terpuji. (5)

Menurut Al-Ghazali, sudah sepatutnya seorang hamba senantiasa menjaga dan merawat hatinya dari segala kekotoran duniawi. Wallahu a’lam bi as-showab.

Daftar pustaka
(1) Kitab Kimya’ Sa’adah, Al-Ghazali
(2) Kitab Syarah Arba’in Nawawi, Imam Yahya bin Nawawi, hadis keenam
(3) Kitab Syarah Arba’in Nawawi, Imam Yahya bin Nawawi, hal-29
(4) Kitab Minhaj al-‘Abidin, Al-Ghazali, hal-31, pasal keempat

0 Response to "Pengertian Hati menurut Islam sebagai Tempat Mengenal Allah"

Post a Comment