Jeritan, Tangis dan Rasa Takut Muslim Rohingya di Myanmar

Muslim Rohingya Myanmar

Jeritan, Tangis dan Rasa Takut Muslim Rohingya di Myanmar

Oleh: Hurul Aini, pengajar dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat


JERIT, tangis dan rasa takut melanda muslim rohingya, umat Muslim dari daerah Myanmar wilayah Asia Tenggara.

Tepatnya berminggu-minggu sudah media mengabarkan aksi yang dianggap sebagai genosida besar itu. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya kabar mengenai rohingya menyeruak ke atas permukaan.

Sebelumnya bahkan banyak muslim rohingya yang terkatung-katung dan terlontang-lantung mencari suaka untuk meminta perlindungan dari daerah sekitar wilayahnya saat ini.

Bahkan sampai saat ini masih banyak muslim rohingya yang berupaya menyelamatkan kehidupannya dari perilaku pemerintah dan tentara militer yang tak kenal ampun menyakiti dan melukai fisik dan batinnya.

Berita ini selalu menjadi headline di beberapa program berita. Tak sedikit pula lembaga-lembaga atau masyarakat yang tergerak untuk melakukan kerja amal dengan mengumpulkan dana untuk membantu para korban dan pengungsi rohingya.

Pilu rasanya menengok mengenai bagaimana saudara muslim kita harus diperlakukan seperti itu. Seketika saja imajinasipun muncul di benak sendiri, apa jadinya jika kita yang berada di posisi mereka ini.

Spekulasi pun muncul dari berbagai aktivis dan pemerhati dunia internasional mengenai motif di balik kejadian yang sudah menggemparkan dan menelan banyak korban manusia ini.

Ada yang mengatakan bahwa ini merupakan masalah kemanusiaan yang karenanya negara-negara harus bersatu untuk memberantas aksi ketidakmanusiaan seperti ini.

Adapun yang menganggap ini merupakan masalah agama karena didadasari oleh konflik antara umat beragama di rohingya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa rohingya merupakan umat muslim sementara mayoritas penduduk Myamnar berkepercayaan Buddha. Sehingga anggapan ini semakin besar dengan semakin menegaskan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) di dalamnya.

Anehnya di antara sebagian masyarakat masih saja banyak yang acuh tak acuh dengan kejadian ini. Di tengah simpati yang terus berdatangan dari banyak kalangan.

Selalu ada saja orang yang nyinyir dengan alasan bahwa ini bukan merupakan masalah Indonesia. Karena itu merupakan urusan negara lain dan bla ..bla .. bla statementnya.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa sebagai negara muslim terbesar, genosida yang terjadi di Myanmar memang tidak bisa langsung direspons dengan kesigapan kita semua untuk  membela mereka secara langsung di sana karena terkait dengan hukum yang tengah ada saat ini yang mengatur negara satu dengan yang lainnya.

Namun apakah hati juga harus ikut tersekat dengan alasan dan kondisi seperti ini. Tidakkah sedikitpun ada rasa prihatin dalam diri kita.

Ataupun apakah tidak ada sedikit pun aktivitas yang menggerakkan supaya hal ini cepat usai? Dimana kepedulian kita sebagai sesama muslim.

Muslim yang seharusnya merasakan apa yang Muslim lain rasakan. Karena pada dasarnya hati kita ini bersatu dan tak terpisahkan seperti apa yang disabdakan Rasulullah SAW bahwa kaum muslim merupakan satu tubuh, jika satu tubuh sakit maka yang lain akan ikut merasakan sakit.

Setidaknya ada yang menjadi sorotan dalam kejadian ini, yaitu persatuan kaum muslim yang semakin luntur membuat kita menjadi semakin jauh dengan muslim yang lain.

Saat ini, kaum muslim sangat memerlukan kondisi ataupun orang-orang yang bisa mengenyahkan semua rasa ketidakbersatuan kita dan mengeratkan jalinan persatuan yang harus dipupuk.

Semata-mata yang harus dilihat adalah karena ini dialami oleh saudara kita. Sungguh semangat muslim harus selalu bersatu tanpa dibatasi sekat negara dan pemikiran lainnya.

Semangat persatuan muslim yang kelak akan menjadi cahaya bagi umat lain. Wallahu’alam bi showab. []

1 Response to "Jeritan, Tangis dan Rasa Takut Muslim Rohingya di Myanmar"

  1. Makanya klo cuma minOritas jgn sok jago dinegarA orang. Skrng jd pengungsi ...memalukan.

    ReplyDelete