Al Iman al-Mabda’: Bukti-Bukti Wujud Allah

0
Hikmah
Allah antara lain menciptakan alam nyata ini dalam berbagai  bentuk, setiap bentuk mempunyai sifat yang
membedakannya dari yang lain dan dalam suatu posisi yang bersesuaian dengan
dirinya.
Salah
satu makhluk Allah adalah manusia yang lebih tinggi derajatnya karena memiliki
kemampuan berpikir dan dapat menanggapi bermacam pengertian. Kelebihan
manusia yang lebih tinggi dari binatang dan menempatkannya di bawah malaikat.
Manusia
dapat membuat aqidah-aqidah yang membedakan antara satu macam dengan lainnya, namun tidak dapat mengetahui hakekat sesuatu dan tidak dapat mengetahui
rahasia benda-benda.
Allah
adalah wujud, yang tidak ada batasan bagi kesempurnaanNya, sehingga manusia
tidak sanggup mengetahui derajatNya. Mengetahui
hakekat dzatnya adalah mustahil karena dzat Allah tidak tersusun dari beberapa
unsur.
Karena
itu, Islam melarang manusia memikirkan dzat Allah, sebagaimana sabda Nabi
Muhammad  SAW: “Memikirkanlah
tentang keadaan makhluk Allah dan
janganlah  kamu memikirkan tentang
dzatNya yang menyebabkan kamu binasa.”
Manusia
mengetahui dan menyakini bahwasannya Allah bersifat dengan sifat-sifatNya, dan
sifat-sifat Allah adalah sifat  yang
paling sempurna.
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan keadaan
wujud alam, khasiatnya, sifatnya, tata aturannya yang kesemuanya menunjukkan
kepada pencipta yang sangat hakim.
Al-Qur’an memerintahkan manusai untuk memperhatikan dirinya sendiri, memperhatikan
keindahan ciptaan Allah pada tumbuh-tumbuhan. Pembuktiaan
adanya Tuhan telah dibicarakan oleh berbagai golongan Islam, baik aliran-aliran
ilmu kalam, maupun filosof-filosof Islam, yaitu: aliran Mu’tazilah dan Al As’ariyah. Kedua aliran
berpendapat dalil wujud Tuhan dengan dua cara:
Dalil
jauhar fard
Semua
benda mengalami pergantian keadaan baik berupa bentuk, warna, gerakan,
berkembang, surut, dan perubahan-perubahan lain yang kesemuanya disebut aradl.
Dalil mungkin
dan wajib
Alam dan
seisinya dapat terjadi dalam kedaan yang berbeda sama sekali dari pada
keadaanya yang sekarang. Matahari misalnya dapat berjalan dari barat ke timur,
dan batu dapat naik ke atas dari pada turun ke bumi.

Dalil
Causelitet: perubahan dan perhatian
Dalil
ini berasal dari Al-Qur’an dan para filosof, sebab itu merupakan dalil terkuat sesuai
dengan syara’ dan filsafat.

Dzat dan sifat Allah
Pada
masa sahabat dan tabiin, persoalan dzat dan sifat Allah tidak pernah menjadi
pembicaraan kaum muslimin. Tetapi pada masa sesudah mereka, timbullah persoalan
sifat menjadi pembicaraan golongan-golongan Islam, antara lain:

Aliran
Musyabbihah
Aliran
ini berpegang pada lahir nash-nash ayat atau hadist mutasyabihat.

Aliran
Mu’tazilah
Aliran
ini mensifati Tuhan dengan Esa, Qodim dan berbeda dari mahluk, siufat-sifat ini
adalah sifat salaby (negatif) karena tidak menambahkan sesuatu terhadap dzat
Tuhan.

Filosof-filosof
Islam
Pendapat
para filosof islam seperti Al-Kindi dan
Al-Farabi mendekati pendapat Mu’tazilah, mereka mengingkari berbilangnya sifat
Tuhan dan mensucikan semurni-murninya.

Al-Asy’ariyah
Juga
seperti Mu’tazilah, Al-asy’ari mengadakan antara sifat negatif dan positif.

Al-
Maturidi
Ia
mengakui Tuhan memiliki sifat-sifat sejak zaman Azaly, tanpa pemisahan antara
sifat-sifat Dzat.

Ibnu
Rusyd

Ia
berpendapat bahwa pembahasan tentang sifat-sifat Allah tidak ada gunanya dan
merupakan suatu Bit’ah,
karena tidak pernah di bicarakan kaum muslimin pada masa permulaan Islam.

(Maulida Riskie Amalia)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan