Asas Kemanfaatan dalam Hukum Islam

0
Hukum Islam juga mengenal asas kemanfaatan di mana semua
hukum yang ditetapkan harus berdasarkan kemaslahatan atau kemanfaatan dan
menolak kemudharatan. Tujuan syariah yang berdasarkan kemaslahatan dan menolak
kemudharatan menjadi asas yang paling fundamental yang harus diterapkan dalam
penegakan hukum Islam.
Yang dimaksud asas kemanfaatan dalam hukum Islam adalah
asas yang menyertai asas keadilan dan kepastian hukum, yaitu segala pengambilan
keputusan hukum yang ditimbang dan didasarkan pada manfaat atau maslahat
tidaknya suatu keputusan hukum tersebut. Tentu asas kemanfaatan ini mendasarkan
pada pertimbangan-pertimbangan hukum agar keputusan hukum yang dihasilkan
memberikan kemanfaatan bagi pihak pencari keadilan dan masyarakat luas.
Misalnya hakim memutuskan untuk menghukum si pencuri dengan
potong tangan. Selain mempertimbangkan asas keadilan dan asas kepastian hukum,
hakim harus mempertimbangkan aspek kemanfaatan terhadap putusan-putusan hukum
yang akan ia buat. Kalau memang si pencuri berdasarkan kemaslahatan tidak bisa
dihukumi dengan potong tangan, maka hakim berhak menentukan si pencuri tidak
dikenakan had potong tangan meskipun ada kepastian hukum yang menyatakan pencuri
harus dikenakan potong tangan.
Asas kemanfaatan dalam hukum Islam pada prakteknya
dapat dijumpai pada contoh Umar Bin Khattab yang tidak menghukumi potong tangan
bagi pencuri mengingat pencuri dalam posisi terdesak dan darurat, sementara
pihak yang dicuri adalah orang kaya yang dinilai masyarakat tidak pernah
bersedekah. Pertimbangan-pertimbangan kemanfaatan dan kemaslahatan juga perlu
untuk menanamkan progresifitas hukum Islam.
Asas kemanfaatan berdasarkan pada Al-Qur’an surat al-Baqarah
ayat 178: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash
berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka,
hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat
suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan
cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang
memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu
keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas
sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih*.”
Keterangan:
Qishash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu
tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema’afan dari ahli waris yang
terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat
diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang
membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak
menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum
ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah
menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia
mendapat siksa yang pedih.

(Lismanto/Islam Cendekia)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan