Menu

Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Islam

  Dibaca : 6 kali
Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Islam
Kidung Wahyu Kolosebo ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga
Dalam ilmu
hukum, asas legalitas adalah asas yang berpedoman bahwa tidak ada satu orang
pun yang bisa dihukum kecuali ada peraturan atau hukum yang mengatur
sebelumnya. Demikian halnya dalam hukum pidana Islam, asas legalitas juga
berlaku yang didasarkan pada al-Qur’an.
Asas
legalitas dalam hukum pidana Islam
dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Israa’
ayat 15: “Barangsiapa
yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu
untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka
Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang
berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab
sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
Al-Qur’an surat al-An’aam
ayat 19 menyatakan: “Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat
persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara
aku dan kamu. dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia aku
memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran
(kepadanya). Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di
samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.” Katakanlah:
“Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas
diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.
Kedua ayat al-Qur’an di atas
menjelaskan bahwa Allah menurunkan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad agar
menjadi peringatan kepada umat manusia dalam bentuk perintah dan larangan,
aturan dan ancaman. Dengan demikian, asas legalitas dalam hukum pidana Islam
muncul sejak al-Qur’an diturunkan, kecuali ada naskh. Naskh adalah penghapusan
ayat terdahulu oleh ayat yang baru turun.

(Lismanto/Islam Cendekia)
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional