Fitrah dalam Penafsiran Ulama dan Kaitannya Dengan Tawhid

0
Terkait
dengan tafsir surah al-Rum ayat: 30 para ulama’ menafsirkannya secara
bervarisi. al-Thabari didalam tafsirnya menyampaikan beberapa ta’wil yang
berasal dari riwayat yang berbeda terkait dengan definisi fitrah. Akan tetapi
jika ditelusuri secara mendalam ia lebih cenderung menafsirkan kata fitrah
dengan kata Islam.[1]
Berbeda dengan al-Thabari, Ibn al-Katsir tidak banyak mengutarakan
riwayat-riwayat takwil para ulama’ akan tetapi ia langsung menyampaikan
tafsirannya dengan bi al-ma’tsur melalui hadits Rasul Allah:
ما من مولود
يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه, كما تنتج البهيمة بهيمة
الجمعاء, هل تحسون بها جدعاء؟
Tafsir Ibn al-Katsir dalam masalah ini juga
menyebutkan bahwa makna dari fitrah adalah Islam, bahwa agama pada
mulanya adalah Islam, akan tetapi terjadi tahrif yang kemudian
menjauhkan ajaran agama dari ke-Islam-annya.[2]
Dari dua pendapat tafsir diatas kata fitrah dapat
diartikan dengan Islam. Selanjutnya, kalimat fitrah memiliki makna
kebahasaan yaitu al-Khilqah atau naluri dasar ketika sang bayi
dilahirkan. Disini Ibn al-‘Athiyah dalam Tafsir al-Muharrar al-Wajiz,
menyebutkan bahwa kalimat fitrah bisa ditafsirkan dengan kata asalnya
yaitu al-khilqah akan tetapi melihat dari kata selanjutnya yaitu dzalika
al-din al-qayyim
dan kalimat laa tabdil li-khalqi Allah, maka ia
berpendapat bahwa makna fitrah disini adalah ke-imanan dimana manusia telah
melakukan perjanjian awal sebelum kelahirannya dimuka Bumi.[3]
Penafsiran ini juga diamini oleh Ibn
al-Juziyi
dalam al-Tashil li-‘Ulum al-Tanzil bahwa al-khilqah
atau naluri dasar manusia adalah mengikuti ajaran agama Islam, hal ini hanya
akan terjadi ketika ia masih mengikuti akal sehatnya. Akan tetapi ketika mereka
menutupi (kafara) dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka
menjauh dari asal fitrah-nya.[4]
Sedikit
berbeda dengan penafsiran sebelumnya Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih
al-Ghaib
, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah Tawhid,
karena Allah SWT telah menetapkannya dalam diri manusia sebagai naluri dasar
keyakinan (aqidah). Dalam hal ini ia menyebutkan bahwa penanaman fitrah,
sebagaimana yang disebutkan oleh al-Attas, telah ditanamkan sejak masa
perjanjian pertama, hal ini telah tertera dalam al-Quran Surah al-A’raf, ayat
172:
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini
Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi
saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Selanjutnya ia menafsirkan kalimat laa
tabdiil li-khalqi Allah
, salah satu yang dikemukakannya tentang keyakinan
dasar atas ke-Esa-an Allah dan  pandangan
bahwa Allah adalah Tuhan yang disembah tidak akan berubah.[5]
Imam al-Thahir Ibn al-‘Ashur dalam Tafsir al-Tahrir
wa al-Tanwir
menganalisis makna fitrah sebagai hukum (nidzam)
yang ditetapkan oleh Allah kepada semua makhluknya, yang berupa fitrah
akal dan jasad. Dalam jasad, Allah menetapkan naluri dasar yang digunakan oleh
jasad, seperti manusia berjalan dengan kakinya dan burung terbang dengan
sayapnya. Sedangkan fitrah yang berupa akal ialah, kekuatan manusia
dalam melakukan analisis untuk menyingkap kebenaran, dan membedakan antara yang
benar dan salah.
Kemudian setelah menetapkan makna fitrah ia menetapkan
bahwa maksud dari surah al-Rum ayat: 30 berkaitan dengan Islam, bahwa Islam
dalam aqidah dan syari’ahnya sesuai dengan akal, kesesuaian inilah yang disebut
dengan Maqhasid Syari’ah. Dan Tawhid yang menjadi dasar bagi
aqidah Islam, juga tidak menyimpang dari hukum akal, bahkan ia sangat
bersesuaian dengannya. Oleh karena itu Islam disebut sebagai agama fitrah,
karena sesuai dengan akal manusia. Hal ini berbeda dengan agama Yahudi, Majusi
dan Nasrani yang bertentangan dengan akal manusia sehingga menjauhi fitrah,
dan inilah maksud dari hadits “maa min mauludin yuladu ‘ala al-fitrah
bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan Islam yang ber-Tawhid, lalu orang
tuanyalah yang menjadikannya beragama sebagaimana mereka.[6]
Fitrah dalam Penafsiran Ulama dan Kaitannya Dengan Tawhid (Dzulfikar/Islam Cendekia)

                [1] Abi
Ja’far  Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Tafsir
al-Thabari Jami’ al-Bayan ’an Ta’wil Ay al-Quran
, Juz: 18, (Kairo: Dar
al-Hijr, Cet: 1, 2001) hal: 493-497.
                [2] ‘Imad
al-Din Abi al-Fida’ ‘Isma’il Ibn al-Katsir al-Dimasyqi, Tafsir al-Quran
al-‘Adzim,
Jilid: 11, (Kairo: al-Faruq al-Hadits, Cet: 1, 2000) hal: 26 – …
                [3] Abi
Muhammad ‘Abdu al-Haq Ibn al-Ghalib Ibn ‘Athiyah al-‘Andalus, al-Muharrar
al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz
, Jilid: 4, (Lebanon-Beirut: Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cet: 1, 2001) p. 337.
                [4] Abi
al-Qasim Muhammad Ibn Ibn Juziyi al-Kalbi, al-Tashil
li-‘Ulum al-Tanzil,
Juz: 2,
(Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet:1, 1998) p. 168.
                [5] Muhammad
al-Razi Fakhr al-Din Ibn al-‘Alamah Dhiya’ al-Din ‘Umar, Tafsir al-Fakhr
al-Razi al-Mushtahir bi-Tafsir al-Kabir Mafatih al-
Ghaib, Jilid: 25
(Lebanon-Beirut: Dar al-Fikr, Cet: 1, 1981) p. 120-121
                [6] Muhammad
al-Thahir Ibn ‘Ashur, al-Tahrir wa al-Tanwir, Jilid: 21,
(al-Sadar al-Tanwiyah li al-Nashr),  p.
90-92

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan