Guru Tak Harus PNS?

0
Guru Tak Harus PNS
Oleh: Dian
Marta Wijayanti, SPd
PNS Muda Kota Semarang, Direktur Eksekutif
SMARTA School Semarang
Tanggal 24 Desember 2013 Pemprov Jateng telah mengumumkan hasil seleksi CPNS, baik formasi umum maupun K2 (tenaga honorer). Namun untuk formasi K2
sebagian besar belum diumumkan di beberapa kabupaten/kota. Semua peserta pasti
ingin lolos. Meskipun harapannya kecil, tapi optimisme peserta cukup besar untuk
menjadi PNS.
Terlepas isu
kecurangan tes CPNS, di sini yang perlu dikaji
adalah orientasi guru menjadi PNS. Karena hakikatnya, menjadi abdi negara, guru, hakim tak harus menjadi PNS.
Status PNS sebenarnya tak terlalu penting. Karena yang substansial sebenarnya bukan sekadar to
be
(menjadi apa), namun guru harus berpikir to do (berbuat apa)
untuk bangsa ini. Intinya, apakah mengabdi, berjuang dan mencerdaskan bangsa
harus menjadi PNS? Tentu tidak. Karena tidak mungkin semua guru di Indonesia menjadi
PNS.
Kagalauan Guru.
Banyak guru
galau menunggu pengumuman
hasil CPNS. Bahkan, mereka banyak yang berdoa dan mencari “wangsit” di berbagai tempat
agar lolos tes. Inilah ambisius guru untuk menjadi PNS.
Situasi ini terjadi karena kurangnya kesejahteraan dan harapn sejahtera dengan
menjadi PNS. Guru merasa kurang puas atas materi yang telah didapat meskipun
sudah ada sertifikasi, gaji dari sekolah dan berbagai tunjangan.
Kemurnian seorang guru sebagai pahlawan
tanpa tanda jasa tak dapat diartikan mentah. Pahlawan butuh makan,
tempat tinggal dan pemenuhan kebutuhan lain. Maka, wajar jika banyak guru menuntut
kesejahteraan dan berorientasi PNS.
Apalagi, mereka yang sudah
mengabdi lebih dari 10 tahun
tapi belum menjadi PNS, tentu sangat
galau dan spirit berjuangnya surut. Inilah penyebab kegaluan guru non-PNS.
Diangkatnya guru sebagai PNS adalah wujud
penghargaan pemerintah terhadap guru. Hal itu tak dapat disalahkan, karena guru sudah mengabdi pada negeri ini. Mereka
harus berjuang, dari bangun pagi untuk segera bertemu siswa di sekolah,
menyiapkan materi ajar, membuat RPP,
mendidik siswa, sampai membantu pelajar
menyelesaikan masalah pribadi.
Guru adalah insan akademis sepanjang hayat.
Setiap hari guru belajar cara memahami siswa. Pada saat itulah setiap hari
wawasan guru bertambah. Karena
itu, tuntutan
pengangkatan guru honorer menjadi bertambah besar. Tidak hanya guru honorer, pendaftar jalur umum yang didominasi
lulusan fresh graduated berlomba
meraih kesuksesan. Hal ini
menunjukkan status PNS sangat digandrungi masyarakat. Namun, apakah menjadi guru sejati harus menjadi
PNS?
Guru Tak Harus PNS
Menjadi PNS atau swasta sebenarnya bukan
alasan untuk tidak berjuang dan mengabdi. Yang jelas, guru sejati pasti
mengutamakan “mengabdi tanpa pamrih” daripada sekadar mengejar “recehan”. Jika
guru tak menjadi PNS bukan berarti tak sejahtera. Mengapa? Karena sudah
terbukti banyak guru non-PNS masih bisa hidup sejahtera dan tidak kelaparan.
Memandang kondisi Indonesia saat ini, sangat
konyol jika harus memaksa pemerintah mengangkat semua guru menjadi PNS.
Meskipun hal itu akan mengecewakan calon guru PNS, tapi ini kenyataan yang
terjadi harus diterima. Guru harus sadar bahwa PNS bukan puncak “kejayaan
pendidik”. Namun, puncak kejayaan guru adalah ketika sukses mencerdaskan
pelajar dan mencetak generasi bangsa menjadi cerdas dan bermoral.
Di kota Semarang, jumlah pendaftar
CPNS SD sebanyak 1.332 untuk memperebutkan 40 formasi yang terdiri atas 35
tenaga guru SD dan 5 formasi guru STM Permesinan (SM, 31/10/2013). Dengan
perbandingan 1:33, pendaftar harus sabar dan legawa jika belum lolos CPNS. Ini sangat tidak
logis jika semua guru menjadi PNS, karena kesempatannya sangat kecil dan harus
bersaing ketat.
Lolos atau tidak lolos seleksi bukan akhir
dari segalanya, justru mereka harus menyiapkan diri ketika pengumuman. Hal ini
dipersiapkan agar tidak terjadi “kekecewaan tingkat tinggi” jika hasilnya tak
sesuai harapan. Artinya, menjadi PNS bukanlah tujuan tertinggi dalam pendidikan,
karena hal itu hanya “alat” untuk mengabdi pada bangsa.
Dalam hal ini yang terpenting adalah spirit
dan keihklasan guru mendidik. Dalam falsafah pendidikan Islam, metode
diyakini lebih utama daripada materi. Guru lebih utama daripada metode. Tapi
ada hal lebih utama lagi,
yaitu “ruh guru”.  Karena jika guru tak memiliki ruh,
spirit berjuang, motivasi mendidik, maka mereka pasti “setengah hati” dalam
menjalankan tugasnya. Ruh guru adalah hal paling penting. Entah menjadi PNS atau tidak, tapi ruh/spirit guru tak
boleh surut.
Guru abdi
negara
Menjadi PNS atau tidak, yang terpenting guru harus mencerdaskan
dan berjuang untuk pendidikan. Sedangkan PNS adalah penghargaan
pemerintah untuk meningkatkan etos kerja dan etos juang guru. Dengan status PNS, diharapkan guru semakin semangat mengabdikan dirinya
pada negara. Tapi bukan berarti semangat guru non-PNS kendor. Karena guru adalah teladan. Jiak guru tidak memiliki ruh mengajar, bagaimana
nasib pendidikan? Tentu semrawut.
Siswa tidak peduli guru di depannya PNS
atau belum. Mereka cukup bahagia ketika guru mengajar menjadi sosok teladan, pemberi motivasi dan mampu menjadi pahlawan. Guru seperti inilah yang selalu dirindukan siswa
dan masyarakat.
Jika tujuan utama PNS, dikhawatirkan guru
lupa tujuan awal mendidik. Karena mendidik adalah perjuangan yang membutuhkan
tenaga, pikiran dan harta, bukan justru berorientasi mendapatkan recehan.
Karena guru bukanlah profesi
untuk mendapatkan kekayaan, melainkan alat untuk berjuang.
Menjadi guru adalah panggilan hati. Jika guru ikhlas, hal itu tidak terbayar dengan
apapun, melainkan kepuasan batin dan
kemulyaan di hadapan Tuhan. Meskipun ada gaji perbulan dan sertifikasi, namun perjuangan guru paling utama.  Keikhlasan guru akan memberi manfaat kepada semua kalangan. Itulah pahlawan abdi
negara sejati yang mengutamakan
pengabdian dan perjuangan, bukan sekadar recehan dan status PNS.
Yang penting, guru harus ikhlas, tanpa
pamrih dan rela berjuang untuk umat. Guru yang ikhlas menjalankan kewajibannya
berarti senantiasa mengalirkan kebahagiaan, tidak hanya pada peserta didik,
tapi juga orang-orang di sekitarnya. Indonesia membutuhkan guru sejati.

Lalu, apakah PNS menjadi tujuan utama Anda? Ataukah tetap menjadi guru sejati dan berjuang
dengan ikhlas tanpa status PNS? Anda punya pilihan!

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan