Katarsis Intelektual Guru Indonesia

0
Oleh Hamidulloh Ibda
Pendiri SMART-A School, Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Negeri Semarang
Apa artinya dunia jika tidak ada guru? Pasti
gelap gulita tanpa cahaya ilmu dan sinar pengetahuan. Karena guru merupakan
elemen terpenting dalam kehidupan. Tanpa guru, pendidikan tak akan jalan,
sekolah macet, dan masyarakat pasti bodoh.
Kita ingat, waktu Hiroshima dan Nagasaki
dibom, yaitu serangan nuklir selama perang dunia II terhadap kekaisaran Jepang
oleh Amerika Serikat. Setelah dua kota itu hancur lebur, yang dicari bukanlah harta,
emas, ternak, teknisi, nelayan, petani, namun yang dicari pertama adalah berapa
jumlah guru yang masih hidup. Ini membuktikan betapa pentingnya guru dalam
kehidupan dan kemajuan bangsa. Karena maju dan mundurnya bangsa sangat
ditentukan guru.
Indonesia saat ini pendidikannya sangat
ironis. Banyak sekolah dan kampus berdiri gagah, ribuan sarjana diproduksi
setiap tahun, namun kondisi pendidikan masih tertinggal jauh dari negara lain.
Saat ini banyak guru tidak berkualitas, sekolah asal comot guru, dan pemerintah
belum tegas membuat regulasi perekrutan guru. Sampai kapan kondisi pendidikan
seperti ini?
Katarsis intelektual
Guru intelektual sangat dinantikan dan
berperan penting bagi kemajuan pendidikan di negeri ini. Semua guru harus
mengeluarkan segala potensinya untuk memajukan pendidikan. Tidak sekadar
menuntut kesejahteraan, namun mereka juga harus mengeluarkan gelombang ilmunya
untuk mencerdaskan bangsa. Lebih tepatnya, mereka harus mampu melampiaskan
ilmunya kepada pelajar.
Artinya, pelepasan emosi guru harus berbasis
intelektual. Mereka harus menyucikan diri diri dengan membawa pembaharuan
rohani dan pelepasan ketegangan dalam rangka mendesain kemajuan pendidikan.
Katarsis intelektual harus dijadikan alternatif nyata bagi guru untuk
menyehatkan pendidikan yang saat ini sedang sakit parah.
Banyak hal yang bisa dilakukan guru secara
pribadi dan mandiri. Tak harus menunggu pendidikan dan latihan dari sekolah,
tak perlu menunggu program latihan dan profesi guru dari pemerintah, namun
secara pribadi guru bisa meningkatkan kualitasnya dengan membaca, menulis,
diskusi dan mendentumkan spirit revolusi pendidikan. Karena faktanya, program
dari pemerintah belum mampu memajukan pendidikan di Indonesia, justru program
itu terkesan formalistik simbolis dan rawan dikorupsi.
Pada intinya, botak, tandus dan suburnya
pendidikan sangat ditentukan guru. Maka dari itu, segala ilmu, pengetahuan,
harus dilampiaskan guru untuk mendaulat kemajuan pendidikan di republik ini.
Hanya dengan katarsis intelektual, pendidikan di negeri ini maju dan bercahaya
serta disukai Tuhan.
Berbenah
Saatnya guru di Indoensia berbenah. Hal itu
tentu harus dibarengi dengan mengamalkan ajaran dan falsafah cerdas dari
beberapa tokoh. Guru harus memiliki falsadah dan sikap tenang untuk membangun
pendidikan Indonesia yang saat ini sudah bobrok. Falsafah guru itu adalah aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh. Maksudnya, sebagai pendidik janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap
sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap
kaget jika ada hal-hal di luar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu
menjadi seorang pendidik. Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga
sikap dan emosi bagi guru yang sedang bekerja dengan warganya.
Falsafah selanjutnya yang juga harus dimiliki
guru adalah muda adalah tri brata. Artinya, guru itu harus
 memiliki tiga prinsip. Pertama, rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki).
Kedua, wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela dengan ikhlas). Ketiga, mulat sariro hangrasa wani (mawas diri dan memiliki sifat berani untuk kebenaran). Dengan
demikian yang dinamakan pendidikan Indonesia akan menjadi sinar dunia. Perlu
adanya guru visioner adalah seseorang yang berpikir, bersikap dan bertindak
dengan berorientasi kepada upaya mewujudkan keberhasilan masa depan (jangka
panjang) dan mampu mengantisipasi serta mentransformasikan tuntutan zaman dalam
mengarahkan bangsa untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional secepatnya.
Selain itu, guru juga harus melakukan apa yang
diamanatkan Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodo, ing
madyo mangun karso
dan
t
ut
wuri handayani
. Jika semua guru di negeri ini mampu
mentranformasikan semua falsafah di atas tanpa menuntut kesejahteraan dan
mengutamakan kemajuan pendidikan, penulis yakin impian menjadi negeri maju dan
berpendidikan tidak menjadi mimpi di siang bolong.
Guru juga harus memiliki kecerdasan,
kepemimpinan, kesolidan serta komitmen tinggi memajukan bangsa ini. Maka dari
itu, sudah saatnya guru melampiaskan ilmunya untuk memajukan bangsa. Lewat
katarsis intelektual, guru mampu mencetak generasi bangsa yang suci, cerdas,
dan bermartabat. Lalu, kapan Indonesia maju jika tidak
direalisasikan guru?

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan