Pengulangan Kisah Khawarij dalam Ideologi Islam Transnasional

0
Pengulangan Kisah Khawarij
dalam Ideologi Islam Transnasional adalah hasil wawancara kepada KH. Husein Muhammad, pengasuh pondok pesantren Dar at Tauhid, Cirebon mengenai ideologi Islam transnasional yang beberapa tahun yang lalu sempat menjadi ideologi yang sempat dikhawatirkan oleh beberapa kalangan. Ajaran dan penyebarannya begitu cepat di Indonesia. Berikut adalah hasil wawancaranya yang dimuat dalam Jurnal Justisia 32.
Ideologi Islam
Transnasional sempat dikhawatirkan beberapa kalangan. Bagaimana tanggapan KH.
Husein Muhammad?
Ideologi Islam transnasional tentu maknanya sebuah ideologi yang ingin disebarkan di seluruh dunia
dengan suatu konsep tertentu. Dan saya melihat bahwa apa yang disebut ideologi
Islam transnasional itu lalu adalah ideologi Islam khilafah, yaitu Islam yang biasanya
disebut Islam radikal.
Sumber ideologi Islam transnasional dari mana?
Saya
melihat bahwa ini sebuah pengulangan belaka dari sebuah ideologi besar yang pernah
lahir di tengah-tengah umat Islam, yaitu Khawarij.
Kenapa bisa begitu?
Iya.
Khawarij itu kan penolakan terhadap semua ideologi. Slogannya adalah “Hakimiyatullah”.
“La Hukma Illa Lillah”. “Inil hukmu illa lillah”. Semua yang tidak menggunakan
hukum Tuhan itu salah. Ini kan Islam politik, namanya.
Sebab,
pada waktu itu sudah dimunculkan oleh Saydina Ali. Ia sendiri justru mengomentari
pernyataan Khawarij dengan, “Kalimatu haqqin uriidu biha al bathil”. Kalimat
itu benar, kita kembali kepada Allah, Allah sebagai sumber utama. Tetapi
motifasi, penerapan, dan penafsirannya yang keliru demi kepentingan sendiri.
Setelah
itu, Sayidina Ali juga memberi komentar lain. Bil amsi haarabnaahum ‘alaa
tanziilihi wal yaum nuhaaribuhum alaa ta’wiilihi. Orang-orang ini dulu menolak
Al Qur’an sekarang mereka mempermainkannya dengan takwil. Dari itu kemudian takwil
menjadi sesuatu yang buruk, sebetulnya tidak.
Jadi ini awal mula takwil dimaknai negatif?
Sebetulnya
tidak harus seperti itu. Kalau kita menerjemahkannya dalam bentuk yang lain.
Itu OK. Tapi mereka menolak. Sekarang memang harus dita’wil. Tetapi penakwilan
itu di takwikan untuk kepentingan politik itu. Karena sebetulnya takwil itu
disebutkan banyak sekali misalkan allahumma faqihhu fid-din wa allimhu takwil.
Ini doa Nabi.
Tapi
kalau saya melihat ada perkembangan lain lagi yang mungkin bisa dijadikan
rujukan bagi Idelogi Transnasional. Yakni, munculnya Imam Ahmad bin Hambal.
Beliau menyusun teori maupun pandangannya dalam konteks politik yang sudah
mengabaikan teks. Itu terjadi pada masa kekhalifahan Abbasiyah abad ke 3-4 H.
Jadi, jadi ada selogan.
Terjadi
perdebatan. Karena ulama yang tidak menggunakan akal dibasmi, tragedi mihnah
inkuisisi. Itu lagi-lagi kepentingan politik. Jadi, kalau dari perspektif  kebebasannya, Mu’tazilah telah mengingkari
dirinya sendiri. Mu’tazilah menganjurkan kebebasan berpikir tapi justru ia
membunuh kebebasan itu. Konsep yang mereka tawarkan sebenarnya itu tidak terlepas
dari faktor politis.
Ketakutan-ketakutan
itu ada karena ketidakberdayaan menghadapi laju modernitas. Seperti yang tadi
malam saya contohkan dalam kisah Ashabul Kahfi. Sudah tidur lama tiba-tiba ia
bangun. Dan ia menganggap bahwa uang yang mereka bawa dari jaman dahulu itu
masih laku. Ia memaksakan kehendak. Marah-marah.
Kekhawatiran dan ketakutan beberapa kalangan, bagaimana komentar KH.
Husein Muhammad?
Kekhawatiran
bisa dilihat dari banyak perspektif: positif maupun negatif. Dari sisi positif IIT
adalah perlawanan terhadap ideologi kapitalisme liberal yang menindas. Tetapi
ada lagi yang negatif, mereka berangkat dari agama kemudian ada yang
menganalisis ini didalangi oleh Kapitalisme sendiri. Karena ada hubungan yang
sangat kuat dan saling menguntungkan. Ini yang terjadi di Saudi Arabia.
Tapi HT di Yordania?
Iya.
Sebetulnya kalau kita melihat akar munculnya itu banyak, dari Gerakan Jami’iyah
Islamiyah, Ikhwanul Muslimin, banyak. Tetapi kemudian bertemu dalam isu penekanan  terhadap Islam. Dulunya Hasan Al-Bana itu baik.
Tetapi ketika sudah kuat lalu membentuk kekuatan politik untuk melawan semuanya.
Jadi
ada dua sisi. Isa gerakan Khiafah atau Kemal kepada hukum Allah. Semuanya bersatu
untuk melawan. Saya curiga semua itu berasal dari Arab. Padahal, sebetulnya
kejahatan Saudi banyak sekali. Amerika tahu betul, tapi dilindungi terus.
Seperti perempuan tidak boleh menyetir mobil
Iya.
Wanita yang ada di tempat umum mau jatuh tidak boleh ditolong, mau mati saja
tidak boleh dibantu. Ada juga yang lebih ekstrim tempat yang baru diduduki perempuan
ketika masih hangat, haram diduduki.
Ini
yang membahayakan bagi kita yang tidak mentoleransi perkembangan budaya,
pluraitas, Kalau bagi NU, yang diwakili Pak Hasim khawatir ini wajar seklai.
Karena nanti, tradisi NU akan hilang. Tidak hanya hilang, karena terjadi
pembasmian dengan kekerasan. Nanti slogan-slogannya adalah kafir, musyrik dan
sebagainya.
Bagaimana
masyarakatnya merespon? Masyarakatnya pun bermacam-macam. Masyarakat kita
sedang susah. Saya tidak suka keharusan memakai jilbab —suatu ketika —sebagai sebuah
identitas perlawanan, bukan sebagai agama.
Seperti
ungkapan Allahu Akbar! Yang justru digunakan untuk menakut-nakuti lawan. Tapi
jangan kepada kita. Tuhan itu yang paling kuat yang paling universal jangan
digunakan sebagai alat legitimasi.

(Emnaz,
Fian, Rovi/Justisia 32)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan