Persoalan Bunga Bank dalam Pandangan Islam

0
Tak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini “Bunga Bank” masih
menjadi persoalan yang diperdebatkan oleh para tokoh islam , ini dikarenakan
kegalauan masyarakat tentang  status
bunga bank itu sendiri. Apakah diperbolehkan (halal) atau sebaliknya (haram)?
dikatakan  Halal karena bukan merupakan
“Riba”, dan dikatakan Haram karena sama dengan riba.
Sebelum membicarakan persoalan tentang status ”Bunga Bank” lebih
jauh, ada baiknya kita memaparkan tentang perbedaan keduanya. Perbedaan yang mendasar dari riba dan bunga bank/rente adalah  bahwa riba diperuntukkan pinjaman yang
bersifat konsumtif, sedangkan bunga bank/rente
untuk pinjaman yang bersifat produktif.
Bunga Bank merupakan ketetapan nilai mata uang
oleh bank yang memiliki tempo atau tenggang waktu, untuk kemudian pihak bank
memberikan kepada pemiliknya atau menarik dari sang pemimjam sejumlah bunga
(tambahan) tetap sebesar beberapa persen, seperti 5% atau 10%.
Dalam prakteknya rente merupakan keuntungan yang diperoleh pihak bank karena jasanya
telah meminjamkan uang untuk memperlancar kegiatan usaha perusahaan/orang yang
meminjam uang tersebut.[1]
Pihak bank menjudgestifikasi dengan bantuan pinjaman dari mereka
tersebut, usaha sebuah perusahaan atau perorangan yang membutuhkan pendanaan
tersebut semakin besar dan maju, dan keuntungan yang diperoleh perusahaan atau
perorangan itupun semakin besar pula. Atas dasar pemberian bantuan keuangan
tersebut itulah, pihak bank memperoleh bagian keuntungan. Sedangkan mengenai
jumlah keuntungan yang akan diperoleh pihak bank tersebut telah ditetapkan
terlebih dahulu dalam akad kredit
yang telah disepakati.
Sedangkan riba sendiri merupakan tambahan
pembayaran atas uang pokok pinjaman tanpa ada ganti atau imbalan yang diisyaratkan
bagi salah seorang dari dua orang yang membuat akad atau transaksi. Al-Jurjani (diskripsi tentang tokoh) merumuskan riba sebagai
kelebihan atau tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan yang
disyaratkan dari salah seorang bagi dua orang yang membuat akad. Mohammad Hatta merumuskan riba sebagai pinjaman yang bersifat
konsumtif sedangkan bunga bank bersifat produktif.
Sementara itu, dalam prakteknya kegiatan riba merupakan kegiatan memeras yang
dilakukan terhadap si miskin yang perlu ditolong agar dapat melepaskan diri
dari kesulitan hidupnya, terutama sekali untukmemenuhi kebutuhan
sehari-harinya. Akan tetapi yang terjadi justru
sebaliknya. Tukang riba datang menawarkan jasa dengan cara memimjamkan uang si
miskin tersebut dengan ketentuan uang harus beranak (berbunga). Semakin lama
hutang tidak dibayar, maka akan semakin besar pula bunga yang dikenakan kepada
si miskin. Dari pemaparan kasus yang terjadi di atas dapat dikatakan
bahwa rente dan riba itu sangat berbeda.

[1] Dr.Suhrawardi K.Lubis, SH., Sp.N.,M.H, Farid Wajdi, S.H, M.Hum, Hukum Ekonomi Islam (hal 29)
Persoalan Bunga Bank dalam Pandangan Islam – Maulida Risqie/IAIN Walisongo

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan