Seputar Muamalah

0
Oleh: Etik Sulistiowati
Mahasiswi Jurusan Muamalah Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Walisongo Semarang
Cara jual beli,
sewa menyewa, pinjam meminjam dan suatu usaha lain yang berkaitan dengan hukum
yang mengatur berbagai transaksi ekonomi disebut dengan mualamah.
Muamalah
merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur antara seseorang dengan orang
lain dalam hal ekonomi Islam. Hukum Islam yang termasuk muamalah itu sendiri
hanya menyangkut permasalahan hak dan harta yang muncul dari transaksi antara orang
satu dengan orang lain atau antara seseorang dengan badan hukum atau antara
badan hukum yang satu dan badan hukum yang lain.
Muamalah memberikan
tuntutan secara global dalam transaksi yang dijalankan secara sukarela atau tanpa
paksaan dari pihak manapun. Selain itu, muamalah dilakukan antara kedua belah
pihak yang dilandasi dengan niat baik agar kecurangan dapat dihindari.
Dalam kehidupan
sehari-hari hendaknya menerapkan implementasi transaksi ekonomi Islam, misalnya
dengan hal jual beli barang, sewa menyewa dan kerja sama dagang. Firman Allah
SWT: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al Baqarah : 275).
Problematika
jual beli yang
terlarang dan tidak sah diantaranya adalah jual beli barang najis, jual beli
anak hewan yang masih berada dalam perut induknya, jual beli yang ada unsur
kecurangan. Hal demikian dalam al-Qur’an tidak diperbolehkan.
Ketika orang mengadakan perjanjian atau sewa menyewa
antara dua orang atau lebih harus menetapkan hak milik bersama, misalkan  “firma” persekutuan dua orang atau lebih berdagang
bersama-sama dalam satu nama, mereka bertanggung jawab secara bersama terhadap
perdagangannya, sehingga semuanya bekerja penuh pada perusahaan yang
dijalankannya.
Dalam hukum Islam pinjam meminjam diperbolehkan
asalkan mencari kemanfaatan dan kegunaan. Orang yang meminjamkan syaratnya
berhak berbuat kebaikan sekehendaknya, manfaat barang yang dipinjam dimiliki
oleh yang meminjamkan, yang meminjam berhak menerima kebaikan dan pada saat
mengembalikan barang tersebut tidak rusak atau cacat. meminjamkan sesuatu
adalah sunat. Akan tetapi kadang hukumnya wajib dan kadang-kadang juga haram.
Hukumnya wajib contohnya yaitu meminjamkan pisau untuk menyembelih hewan yang
hampir mati. Dan hukumnya haram contohnya sesuatu yang dipinjam untuk sesuatu
yang haram.
Ada lagi kasus kasus hal muamalah lebih baik menabung
di bank konvensional daripada di bank syariah orang yang mempunyai pandangan
berbeda, bahwa setiap orang mempunyai argumen tersendiri dan kemauan sendiri.
Setiap perusahaan satu dengan perusahaan yang lain tergantung siapa yang yang
memimpin. Bank syariah itu bank yang menggunakan syariat-syariat Islam berbeda
dengan bank konvensional.
Bank syariah

Bank Islam menghindari unsur riba berdasarkan syari’ah.
Agar tidak terdapat unsur riba, nasabah yang mengadakan akad perjanjian dapat
menjalankan seperti mudharabah atau qirad, sirkah atau perseroan atau penitipan
uang.
Dengan
adanya bank syari’ah maka umat Islam dapat menghilangkan keragu-raguannya dalam
melakukan transaksi. Selain itu, hikmahnya dengan adanya bank syari’ah mempermudah
umat Islam dalam menjalankan syari’at khususnya dalam  perekonomian, dapat menghindari unsur riba.
Misalnya
saja bank konvensional memberikan pinjaman pembelian rumah sebesar Rp 200 juta kepada
si peminjam dan memberikan kesempatan kepada si peminjam untuk mencicil selama
30 tahun.
Mungkin ada
yang bertanya berapa bunga per tahun. Anggap saja bank konvensional  memberikan kadar bunganya sebesar 2% per
tahun. Dengan diketahui bunga ini, si peminjam bisa menghitung harga rumah yang
perlu dibayar setelah 30 tahun yaitu sebesar Rp 200 juta + Rp 120 juta = Rp 320
juta. Tunggu dulu
perhitungan dia atas kurang tepat. Kenapa?
Saya akan
menjelaskan kenapa perhitungan kurang tepat, karena bunga yang harus dibayar
setiap tahun tergantung kepada BLR (base lending rate) yang tidak tetap.
Kalau tahun ini bunga sebesar 2%, apakah sudah pasti  bunga tahun depan  juga 2%? Tidak ada yang bisa menjamin, karena
itu tergantung dari BLR yang sering berubah-ubah. Pertanyaan bisakah BLR dibuat
stabil dalam rentang waktu yang lama hingga puluhan tahun?
Saya memperhatiakan
BLR  dari tahun 1991-2006 melambung
diatas 8%. Ini berarti selama 3 tahun anda harus membayar bunga yang sangat
tinggi. Dalam keadaan krisis ekonomi, kemungkinan besar gaji Anda tidak naik
selama beberapa tahun, sedangkan biaya hidup semakin meningkat. Belum lagi
cicilan rumah yang tiba-tiba meningkat setiap bulannya. Kalau anda terlambat
membayar, Anda bisa dikenakan penalti yang tinggi oleh pihak bank dan jumlah
pinjaman pokok anda bertambah, dari yang semula Rp 200 juta menjadi Rp 320 juta.
walaupun BLR turun kembali, tidak banyak manfaat kepada Anda lagi, karena
pinjaman pokok Anda naik.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan