Korelasi Budaya Sunda dan Islam

0
Oleh Siti Nur Halimah

Mahasiswi Penerima Beasiswa Unggulan Sekolah Tinggi Ekonomi Perbankan Islam Mr. Sjafrudin Prawiranegara Jakarta
Budaya Sunda di era kontemporer bisa
dikatakan semata-mata di-dasarkan pada 
ajaran agama Islam. Beragam prosesi pelaksanaan adat Sunda, baik yang
mentradisi secara lisan maupun yang membudaya secara tulisan, yang biasa
diimplementasikan pada perayaan momen-momen tertentu dan bisa juga pada
hari-hari biasa memiliki keselarasan dengan nilai-nilai keislaman.
Dengan adanya banyak hal yang merupakan
manifestasi dari budaya Sunda dan sangat sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam
mengimplikasikan terjadi semacam akulturasi pada ranah-ranah tertentu antara Sunda
dan Islam. Dikatakan demikian karena memang ada banyak bagian dari budaya Sunda
yang juga merupakan kebiasaan umat muslim.
Islam dan Sunda
Di antara hal-hal
yang dianggap memiliki interelasi antara budaya Sunda dan kebiasaan umat Islam
adalah seperti
yang telah dipraktekan oleh Sunan Kali Jaga dalam proses penyebaran dakwah
Islam. Suksesi dakwah Sunan Kali Jaga melibatkan budaya Sunda yakni wayang
golek.
Dengan demikian ini, pengikut Islam
menjadi banyak, dan dominasinya adalah orang Sunda. Karena orang Sundalah yang
tentunya lebih memahami mengenai perwayangan, dan tidak pasti dipahami oleh
orang selain Sunda, kecuali mereka telah menyaksikannya dalam beberapa kali
pertunjukan.
Dengan poal hubungan yang saling
menguatkan ini,meniscayakan pandangan hidup dan pola fikir masyarakat Sunda menjadi
berbanding lurus dengan Islam.
Hanya saja tidak semua masyarakat Sunda
menerapkan hal ini dan tentu saja karena ada alasan yang cukup kuat yakni adasejarah
yang menceritakan bahwa pada awal masa penjajahan tidak hanya Islam saja yang
berhasil mendekonstruksi pemahaman masyarakat Sunda mengenai konsep theologi
(ketuhanan), namun ada juga agama lain yang terhitung cukup sukses dalam
mempengaruhi masyarakat Sunda. Seperti, Hindu, Budha, dan agama lain sebagainya
yang sengaja singgah di tatanan pasundaan dengan visi misi mengajak masyarakat
Sunda untuk mengikuti ajaran mereka.
Namun dari sekian banyaknya ajaran yang
berusaha mempengaruhi,  yang memiliki
pengaruh paling besar adalah Islam. Sehingga, pandangan hidup
masyarakat Sunda yang tercermin dari tradisi lisan dan sastra Sunda. Seperti peribahasa, istilah, pepatah, serta pameo, yang dibudayakan secara
turun-temurun oleh masyarakat Sunda, baik didesain secara sengaja ataupun tidak,realitanya
senada dengan ajaran Islam,hal ini pun semakin memperkuat asumsi bahwa Budaya
Sunda dan pola hidup umat Islam memang memiliki banyak kemiripan.
Misalnya saja, pameo “silih asih, silih asah, dan silih asuh” yang
berarti saling mengasihi, saling berbagi ilmu, dan saling melindungi. Pada
hakekatnya pameo Sunda ini berbanding lurus dengan hal-hal yang dicontohkan
oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suri tauladan sekaligus pedoman bagi
seluruh umat Islam dalam bertindak. Bedanya, Budaya Sunda tidak berdasarkan
hadist sedangkan Islam segala hal selalu dimuarakan pada Qur’an dan Hadist.
Meskipun Budaya Sunda tidak berdasarkan hadist ataupun menggunakan bahasa khas
keislaman, akan tetapi pandangan hidup orang Sunda cukup sesuai dengan ajaran
Islam.
Hal lain yang juga merupakan kemiripan
dari budaya Sunda dan Islam terlihat dari mahar dalam pernikahan masyarakat Sunda.
Di Sunda, orang cenderung tidak pusing atau bahkan stres karena memikirkan
tuntutan biaya mahar yang terlalu besar, sehingga terkadang mengakibatkan
lestarinya perawan tua dan bujangan lapuk.Di Sunda tidak sedemikian ketatnya,
cukup dengan seperangkat alat shalat saja sudah dapat menikah. Implikasinya ada
gurauan istilah “kalau mau nikah ke Sunda dulu,” karena saking tidak terlalu
beratnya kadar ukuran mahar. Hal ini telah menunjukan bahwa betapa Sunda telah
banyak dipengaruhi oleh ajaran Islam yang menganjurkan kepada para perempuan
yang akan dipinang agar meminta mahar yang sesuai dengan kadar kemampuan mempelai
pria.
Imam Bukhari dan Muslim pernah
meriwayatkan suatu hadist terkait mahar bagi perempuan, yakni yang “Diriwayatkan
dari Sahal bin Saad bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW minta
dinikahkan. Namun laki-laki yang akan menikahinya tidak memiliki harta apa-apa.
Rasulullah SAW bertanya,”Apakah kamumemiliki sesuatu yang bisa kamu
jadikan mahar untuknya?.” Orang itu menjawab,”Saya hanya punya satu
sarung ini saja.” Nabi berkata, bila kamu berikan sarungmu itu kamu tidak
punya sarung lagi.” Berikan sesuatu walaupun hanya cincin dari besi.”
Orang itu menjawab lagi. “Saya benar-benar tidak punya apa-apa.” Maka
Nabi berkata,”Apakah kamu hafal barang sesuatu dari ayat Al-Qur’an?.”
“Ya, saya hafal surat anu, anu dan anu.” Nabi bersabda,”Aku
telah nikahkan kamu dengan apa yang kamu hafaldari Al-Qur’an.”
Hadist ini menjelaskan betapatidak
membebankanketentuan mahar dalam Islam. Dan inilah yang merupakan kesetaraan pemahaman
yang mengintegrasikan antara Islam dan Sunda.
Patut ditiru

Karena itu, terutama dalam konteks
Sunda yang berada dalam situasi “banyak tatanan”, diperlukan upaya
mempertahankan keselarasan Sunda dan Islam. Karena jika ditinjau dari aspek
sosial, pola hubungan yang baik antara budaya dan agama dapat meniscayakan hadirnya
kedamaian yang baik pula. Bahkan semuanya akan lebih baik lagi jika hal ini
ditiru oleh kebudayaan-kebudayaan lain, agar perdamaian sejati antara budaya
dan agama tidak hanya hidup di wilayah pasundaan saja namun di setiap Suku
Bangsa yang ada di Indonesia, tanpa kecuali.Wallahu  a’lam 
bi  al-shawab
.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan