Sekedar atau Sekadar?

0
Sekedar atau sekadar?
Hamidulloh Ibda.Islamcendekia.com.dok

Semarang,
Islamcendekia.com –

Jika dihimpun, saat ini banyak sekali bahasa salah kaprah
kita gunakan, baik bahasa lisan maupun tulisan, salah satunya adalah “sekadar”.
Selama ini kita sering menggunakan bahasa “sekedar”, padahal yang benar adalah “sekadar”.
Ini harus dipahami serius, karena sebagai manusia Indonesia, kita harus beriman
dan bertakwa pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Menurut
Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah ini, bahasa itu
adalah simbol intelektual seorang. “Jika bahasanya saja baik, benar dan indah,
merekalah intelektual sejati, begitu pula sebaliknya”, tuturnya kepada Islamcendekia.com saat Diskusi Budaya dan Bahasa di SMARTA School Semarang, Rabu (5/3/3014).
Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara gamblang menjelaskan bahwa kata dasar “kadar”
itu artinya dibagi empat. Pertama, kuasa, kekuatan.
Kedua, ukuran untuk menentukan suatu norma. Ketiga, kadar atau “mengadar” (Jawa)
artinya tidur di luar rumah/halaman. Keempat, kain tenunan sendiri untuk
dipakai sendiri. Jadi, kata sekadar sudah jelas, bahwa kata
dasarnya adalah “kadar”. Jika “sekadar” berarti “1 kadar”, dan tidak ada kata
dasar “kedar” di kamus mana pun.  
Menurut mahasiswa konsentrasi Pendidikan Bahasa Indonesia Program
Pascasarjana Unnes ini, banyak dosen, doktor bahkan profesor masih salah
melafalkan “sekadar”. Pasalnya, tingkat pengetahuan mereka terhadap bahasa
masih kurang dan masih apatis terhadap bahasa. “Padahal, kata dasar kedar itu
tidak ada, yang ada adalah kadar yang menjadi sekadar,” imbuhnya.
Dalam KBBI, sekadar itu artinya sesuai, seimbang, sepadan dan
seadanya. Namun, pengertian yang paling mudah adalah menurut Prof Dr Rustono,
MHum salah satu guru besar Bahasa Indonesia FBS Unnes. Beliau pernah
menjelaskan bahwa kadar itu artinya “derajat”. Jadi, sekadar itu berarti “1
derajat”. “Jika ala kadarnya, berarti serendah-rendahnya, atau seadanya,”
pungkas pemuda asal Pati tersebut.
Di akhir wawancara, Hamidulloh Ibda menyimpulkan bahwa yang benar
adalah “sekadar” bukan “sekedar”,
“sekadarnya” bukan “sekedarnya” dan “ala kadarnya” bukan “ala kedarnya”. “Jadi, sejak Anda tahu kebenaran kata
sekadar, maka rubahlah ucapan dan tulisan yang Anda tulis, agar tidak semakin
menyesatkan manusia,” terangnya. Karena ilmu seperti ini sangat sederhana,
lanjutnya, namun banyak orang yang tidak paham dan tidak mau paham.
(DMW).

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan