SMARTA School Semarang Kaji Metode Mengajar ABK

0

Dian Marta Wijayanti, Direktur Smarta School
SEMARANG, Islamcendekia.com – 

Anak Berkebutuhan
Khusus atau sering disebut ABK perlu perhatian ekslusif, baik dari orang tua maupun
guru. Mereka harus diperlakukan berbeda dari anak-anak normal, karena kebutuhan
mereka sangat berbeda dengan anak nomal. Demikian yang disampaikan Dian Marta
Wijayanti, Direktur Eksekutif SMARTA School Semarang saat ditemui Islamcendekia.com,
Jumat (28/3/2014) di Jl. Menoreh II RT 3 RW 5 Kota Semarang.

Menurut Dian yang juga guru SDN Sampangan 1, mengajar ABK itu harus
sabar dan telaten. “Jurus utama mengajar ABK adalah ikhlas lahir dan batin,”
tuturnya. Karena, lanjutnya, mereka itu sangat nakal,  menggemaskan dan
kadang bertindak semaunya.
Mantan guru Homeschooling ANSA School Semarang ini juga berpendapat
bahwa tidak semua anak diperlakukan sama. Artinya, ABK itu ibarat tanaman yang
butuh air dan pupuk khusus agar perkembangannya tidak terhambat. “Mereka itu lucu, tapi memiliki potensi yang harus diketahui guru dan orang tua agar tidak
salah kaprah,” ujarnya. Semua SLB, Bimbel, maupun lembaga pendidikan, lanjutnya,
harus memiliki blueprint khusus ABK agar mereka dapat berakselerasi
dengan baik. “Jika tidak, maka perkembangan mereka akan terhambat,” tandanya.
ABK itu perlu penanganan khusus tidak seperti anak normal. Mereka memang
beda, ada yang kesulitan belajar autis, down syndrom, hiperaktif, cerdas
istimewa, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,
berbakat istimewa, indigo, dan sebagainya. “Jika tidak mengetahui kebutuhan
ABK, maka masa depan mereka akan terancam. Inilah yang harus dipahami guru,
baik guru sekolah formal maupun non-formal,” tandas Dian yang juga lulusan
terbaik PGSD Unnes tersebut.
Secara umum, ABK dipahami sebagai anak-anak yang
memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya. “Karena itu, selaku pemilik bimbel, kami siap
mendidik ABK dengan sabar dan telaten, karena mereka memiliki hak sama terhadap
perkembangan dan pendidikan,” katanya.
Meskipun sekarang sudah ada SD-SMA LB, namun pendidikan
ABK seharusnya ditambah dari bimbel. “Meskipun sederhana, namun hal itu akan
mendongkrat daya pikir dan kreativitas ABK. Karena terbukti, banyak ABK
berprestasi dibandingkan anak-anak yang normal,” pungkas Dian yang juga
mahasiswa pascasarjana Unnes itu. Selaku guru dan pemerhati pendidikan, Dian berharap
agar pemerintah serius dan peduli terhadap ABK.
Reporter: Hamidulloh Ibda

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan