Buku Stop Pacaran Ayo Nikah Dibedah di HMI Komisariat Unnes Konservasi

0

Bedah Buku Stop Pacaran, Ayo Nikah!

SEMARANG, Islamcendekia.com – Buku Stop Pacaran Ayo Nikah! karya
Hamidulloh Ibda, pada Sabtu (5/4/2014) dibedah oleh HMI Komisariat Unnes
Konservasi yang bertempat di Pondok Pesantren Almadina, Ungaran, Kabupaten
Semarang.

Bedah buku yang dirangkai dengan Latihan Kader I ini dihadiri langsung
Hamidulloh Ibda penulis buku. Dalam pemaparannya, pacaran itu berasal dari kata
pacar yang artinya kekasih dan pacaran adalah segala aktivitas berkasih sayang.
Menurut mahasiswa Pascasarjana Unnes itu, pacaran sebenarnya tidak ada dalam
hukum Islam. Karena Islam hanya mengenal nikah, khitbah, zina dan talak.
“Artinya, untuk membuat hukum pacaran, maka harus dianalogikan sesuai
terminologi Alquran. Kata pacar tidak ada dalam Alquran, maka sesuai kaidah
usul fikih, hal itu harus dikiyaskan seperti hukum bunga bank,” tuturnya.
Di dalam buku ini, lanjutnya, terdapat tiga hukum pacaran, yaitu halal,
haram dan subhat. “Saya tidak mempermasalahkan hukum pacaran, karena
hakikatnya, pacaran hanyalah alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi,”
tandasnya. Penulisan buku ini juga tidak sembarangan. “Bapak Saya di rumah
bertugas sebagai penghulu dan pegawai KUA, sebelum penulisan buku, sudah Saya
diskusikan dengan beberapa petinggi KUA di tempatku,” tuturnya.
Maka dari itu, jika Anda berpacaran namun semakin jauh dengan Tuhan dan
Anda melakukan kejahatan cinta, maka Anda lebih baik tidak pacaran. Namun jika
dengan pacaran Anda menemukan retorika untuk berbuat baik lebih banyak lagi dan
mampu menahan nafsu, maka hal itu sah-sah saja. Karen hakikatnya, pacaran
hanyalah alat, seperti halnya facebook. Maka, baik dan buruknya tergantung
pelakunya.
Menutur Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng ini, apa saja
boleh dilakukan, asal hasilnya menambah takwa dan mendekatkan diri pada Tuhan
termasuk pacaran. Namun apa saja menjadi tidak boleh bahkan celaka jika
hasilnya menjauhkan diri dari Tuhan. 
Dalam kesempatan itu, hadir pula Dian Marta Wijayanti, guru SDN
Sampangan 1 dan M Kholil Syaroni Direktur BPL HMI Cabang Semarang selaku
pembedah. Dalam pemaparannya, Dian menyatakan kekurangan buku tersebut terletak
pada pemilihan bahasa yang kadang terlalu kasar bagi orang yang tidak paham
bahasa. 
“Buku itu hakikatnya dibaca semua orang dengan berbagai latar belakang,
namun pada Bab III dalam buku ini sangat sensitif jika dibaca banyak orang
karena menyoal etika bersenggama dan cara mendapat kenikmatan ketika
bersetubuh,” tuturnya. Selaku pembedah dari sudut pandang pendidikan, Dian
menuturkan bahwa buku seperti ini sangat cocok untuk penanaman karakter bagi
remaja.
M Kholil Syaroni selaku pembedah perspektif hukum Islam juga
menambahkan bahwa pacaran itu tidak ada hubungannya dengan Islam. “Jadi,
istilah pacaran islami itu adalah omong kosong,” tuturnya.
Dalam sesi terakhir, Ibda yang juga mantan Direktur Utama LAPMI Tuntas
Semarang itu memberikan motivasi kepada hadirin agar tidak takut bercinta. “Semoga
setelah acara ini, Anda semua menemukan retorika baru dalam melakukan
percintaan,” pungkasnya.
Reporter: Nailul Mukorobin

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan