Guru dan Media Massa

0

Oleh Dian Marta Wijayanti, SPd
Guru SDN
Sampangan 1 Kota Semarang, Tim Asesor USAID PRIORITAS Jawa Tengah, Penulis Jurnal Edukasi Unnes 2013
Guru adalah kaum intelektual yang wajib menulis.
Karena dengan menulis di media massa, hal itu menjadi “simbol intelektual”. Apa
maksudnya? Selain meneliti, menulis jurnal, karya ilmiah, guru juga harus
menulis di media massa sebagai syarat peningkatan kompetensi.
Tulisan guru juga membuktikan intelektualisme, daya
pikir dan “melek teknonologi.” Jika tak bisa menulis, maka guru sama saja “gagap teknologi”.
Padahal, pendidik dilarang bodoh, gagap dan tidak peka terhadap isu-isu
pendidikan.
Saat ini banyak guru mulai menulis artikel di media
massa. Pasalnya, tak hanya mengabdi dan mengajar di sekolah, menulis artikel di
media massa juga dapat menaikkan pangkat guru. Maka tidak heran jika banyak
artikel yang ditulis guru dengan beragam tema dan topik.
Selama ini banyak guru yang kewalahan dengan kebijakan
melakukan penelitian dan publikasi tulisan. Namun, solusi baru telah menjawab
kegalauan banyak guru, kini menulis artikel di media massa mendapat poin. Maka,
hal ini menjadi secercah angin segar bagi guru yang mau dan mampu menulis.
Guru Digital
Globalisasi menghadapkan guru pada perkembangan zaman yang harus diimbangi dengan ilmu dan teknolonogi. Tuntutan guru “berwawasan digital” menjadi sebuah kewajiban. Dengan banyaknya sekolah berlangganan
media massa/koran, hal itu menjadi sarapan ilmu para
guru. Selain menambah pengetahuan, tulisan di media
massa juga mampu menjadi inspirasi mengajar. Seperti di Suara Merdeka, guru
telah diberi rubrik khusus setiap hari Sabtu untuk menyampaikan gagasannya
dalam bentuk tulisan.
Seharusnya hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk
tidak hanya “membaca” tapi juga “menulis”. Namun sayangnya, belum banyak guru
berani menuliskan idenya di media massa. Entah karena tidak PD (percaya diri)
atau masih terbelenggu dalam “kemalasan”.
Penyakit seperti ini harus segera diberantas. Pasalnya, guru adalah
profesi yang menginspirasi banyak orang. Di sekolah, anak-anak diajarkan guru
untuk bercita-cita seperti dokter, polisi, hakim dan sebagainya. Maka tidak
bijak sebagai idola anak didik jika kita hanya sebagai “konsumen” bukan
“produsen” tulisan.
Pers telah memberi peluang bagi semua kalangan untuk
menyampaikan opini melalui rubrik yang telah disediakan. Banyak koran yang
mampu menginspirasi orang lain melalui tulisannya. Baik itu motivasi untuk
membantu, bertukar pikiran, maupun ruang diskusi. Maka, guru harus mengambil
peran dalam hal ini.
Dengan menulis, guru bisa memberikan kritik membangun,
masukan, solusi atas problem pendidikan yang sedang terjadi. Karena tidak
dipungkiri, tidak semua masyarakat peduli dengan perkembangan dunia pendidikan
meskipun mereka memiliki anak. Sekolah dianggap sebagai formalitas, tanpa
memperhatikan permasalahan yang muncul dan tampak. Padahal, terkadang anak
mereka sendiri mengalami dan menjadi korban dari permasalahan global. Tidak
hanya itu, guru juga dapat mentransfer gagasannya sebagai dokumen riil yang
tidak hanya “omong kosong” kemudian hilang tanpa kelanjutan.
Pacu Menulis
Memulai sesuatu yang belum pernah dilakukan memang
tidak mudah. Tapi akan tidak mudah lagi jika ketakutan itu dibiarkan
terus-menerus melanda, sama halnya dengan menulis di media massa. Bagi guru, perlu adanya
keberanian untuk siap tulisan ditolak redaksi maupun diterima hingga dibaca
banyak orang.
Pertama, menumbuhkan rasa percaya diri. Ini sangat penting
dimiliki dalam segala hal, begitu pula dengan menulis. Bagi seorang guru,
berdiri setiap hari di depan siswa untuk menyampaikan materi adalah hal biasa.
Tapi terdiam beberapa menit untuk sekadar merangkai tulisan menjadi artikel
yang menarik sering kali menjadi momok besar.
Maka, menulis menjadi keniscayaan dan ketulusan. Perlu
adanya ketulusan agar tulisan itu tidak sekadar suatu “tuntutan” tapi juga “tuntunan”.
Menurut Saya, “menulis itu sama halnya berbicara melalui tulisan”.
Kedua, guru harus membaca sebelum menulis. Artinya,
dua hal ini merupakan dua dari empat keterampilan berbahasa yang saling
berkesinambungan. Dengan membaca pengetahuan guru akan semakin luas. Guru juga
dapat mempelajari tipe tulisan yang dimuat media massa. Sehingga, jika guru mau
menulis tentu sebutan “guru adalah siswa sepanjang masa” tidaklah salah.
Ketiga, guru
memilih topik yang sedang hangat dibicarakan. Seringkali seseorang ingin
menulis tapi bingung dengan apa yang ingin ditulis. Guru dapat memilih
topik-topik hangat tentang dunia pendidikan yang tidak jauh dari mereka.
Tentunya materi-materi itu telah guru kuasai baik substansi maupun isunya.
Keempat, belajar dengan rekan sejawat yang memiliki
hobi menulis akan menjadi tahap yang menyenangkan. Guru yang profesional
seharusnya mau berbagi dan bertanya tentang hal-hal yang belum diketahui.
Dengan begitu, rasa percaya diri akan tumbuh dan motivasi menulis akan semakin
besar.
Sebagai idola, guru adalah artis yang tak akan pernah
padam. Melalui pengabdiannya mencerdaskan bangsa, motivasi dan inspirasi telah
disalurkan guru kepada siswa-siswinya. Maka, untuk mengembangkan kompetensi,
guru seharusnya tidak hanya mengajar tapi juga menulis. Dengan menulis, guru
tidak hanya mengajar siswa. Tapi, guru mengajar banyak pembaca sebagai
inspirasi kehidupan mereka.
Apalagi, di era digital seperti ini menulis adalah hal
mudah dan murah. Meskipun menulis bukan segalanya, namun segalanya bisa berawal
dari tulisan. Salah satunya peningkatakan kualitas, kompetensi dan kenaikan
pangkat guru. Saatnya guru menulis!

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan