Hamidulloh Ibda Beri Ceramah Stop Pacaran Ayo Nikah!

0
SEMARANG, Islamcendekia.com – Buku fenomenal berjudul Stop Pacaran, Ayo Nikah! karya Hamidulloh Ibda yang terbit dan laris manis sejak Januari
2014 lalu, pada Sabtu (5/4/2014) dibedah di
Pondok Pesantren Almadina, Ungaran, Kabupaten Semarang.
Ibda memberikan ceramah stop
pacaran ayo nikah dalam rangkaian bedah buku yang juga dihadiri dua pembedah, Dian
Marta Wijayanti (guru SDN Sampangan 1 Semarang) dan M Kholil Syaroni.
Banyak peserta mengapresiasi buku tersebut. Menurut mereka, yang memberi mahar buku itu hanya orang hebat, seperti Hatta dan Apung Widadi.
Hamidulloh Ibda Beri Ceramah Stop Pacaran Ayo Nikah
Sebenarnya, buku ini buku pribadi
yang rencananya akan Saya jadikan mahar pernikahan. Namun karena banyak
teman-teman aktivis meminta segera menerbitkan dan banyak yang ingin membaca,
akhirnya aaya terbitkan pada Januari lalu.
Demikian yang disampaikan Hamidulloh
Ibda di awal pemaparannya. Stop pacaran dalam hal ini artinya tidak melarang pacaran. Namun, judul tersebut menginformasikan berhenti sejenak jika Anda berpacaran melebihi batas.
Artinya, jika Anda pacaran namun mengeksploitasi pacar Anda, maka lebih baik hentikan secepatnya. Pasalnya, jika sudah menikah, Anda bisa pacaran dengan istri Anda sepuasnya, bahkan sampai mati.
Memang Saya belum nikah,
lanjutnya, namun orang menulis tentang nikah tak harus nikah dulu. Idealnya memang
demikian. Akan tetapi, jika Anda ingin menulis tentang Tuhan, apakah Anda harus
jadi Tuhan dulu?
Tentu tidak. Maka, dalam hal ini Saya fokuskan ke kajian
pacarannya saja. Karena sebenarnya, buku ini buku pribadi dan tidak Saya
komersilkan dan terbitnya juga sebenarnya Juni 2014 nanti.
“Pacaran itu ibarat pisau yang
bisa membuat kita beruntung, namun juga bisa membunuh kita,” tutur Ibda yang
juga mahasiswa Pascasarjana Unnes. Buku ini, sebenarnya Saya tulis secara pribadi untuk memotivasi Saya segera menikah. Jika sudah stop pacaran, ayo nikah!, maka selanjutnya Anda bisa stop nikah, ayo pacaran,” ungkap Ibda.
Karena menurut Ibda, menikah yang baik adalah satu kali seumur hidup. Jika poligami, itu harus menunggu istri Anda mati dulu. Artinya, jika istri Anda meninggal dunia, Anda baru diperbolehkan poligami.
Berbicara pacaran, memang tidak akan pernah
selesai jika dibahas. Semua tergantung point of view, paradigma, angle
dan paradigma yang Anda gunakan. “Jika dengan pacaran Anda semakin parah,
maka lebih baik hentikan sekarang juga dan menikahlah. Pasalnya, menikah itu
nikmatnya 10 persen, sedangkan yang 90 persen enak banget,” tandanya.
Selain itu, dalam bedah buku ini
juga dibicaran RKHUP kumpul kebo yang sampai detik ini belum dilegalkan,
terutama zina lajang. “Ke depan, bagi Anda yang mahasiswa hukum bisa meneliti
RKHUP zina lajang sebagai skripsi bahkan tesis dan disertasi,” tuturnya. Dalam bedah buku ini, peserta pun beragam, mereka
berasal dari beberapa fakultas.
Saat sesi terakhir, Ibda
memberikan pilihan kepada semua peserta, memilih pacaran, menikah atau
kucing-kucingan. Semua orang berhak dan punya pilihan masing-masing. “Pacaran atau
tidak sebenarnya keputusan pribadi, namun jika ingin mencari kemuliaan di
hadapan Tuhan dan manusia, maka pacaran yang Anda lakukan harus diselimuti
baju pernikahan,” jelasnya.
Setelah bedah buku ini, Anda
harus tentukan dan putuskan, memilih pacaran atau tidak. Anda punya pilihan! Karena
semua pilihan ada tanggung jawabnya. Reporter: Nailul Mukorobin

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan