Hilangnya Nilai Seksi Organisasi

0
Oleh Erna Sunarti, S.Pd
Ketua Umum Kohati HMI Cabang Semarang periode 2011-2012
Masih sangat ingat
kita dengan peristiwa 1998. Gerakan massif mahasiswa yang mampu merubah pola
berfikir bangsa ini 180%. Kediktatoran yang dijalankan selama kurun waktu 32
tahun diganti dengan demokrasi merata. Mahasiswa sebagai insan terdidik dan
memiliki sensifitas tinggi terhadap permasalahan bangsa menangkap ada sebuah
keganjilan yang melanda bangsa ini dan harus segera diatasi.
Melalui
kemampuan intelektualitas, seyogyanya mampu menangkap perasaan rakyat akan
pentingnya kesejahteraan dan demokrasi, yang adil dan merata, sebagai
konsequensi logis dari Negara merdeka dan berdaulat. Dan akhirnya mahasiswa mampu melakukan perubahan itu,
turunnya dinasti diktator menjawab seluruh perjuangan mereka.
Organisasi sebagai
wadah bagi mahasiswa yang mana mereka memiliki sistem manajemen untuk mencapai
tujuan bersama. Dalam wadah inilah, mahasiswa dilatih berbagai macam
keterampilan yang membuat mereka memiliki keunggulan tersendiri dibanding yang
tak aktif di organiasasi.
Permasalahan yang
sekarang ini kita hadapi adalah hilangnya nilai-nilai “seksi” organisasi di
mata mahasiswa. Sehingga membuat organisasi mengalami “degradasi kuantitas”
kader. Mahasiswa sekarang lebih memandang sebelah mata organisasi. Kesan nothing and useless dilekatkan pada
organisasi. Apa penyebabnya?
Mari sejenak kita urai
permasalahan mendasar ini. Organisasi mahasiswa sebagai wadah berpijak dan
menjalankan aktivitas keumatan. Organisasi mampu memberikan perubahan dan
solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Berkumpulnya aktivis, harusnya
mampu membahas apa kebutuhan masyarakat. Mereka bukan hanya berkumpul, tetapi harus
berkualitas dan menghasilkan sesuatu untuk dijalankan bersama atas tujuan
bersama.
Masih adakah organisasi
yang setia melakukan perkumpulan-perkumpulan seluruh anggotanya? Jawabannya “masih
ada”. Tetapi bukan semua anggota organisasi, melainkan hanya mereka yang masih menjalankan
ideologinya. Kebanyakan orangnya sama, ini yang membuat organisasi tidak berjalan
maksimal karena hanya segelintir orang yang mau benar-benar aktif menjalankan
roda organisasi. 
Kedua adalah terkait
masalah akademis. Sebagai organisasi mahasiswa tentunya angotanya adalah
mahasiswa. Mereka sebagai insan akademis harus bertanggung jawab atas nilai
akademis di kampus. Selalu menjadi dogma yang menyesatkan bahwa mahasiswa yang
aktif organisasi adalah mereka yang dengan setia menungui kampus dan lulus kuliah
paling akhir dan IPK tak penting dalam dunia kerja. Jadi, mereka tak perlu memiliki
IPK tinggi karena telah memiliki hal lebih dibanding IPK. Lalu, bagaimana
organisasi dapat menarik minat para mahasiswa untuk bergabung di dalamnya jika
tak ada nilai lebih dari para anggotanya?
Organisasi tak lagi
mampu menjawab student’s need and
student’s interest.
Kebutuhan mahasiswa akan ilmu pengetahuan dan skill
kurang diperhatikan. Organisasi kemahasiswaan telah kehilangan arahnya.
Parahnya lagi sudah tidak bisa dibedakan lagi antara organisasi mahasiswa dan
LSM. Memurnian gerakan organisasi mahasiswa lebih sering ditumpangi kepentingan
segelintir orang. Ini salah satu faktor hilangnya nilai lebih organisasi.
Selanjutnya lebih jauh
lagi organisasi mahasiswa tidak memiliki platform
gerakan jelas. Visi yang kemudian bisa diejawantahkan dalam setiap gerakannya.
Ini yang memberikan karakteristik bagi organisasi mahasiswa seperti yang
dikatakan oleh motivator kondang Indonesia Ary Ginanjar dalam
bukunya “Emotional Spiritual Quotient”, bahwa visi diperlukan untuk menjadi
semangat juang para kader untuk mencapai tujuan bersama.  Karakteristik gerakan mahasiswa yang independen
dan condong akan kebenaran yang perlu dijelaskan kembali lewat
kegiatan-kegiatan yang nyata.
Maka, seharusnya organisasi
menjadi wadah pendewasaan mahasiswa. Ladang berproses, dan memberikan nilai
lebih. Organisasi harus dikembalikan pada nilai dasar keberadaannya mulai dari tiga
hal di atas. Maka, mahasiswa juga akan tetap menempati tahta tertinggi sebagai agent of social change dan agent of social control.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan